Soca


Kata emak, hari ini mata kanan bapak sudah melihat cahaya. Sudah nyaris tiga minggu hal itu tak bisa dilakukannya. Mata kanan bapak tertutup, seperti kuncup bunga yang belum mekar. Rapet. Sulit dibuka. Kalau dipaksa, rasanya sakit, katanya.

Tiga minggu yang lalu itu, bapak sedang di kebun. Seperti biasa, kalau tak kerja bangunan, bapak akan menghabiskan waktunya untuk menengok kebun. Memeriksa tanaman, mengambil apa yang bisa diambil, membersihkan semak-semak, atau apa saja yang sekiranya bisa dilakukan di sana. Hari itu pun sama. Pagi-pagi bapak pergi ke kebun. Berjalan kaki, melewati bebukitan, tebing yang tak terlalu curam, dan beberapa kebun tetangga kampung yang dikenalnya. Sesekali, bapak lewati juga itu kebun alba atau kebun jati.

Sampai di kebun. Bapak mampir ke saung, menaruh tas berisi bekal nasi timbel dan ikan asin yang disiapkan  emak. Serta air minum, tentu saja. Bapak duduk sejenak. Hari masih pagi, belum jam tujuh. Udara segar. Suara tonggeret menyambutnya. Seperti parade gamelan menyambut kedatangan orang-orang gede. Jauh di bawah sana terdapat sungai kecil yang suara airnya menenangkan pikiran bapak.

Bapak keluarkan dari sakunya dompet berisi tembakau. Tembakau yang didapatnya dari Pasir Meja. Tembakau terbaik di kecamatan. Yang katanya selalu dijual ke Cianjur untuk selanjutnya dipasarkan di wilayah Jawa Barat. Selempeng 75 ribu harganya. Bapak menyiapkan kertas papir, menjumput tembakau, melintingnya cekatan. Hanya dua kali gulung. Ditaruhnya lintingan yang telah selesai di bibir, disulut, diisap.

Ssseeepppppp…

Huhhhhh….

Hembusnya panjang.

Sebatang habis diisap.

Kini dunia menunggu dilipat.

Bapak turun dari saung.

Awalnya bapak membabat semak belukar. Karena itu yang paling mencolok mata. Dibabatnya habis semak belukar yang merebut lahan jagung. Dengan golok tajam yang telah diasah seharian kemarin, mudah saja bagi bapak membabat semua itu secepat kilat. Semak belukar telah menumpuk. Banyak juga. Dan sudah pasti, bapak berpikir, mumpung masih pagi dan belum banyak angin, bapak membakar semak belukar yang sebagian besar untungnya kering. Korek dilempar api menyala asap membubung.

Lumayan. Asap mengusir nyamuk kebun yang ngacir entah ke mana.

Selanjutnya di bawah sana, di jalan dekat sungai, di samping rumpun bambu, beberapa pohon pisang tampaknya perlu ditengok. Sembari mengisap lintingannya yang kedua, bapak turun. Diceknya pohon-pohon pisang itu. Dilihat-lihat, belum ada buahnya. Tapi daunnya lebar-lebar, lumayanlah buat dibawa biar dibikin bungkus nasi timbel atau bungkus sekiranya apa yang bisa dibungkus daun. Golok ditarik dari warangka, bapak mulai menyabet daun di atas kepala.

Daun-daun itu tak tinggi tapi juga tak lebih pendek dari bapak. Untuk menebasnya bapak tetap kudu menengadah. Dari sanalah ketika menebas entah daun ke berapa, tiba-tiba mata bapak kelilipan. Kejadiannya begitu cepat sampai bapak tak sadar matanya telah gatal. Entah apa yang masuk ke dalam matanya. Yang pasti kini matanya mulai gatal, agak perih, terasa tak nyaman. Tangan bapak refleks mengucek mata, menggeseknya kemudian. Terus begitu untuk beberapa lama. Bapak mencoba membuka mata, tapi perasaan gatal dan perih masih ada. Kembali mata dikucek dan digesek. Golok kembali masuk warangka. Tiga lembar daun pisang di tanah diambil, dibawa, dan bapak naik sambil menahan gatal dan perih.

Di saung bapak langsung minum. Napasnya terasa berat. Bapak butuh oksigen lebih. Bapak melinting tembakau lagi, mengisapnya, mengembuskannya panjang. Tubuhnya agak tenang, napasnya agak lumayan lengang, meski gatal dan perih di mata belumlah reda. Dengan sisa air di botol minum, bapak mengguyur kedua mata. Merem-melek, menguceknya sedikit demi sedikit. Kini agak mendingan rasanya.

Habis beberapa batang lintingan tapi mata tak kunjung mendingan. Bapak pikir, sudah tak ada gunanya melanjutkan kerjaan. Perasaan tak nyaman pada matanya mengganggu fokusnya. Sebaiknya pulang, pikirnya. Sebaiknya memang begitu, pikirku.

Bapak pulang. Berjalan agak kepayahan sambil menjinjing daun dan menahan gatal serta perih di matanya. Sampai rumah, duduk di teras, bapak memanggil emak. Emak keluar, melihat bapak kepayahan, bertanya mengapa demikian. Bapak menceritakannya. Emak buru-buru mengambil obat tetes mata, diteteskannya kemudian ke mata bapak.

