Surga yang Entah
Penumpang yang
terhormat. Sebentar lagi kereta yang anda naiki akan tiba di Stasiun Kepala
Tiga. Bagi anda yang hendak turun di Stasiun Kepala Tiga, mohon segera
mempersiapkan diri. Periksa kembali barang bawaan anda sebelum turun. Pastikan tak
ada satu pun yang tertinggal di dalam kereta. Terima kasih telah percaya dan
menggunakan layanan kami. See you on the next trip!
Stasiun Kepala Tiga, katanya. Padahal aku ingin turun di Stasiun Surga,
ingin segera mengakhiri perjalanan ini. Tapi baru saja naik dan kereta melaju
dengan begitu cepatnya dan aku baru sadar kalau ternyata salah menaiki kereta. Kulihat
kembali tiket. Tapi… setelah dilihat dan dibaca, salahnya di mana?
Padahal aku sudah menyiapkan perjalanan ini sedari jauh-jauh hari. Sudah sejak
dari lahir. Oh, bukan. Sudah sejak dari dalam kandungan. Oh, tidak, tidak. Sudah
sejak dari alam ruh. Aku sudah menyiapkan semuanya. Segalanya telah kutinjau, kupikirkan,
dan aku setuju memilih untuk membeli tiket ke Jurusan Surga. Yah, barangkali
aku harus segera turun. Turun di stasiun selanjutnya. Berhenti, mengakhiri
perjalanan ini.
Ini hari belum siang-siang amat. Di kaca jendela masih banyak kulihat
orang-orang sedang kerja di sawah. Mereka sedang memanen hasil kerjanya. Mereka
sedang menuai apa yang telah ditanam sejak enam bulan lalu—atau kini sudah
sejak dari tiga bulan lalu? Aku tak tahu persis.
Orang-orang di sawah tampaknya bahagia. Atau, itu karena aku hanya
melihatnya sekilas? Tapi, apa memang dibutuhkan banyak waktu untuk mengetahui seseorang
itu bahagia atau tidak? Ah, yang jelas, kulihat mereka sedang kerja, memanen,
menuai. Harusnya mereka sedang berbahagia. Setidaknya, mereka pasti bahagia
karena sedang tak menaiki kereta yang salah.
Hmmm. Apa aku turun di sawah ini saja? Sepertinya akan menyenangkan. Di atas
kepalaku ada palu untuk memecahkan kaca untuk digunakan ketika keadaan sedang
darurat. Sepertinya seru jika palu itu kuambil dan kaca jendela kupecahkan dan
lantas aku meloncat dari sana ke sawah yang indah itu. Oh, demi Tuhan—atau demi
setan! Apa yang kupikirkan?
Penumpang yang
terhormat. Sebentar lagi kereta yang anda naiki akan tiba di Stasiun Arena. Bagi anda yang hendak turun di Stasiun Arena, mohon segera
mempersiapkan diri. Periksa kembali barang bawaan anda sebelum turun. Pastikan tak
ada satu pun yang tertinggal di dalam kereta. Terima kasih telah percaya dan
menggunakan layanan kami. See you on the next trip!
Benar-benar tak terasa. Rasanya baru saja kereta berhenti di Stasiun Kepala Tiga dan kini sudah hendak berhenti lagi. Stasiun Arena? Apa aku turun di
sini saja, ya?
Kulihat beberapa orang di kursi dalam gerbong yang kunaiki ini mulai
bersiap, mempersiapkan barang bawaan masing-masing. Ada yang menurunkan ransel
dari bagasi di atas kepalanya. Kira-kira isinya apa, ya? Coba kutebak. Dari potongan
orangnya, lelaki itu belum terlalu tua tapi tidak juga muda. Mungkin usianya, hmm,
40? Jika melihat perawakannya, badannya tinggi, tegap, berotot. Kulitnya gosong
tampak sering kena matahari, potongan rambutnya cepak. Wah, aku tahu lelaki
ini. Mungkin ia sedang dalam perjalanan pulang dari medan perang? Dan ransel
yang diturunkannya itu yang kini sudah berada di pangkuannya berisi tangisan
keluarga orang-orang yang telah dibunuhnya? Atau mungkin isinya tanah yang berhasil
dirampasnya dan dijadikan hak miliknya setelah orang-orang yang dilawannya
kalah dalam perang? Hmmm.
