Mari Mati
Kalau dipikir-pikir
hidup itu menakutkan. Tiap hari kudu makan sedang kerja belum tentu punya. Tiap
hari kudu merokok dan ngopi sedang hidup sibuk menganggur. Tiap hari kudu
biayai anak dan keluarga, istri dan suami, orang tua dan saudara sedang
orang-orang yang mengelola negara bego semua. Benar-benar menakutkan. Mati pun
rasanya jadi menggiurkan. Tampak menyenangkan. Daripada hidup penuh dengan
ancaman. Bikin semuanya tak tenang.
Sudah tiga
puluh tahun hidup. Namun rasanya begini-begini saja. Kaya belum, kerja tetap. Terus
melangkah dalam jalan proses. Terus, terus, dan terus. Mau bagaimana lagi. Itulah
perintahnya. Itulah hakikatnya. Hakikatnya aku hanya kudu menjalani syariat
yang ada. Dan syariat yang ada mewajibkanku untuk terus hidup di negara yang
busuk ini. Busuk sebusuk-busuknya bangkai. Bahkan bangkai pun masih ada
manfaatnya bagi anjing yang kelaparan. Tapi toh tetap saja si anjing akhirnya
mati. Aku menggebuk kepalanya tiga kali sebelum menguburkannya sore hari. Aduh. Maafkan, anjing. Aku tak punya pilihan lain. Negara
ini tak memberiku banyak pilihan. Benar-benar brengsek.
Padahal kalau
negara dikelola dengan benar, sebagai penulis aku bisa punya uang besar dan
cukup untuk membawamu ke dokter hewan. Di sana kamu akan diperiksa, ditangani
secara medis, diberi obat dengan dosis tepat, dan kembali sehat tanpa perlu
sentuhan tanganku. Kamu akan kembali ceria,
bermain menyusuri kebun singkong dan tembakau, berlari-lari, meloncat-loncat,
menggonggongi anak-anak pemburu layangan. Tapi yah, yah. Beginilah adanya. Saat kamu keracunan gara-gara ada
bangkai dalam tubuhmu akibat terlalu lapar dan tak bisa lagi membedakan mana
makanan mana bangkai, semua adalah makanan dan mati pun risiko yang kudu
dicoba. Apalah artinya hidup jika terus merasa lapar padahal Allah sudah
menyediakan segalanya di alam dunia untuk kita semua bagi rata.
Dan tak
pernah ada yang rata, ternyata. Ada sebagian makhluk yang kaya yang bisa makan
apa saja semau-maunya tanpa perlu memikirkan uangnya dari mana, dan ada juga
sebagian besar makhluk yang untuk makan saja mencarinya kudu susah payah;
seperti dirimu.
Ketika kamu
datang malam-malam dengan tubuh kurus dan perut buncit, aku sudah curiga. Aku curiga
kamu sedang tak baik-baik saja. Apalagi saat dari mulutmu keluar liur campur
busa. Apalagi saat setelah itu kamu terkaing-kaing menahan sakit sambil
membentur-benturkan kepalamu ke tembok, kupikir umurmu tak akan mencapai lusa. Meski
esok harinya kamu masihlah bernapas, tapi sebenarnya kamu telah mati. Kamu tak
bisa lagi mengontrol tubuhmu dan terus melolong kesakitan sambil
menabrak-nabrakkan kepalamu atau tubuhmu ke tembok. Aku yang dari jauh
mengamatimu bisa melihatnya dan mengerti, kamu butuh pertolongan.
Maka dengan
sedikit keberanian dan modal nekat, kumasukkan kamu ke dalam karung. Kamu tak
melawan. Bergerak sedikit pun tidak. Kamu sudah tahu, inilah yang kamu
inginkan. Aku menggebuk kepalamu tiga kali. Kamu berhenti bernapas, lalu hidup
di surga.
Seperti apa
yang kudapat dalam berita akhir-akhir ini. Seorang ibu meracun kedua anaknya
karena tak ingin mereka hidup menanggung susah serta derita. Ia pun bertanggung
jawab dengan menggantung diri dengan sarung. Namun sebelum itu ia menuliskan
seluruh isi hatinya dalam kertas. Ia sudah tak tahan hidup, kudu menanggung
malu dan utang akibat suami yang tak becus menjalankan perannya sebagai kepala
keluarga. Hidup dililit utang, tiap hari menderita, tambah negara yang hanya fokus
memperkaya pejabat lacur dan politisi tengik, jalan terbaik untuk melanjutkan
hidup adalah dengan kematian.
