Postingan

Soca

Kata emak, hari ini mata kanan bapak sudah melihat cahaya. Sudah nyaris tiga minggu hal itu tak bisa dilakukannya. Mata kanan bapak tertutup, seperti kuncup bunga yang belum mekar. Rapet. Sulit dibuka. Kalau dipaksa, rasanya sakit, katanya. Tiga minggu yang lalu itu, bapak sedang di kebun. Seperti biasa, kalau tak kerja bangunan, bapak akan menghabiskan waktunya untuk menengok kebun. Memeriksa tanaman, mengambil apa yang bisa diambil, membersihkan semak-semak, atau apa saja yang sekiranya bisa dilakukan di sana. Hari itu pun sama. Pagi-pagi bapak pergi ke kebun. Berjalan kaki, melewati bebukitan, tebing yang tak terlalu curam, dan beberapa kebun tetangga kampung yang dikenalnya. Sesekali, bapak lewati juga itu kebun alba atau kebun jati. Sampai di kebun. Bapak mampir ke saung, menaruh tas berisi bekal nasi timbel dan ikan asin yang disiapkan  emak. Serta air minum, tentu saja. Bapak duduk sejenak. Hari masih pagi, belum jam tujuh. Udara segar. Suara tonggeret menyambutnya. Sep...

Mari Mati

Kalau dipikir-pikir hidup itu menakutkan. Tiap hari kudu makan sedang kerja belum tentu punya. Tiap hari kudu merokok dan ngopi sedang hidup sibuk menganggur. Tiap hari kudu biayai anak dan keluarga, istri dan suami, orang tua dan saudara sedang orang-orang yang mengelola negara bego semua. Benar-benar menakutkan. Mati pun rasanya jadi menggiurkan. Tampak menyenangkan. Daripada hidup penuh dengan ancaman. Bikin semuanya tak tenang. Sudah tiga puluh tahun hidup. Namun rasanya begini-begini saja. Kaya belum, kerja tetap. Terus melangkah dalam jalan proses. Terus, terus, dan terus. Mau bagaimana lagi. Itulah perintahnya. Itulah hakikatnya. Hakikatnya aku hanya kudu menjalani syariat yang ada. Dan syariat yang ada mewajibkanku untuk terus hidup di negara yang busuk ini. Busuk sebusuk-busuknya bangkai. Bahkan bangkai pun masih ada manfaatnya bagi anjing yang kelaparan. Tapi toh tetap saja si anjing akhirnya mati. Aku menggebuk kepalanya tiga kali sebelum menguburkannya sore hari . Aduh. ...

Bangsa Beser

  Kita ini bangsa yang beser. Bolak-balik kamar mandi mencuci dosa. Lalu melumuri diri dengan gas air mata. Sumbernya orang-orang gembel yang kere yang rudin. Menurunkan perahu mengayuhnya menuju pulau-pulau menambang uang. Di mana-mana ada uang. Di mana-mana perlu uang. Memang bisa hidup tanpa beruang? Tak mungkin. Mana mungkin beruang diganti aparat. Tak ada juga ceritanya aparat tak suka beruang. Itu kenapa perut mereka buncit. Sebab isinya bangkai puisi, bangkai buku, dan bangkai orasi. Mau apa lagi? Ingin bagaimana lagi? Ini hidup. Kenyataannya memang begitu. Aku juga tahu hidup memang begitu. Satu tambah satu sama dengan sebelas. Sebelas tambah tiga sama dengan empat belas. Empat belas kurangi enam sama dengan delapan. Nah! Delapan itu angka infinity, simbol kontinuitas, ketersambungan, keselarasan, tanpa akhir. Tak ada kiamat maka tak perlu tobat. Lalu delapan dikurang enam lagi, sama dengan dua. Jadi berapa, sodara-sodara? Dua. 2. Pilih nomor dua. Hidup Jolowi! Hidup Jolo...

Wates

Seharusnya ketika itu dia loncat saja dari kereta di Stasiun Wates demi mengejarmu dan menggabrukmu dan membawakan tas yang kamu jinjing dan bukan malah kembali masuk ke dalam gerbong dan duduk di kursi dekat pintu setelah mengecup keningmu dengan cepat tanpa aba-aba selain dari peluit petugas stasiun. Dia menyesalinya, sungguh. Sampai hari ini, kalau waktu bisa diulang dan jarak bisa dilipat dan kenangan bisa disimpan di dalam saku celana, dia masih menyesalinya dan ingin kembali ke sana. “Betapa bodohnya aku!” katanya dalam malam di teras rumah dekat selokan. Di stasiun kereta itu dia malah meninggalkanmu sendirian. Menanggun g berat dan beban. Membawa d i ri ke dalam kesendirian di bangku panjang yang sudah pasti membosankan. Menunggu seseorang bangun cepat sepagi itu dan menjemputmu. Paling-paling kamu hanya akan ditemani hape yang tak bisa diajak ngobrol. Kamu akan duduk, menunduk, memandangi hape terus-menerus. Sampai seseorang itu datang, berteriak padamu, menghampirimu, ...