Terpisah satu kursi di sebelah kananku. Seorang perempuan, masih muda,
kalau dari caranya berpakaian, sudah pasti perempuan ini seorang pelajar. Bisa kupastikan,
karena dari goodie bag yang diturunkannya dengan sangat hati-hati, kulihat logo
dan tulisan nama kampus. Meski ia berusaha menurunkan goodie bag itu dengan
perlahan dan pelan, saat roda menggilas sambungan rel, kereta sedikit
berguncang dan siku perempuan itu membentur kepala ibu-ibu di sebelahnya. Ia cekatan
meminta maaf, memohon ampun beribu ampun. Ibu-ibu di sebelahnya dengan
senyumnya yang murah, memakluminya.
Mengapa perempuan itu menurunkan goodie bag-nya dengan cari paling
hati-hati seperti itu? Aku jadi semakin penasaran. Kuperhatikan dan
kuperhatikan. Goodie bag itu kini sudah di pangkuannya, dipegangnya erat dan masih dengan cara paling hati-hati. Kuperhatikan wajahnya, tampak lesu, seperti
gairah dalam dirinya telah lenyap ditelan usia.
“Isinya apa, Neng?”
Perempuan itu tak langsung menjawab. Ia terlihat menunduk, seolah sudah tak
punya tenaga lagi untuk menjawab pertanyaan ibu-ibu itu. Tapi mungkin perempuan
itu berpikir dan sadar kalau ia sudah berhutang satu maaf pada ibu-ibu di
sampingnya dan ia harus menjawab pertanyaan tersebut sebagai upaya untuk
melunasi hutangnya itu.
“Isinya, hmmm. Isinya… kepingan-kepingan patah hati, Bu.”
Kereta berhenti. Lelaki dengan ransel turun. Perempuan dengan goodie bag
juga turun. Dan aku masih duduk di kursi dekat jendela sembari memandangi
mereka berdua berjalan di peron menuju pintu keluar. Huh. Tahu begini, mending
tidur saja.
Penumpang yang
terhormat. Sebentar lagi kereta yang anda naiki akan tiba di Stasiun Malam
Panjang. Bagi anda yang hendak turun di Stasiun Malam Panjang, mohon
segera mempersiapkan diri. Periksa kembali barang bawaan anda sebelum turun. Pastikan
tak ada satu pun yang tertinggal di dalam kereta. Terima kasih telah percaya
dan menggunakan layanan kami. See you on the next trip!
Aku membuka mata, tapi kulihat dari kaca jendela di luar sudah gelap. Sialan!
Sudah berapa lama aku tertidur? Telah berapa lama aku kehilangan sadar?
Sepasang kekasih yang duduk di hadapanku mengambil barang bawaan dari
bagasi di atas kepala mereka. Banyak sekali ternyata. Si lelaki cekatan menurunkan
koper besar, lanjut mengambil tas gunung dan tiga kardus ukuran sedang. Lalu kulihat
si perempuan menurunkan dua tas punggung kecil dan tiga kantung keresek
besar-besar.
Selesai menurunkan barang-barang bawaan, mereka kembali duduk dan mata kami
bertemu. Sepertinya mereka merasa bersalah karena kemudian si perempuan berkata
padaku, “Maaf, Kang. Berisik ya tadi? Akang jadinya terbangun. Punten….”
“Tak apa,” kataku pendek.
Tapi aku penasaran juga sebenarnya. “Ini mau pada ke mana?”
“Oh ini, Kang. Kami mau liburan ke Masa Lalu. Mau piknik sekalian mencoba
menjalani slow living life sebulan di
Masa Lalu. Kata orang-orang hidup di Masa Lalu itu indah, enak, tak bising,
Kang.” Si lelaki cekatan menjawab.
“Oh, gitu. Iya, iya.”
“Kalau Akang mau ke mana?”
“Ke Surga, Teh.”
“Eh! Ini kan kereta jurusan neraka?”
“Iya, Teh. Salah naik.”
“Tadi naik dari mana emang?”
“Dari Stasiun Dua Puluh, Teh.”
“Eh! Sudah kelewat jauh berarti.”
“Iya, Teh.”
“Tahu salah naik kereta, kenapa tak langsung turun di stasiun terdekat dan
pindah berganti kereta yang jurusannya menuju surga?”
Tahu salah naik kereta, kenapa aku tak langsung turun di stasiun terdekat
dan pindah berganti kereta yang jurusannya menuju surga? Apa aku ini… sebenarnya seorang pengecut?
Kereta melaju kembali. Meluncur bergegas menuju stasiun terakhir. Dan aku
masih duduk di kursi. Melamun. Terus berpikir.
Komentar
Posting Komentar