Bahkan kemudian
di akhir suratnya si ibu berkata ia akan dengan senang hati menanggung seluruh
dosa dari apa yang diperbuat. Anak-anaknya yang dua itu biar hidup di surga. Sedang
neraka akan jadi tempat liburan paling indah bagi dirinya. Tak ada tempat yang
lebih baik untuk berlibur rehat sejenak selain neraka.
Beberapa hari
yang lalu ada juga berita. Seorang istri benar-benar hamper semaput ketika
sepulang kerja ia menemukan suaminya dalam keadaan tergantung sarung. Bunuh diri.
Berita menyebar, tangis di mana-mana, ucapan bela sungkawa memenuhi pajaratan. Semua
orang berduka kecuali negara. Apalah artinya satu orang penganggur selain untuk
bahan statistik. Tak ada gunanya. Orang-orang kecil, apa gunanya? Lagian,
daripada bikin susah negara sudah betul pergi saja ke sana ke alam baka. Ada yang
menduga ia menggantung diri karena terjerat pinjol, ada juga yang bilang karena
judol. Tapi yang pasti, ia dibunuh negara.
Yah, yah. Sepertinya
kematian adalah cara terbaik untuk melanjutkan hidup. Kematian adalah cara
untuk membuat orang tetap hidup dalam kebaikan, penuh martabat dan rasa hormat.
Lagian mati itu pasti, sedang hidup tak bisa ditebak. Hidup di negara seperti
ini, sudah benar pilih yang pasti-pasti saja. Buat apa pilih yang tidak? Siapa yang
akan menjamin?
Allah
memang ada di sana. Ada, selalu, tak pernah ke mana-mana. Hanya saja,
orang-orang kadung tak bisa melihat. Negara ini sudah gelap dan yang punya
senter hanya orang-orang kaya. Banyak orang nyasar dan kecemplung dosa. Semua terpaksa.
Tak ada yang menikmatinya dengan sugema. Semua tergesa, ingin cepat kaya tapi
negara menahan semuanya. Kita kudu berjalan jauh, tanpa makan dan minum,
menahan lapar sepanjang jalan, dirampok pejabat dan politisi, lalu mengantre
untuk dapat giliran mendapat gaji bulanan yang tak seberapa dan langsung ludes
untuk membayar perjalanan tadi.
Aku pusing.
Semua tampak salah tapi benar. Tak ada bedanya. Apa yang kuanggap salah mungkin
saja ada benarnya. Dan apa yang kuanggap benar, bisa jadi salahnya banyak. Hidup
tak pernah pasti. Sudah kubilang tadi, yang pasti hanya mati. Yang pasti hanya
mati. Yang pasti hanya mati. Tak usahlah terlalu hati-hati. Keluar saja dari
rumah dan runtuhkan pagar itu. Penuhi jalanan dengan mimpi dan cita-cita. Hidup
terlalu murah untuk dipertahankan. Biarkan jiwa kita hidup sekalipun kudu
mengorbankan kematian raga. Sudahlah. Apa lagi yang ingin dikejar di negara
brengsek seperti ini?
Mending cari
saja yang pasti, yakni mati. Matilah di jalan-jalan besar atau di gedung-gedung
mewah atau di menara-menara tinggi. Matilah di hutan dan di sungai dan di laut
dan di udara. Penuhi negara ini dengan kematian. Teror mereka dengan kematian. Terus
bayang-bayangi kehidupan mereka dengan kematian. Biar mereka tak bisa tidur
nyenyak, biar mereka juga merasakan bahwa tak ada yang pasti dalam hidup. Bahwa
yang pasti hanyalah mati.
Untuk anjing-anjing,
untuk ibu-ibu, untuk bapak-bapak, carilah kematian itu. Matilah dengan cara
masing-masing. Pilihlah kematian terbaik. Kabarkan ke semua orang. Sebarkan ke
seluruh negeri. Merdeka atau mati!
Mati tanpa
tapi. Buang tapi untuk mati. Tanpa mati hidup tak berarti. Hidup hanya berarti kalau kita tak takut mati. Mati itu pasti. Hidup itu, apalah artinya selain menunggu mati. Maka matilah!
Komentar
Posting Komentar