Di Akhir Khawatir

  Aku akan memulai semuanya dari nol, yang berarti dari apa yang aku bisa saja. Setiap hari akan kukerjakan, setiap hari akan kulakukan. Demi masa depan yang penuh dengan rokok dan anggur di meja makan sebelum makan. Dan tentu saja kopi, dan kopi, dan kopi. Ditambah roti tawar sebagai sarapan. Ah, rasanya akan enak sekali. Kecuali di hari Senin dan Kami s , sudah tentu aku kudu puasa. Tak mudah untuk memulai. Apalagi kalau tak ada modal, tak punya uang banyak. Sebab kini, kiwari ini apa-apa perlu uang. Bikin apa pun tanpa uang, bisa sih, tapi… ya begitulah. Tetap akan jadi tapi perlu waktu. Mungkin sebulan, atau dua tahun, atau sampai entah. Yang pasti waktu tak bisa diburu-buru. Sesampainya saja. Sejadinya. Dan yang kubisa, sejauh ini, sejauh aku memahami diri sendiri, apa yang kubisa sekarang adalah menulis. Menulis dan menulis. Sampai jadi novel. Yah, tak pernah terbayang juga aku akan bisa menulis beratus-ratus halaman cerita. Akhirnya jadi buku dan diterbitkan. Walau belum...

Ceuk Bapa

Padahal baheula ngabayangkeun hirup teh bakal ngeunah. Ti leuleutik diajar ngaji, nepi ka gede oge tuluy ngaji. Nepi ka ayeuna oge sanajan maksiat jalan tapi ngaji ge sarua jalan. Anggeus diajar ngaji tuluy diajar di sakola. Teu cukup di sakola   hungkul, nepi ka imah oge tuluy diajar ku kolot. Diajarkeun hirup teh sing cageur-bageur-pinter. Ngarah jadi “jalma”. Pan ceuk Bapa. Nepi ka ayeuna masih muter na sirah peupeujeuhna. Mun hayang jadi “jalma” nu boga peurah kudu peurih. Meurih ngarah meurah. Tuluy kudu panyang lengkah—da lalaki (cenah) maneh mah. Ulah cicing di imah wae jiga elap baseuh, ngalumuk. Tah tuluykeun geus boga elmu, geus loba pangalaman, kudu jadi ajir. Ari ajir, teu pipilih. Rek pepelakan nanaon oge bisa muntang kana ajir. Rek kongkoak, rek jukut, rek naon wae. Hoerunas anpaunnas, cenah ceuk Nabi ge? Ayeuna abi hirup kieu keneh teh meureun kurang meurihna. Can bener, can loba. Kudu loba keneh diajar, kudu loba keneh tatanya, utamana mah kudu loba keneh diajar...

Surga yang Entah

  Penumpang yang terhormat. Sebentar lagi kereta yang anda naiki akan tiba di Stasiun Kepala Tiga. Bagi anda yang hendak turun di Stasiun Kepala Tiga, mohon segera mempersiapkan diri. Periksa kembali barang bawaan anda sebelum turun. Pastikan tak ada satu pun yang tertinggal di dalam kereta. Terima kasih telah percaya dan menggunakan layanan kami. See you on the next trip! Stasiun Kepala Tiga, katanya. Padahal aku ingin turun di Stasiun Surga, ingin segera mengakhiri perjalanan ini. Tapi baru saja naik dan kereta melaju dengan begitu cepatnya dan aku baru sadar kalau ternyata salah menaiki kereta. Kulihat kembali tiket. Tapi… setelah dilihat dan dibaca, salahnya di mana? Padahal aku sudah menyiapkan perjalanan ini sedari jauh-jauh hari. Sudah sejak dari lahir. Oh, bukan. Sudah sejak dari dalam kandungan. Oh, tidak, tidak. Sudah sejak dari alam ruh. Aku sudah menyiapkan semuanya. Segalanya telah kutinjau, kupikirkan, dan aku setuju memilih untuk membeli tiket ke Jurusan Surga. Y...