Beberapa hari berlalu dan mata bapak rasanya masih seperti itu. Gatal dan perih. Tapi bapak yang terbiasa bekerja, menghiraukannya saja. Masih jauh ke dalam peujit, ujarnya. Yah begitulah bapak. Jika luka atau sakit belum sampai mendekati organ dalam, atau belum parah-parah amat, bapak akan bekerja saja, semua sakitnya dihiraukannya tak dirasa. Sejak itu bapak masih ke sawah atau ke kebun. Bahkan bapak membantu saudara yang menggelar hajatan nikah anaknya selama sehari semalam suntuk. Membawa kayu bakar, menjaga tungku tetap menyala, memasang lampu pendukung di dapur dadakan, membakar sate. Di minggu kedua, barulah bapak merasa ada yang aneh dengan matanya.

Suatu pagi ketika bangun tidur, bapak panik karena matanya rapet sulit dibuka. Saat dipaksa dibuka, rasanya perih, sakit. Bapak buru-buru ke kamar mandi, mengambil wudu. Lalu ngaca, dan matanya tampak menyipit bengkak. Bapak menarik napas, menenangkan diri. Tak apa, tak apa, tak apa. Ini hanya sakit mata biasa. Ini hanya sakit mata biasa. Benar, ini hanya sakit mata biasa. Itu jam tiga pagi. Bapak menggelar sajadah, seperti biasa. Menunaikan salat malam. Benar-benar berharap bahwa matanya baik-baik saja.

Sekitar jam 7, saat hendak berangkat kerja, tiba-tiba mata bapak terasa sakit seperti ditusuk. Menahan sakit demikian, bapak sempoyongan, nyaris jatuh menghantam meja makan. Emak berteriak spontan. Memapah bapak, mendudukannya di lawang pintu dapur. Setelah diamati, mata kanan bapak makin bengkak, sipit, rapet. Sudah, tak usah kerja saja, emak katakan. Tak bisa begitu. Bapak ini lelaki, kalau tak kerja, apa artinya jadi lelaki? Setelah menghabiskan kopi, bapak memanaskan motor mionya, tetap berangkat.

Sore harinya. Sepulang kerja, setelah mandi, dan tubuh bapak menggigil.

Itulah akhirnya.

Malam itu bapak langsung dibawa ke rumah sakit umum daerah di Pameungpeuk. Rumah sakit yang dikelola oleh provinsi. Diperiksalah oleh dokter mata bapak. Dokter bertanya ini-itu. Bagaimana kejadiannya, apa yang masuk, jam berapa, sedang apa di kebun, lalu beberapa setelah itu melakukan apa saja. Bapak cerita semuanya.

Dokter mengangguk-angguk. Lalu menyimpulkan begini. Mata bapak luka. Luka itu menyebabkan iritasi. Itu sumber matanya yang gatal dan perih. Seharusnya, saat kondisi mata begitu, bapak diam saja di rumah, tak boleh ke mana-mana biar mata steril tak kemasukan debu atau kotoran. Bukan malah lanjut kerja, atau ke kebun, atau membantu hajatan saudaranya yang sudah pasti dipenuhi asap di mana-mana. Parahnya lagi, bapak malah hantam saja merokok. Makanya, sebaiknya berhenti saja merokoknya. Biar sehat wal‘afiat sebagaimana biasanya. Dokter memberi resep yang kudu ditebus di apotek rumah sakit. Satu botol obat tetes mata dan dua jenis tablet pereda nyeri buat diminum.

Habis seminggu tapi mata bapak belum membaik. Malah, bapak kerap merasakan perih dan sakit yang teramat di matanya. Sampai-sampai, sering kali tak bisa bangkit dari tempat tidur. Yang lebih bikin kaget, kini penglihatan di mata kanannya mulai kabur. Sudah begitu, matanya jadi sensitif, tak bisa sedikit pun menerima cahaya. Bukan main silaunya! Aduh, aduh. Apa yang salah, apa yang kurang, apa yang terlewat, pikirnya. Kedua kakakku menyarankan untuk kembali ke rumah sakit. Dibawalah bapak, diperiksa lagi. Kata dokter, selaput entah apa namanya mulai menutupi sebagian besar mata bapak. Sarannya, jangan keluar rumah, jangan kena debu atau asap atau apa pun yang sekiranya bisa menimbulkan iritasi. Sebaiknya pakai kaca mata saja, dokter menutup. Sekali lagi, dokter menulis resep berisikan obat tetes mata dan dua jenis tablet buat diminum.

Minggu ketiga dan keadaan bapak bukanya membaik tapi malah makin parah. Mata bapak kini benar-benar rapet serapet rapetnya. Jangankan dibuka, untuk coba digerakkan saja rasanya sakit. Kembalilah bapak dibawa ke rumah sakit. Melihat keadaan mata bapak sedemikian parah, dokter bilang ini sudah telat. Peralatan medis di rumah sakit tak ada yang mumpuni. Bukannya dokter tak bisa menyelesaikan masalah itu, tapi masalahnya meski ini rumah sakit umum daerah yang langsung dikelola provinsi, tapi peralatan medis belumlah selengkap dan segagah nama rumah sakitnya. Akhir kata dokter bertanya, apakah bapak bersedia dirujuk ke pusat mata nasional yakni rumah sakit Cicendo di Bandung?

Mau bagaimana lagi, Dokter!

Ini bukan soal mau atau tidak. Tapi mengapa tak bilang saja dari dulu kalau antum itu belegug?

Tolol!

Keluarga berkumpul.

Tak usah ngobrol lama, besok langsung ke Bandung saja.

Besoknya, hari Kamis, jam 10 malam bapak, ibu, dan kakakku berangkat ke Bandung. Meminjam mobil siaga milik desa disopiri mantan sopir Jakartaan yang balik kampung. Bukan tanpa alasan mengapa kudu berangkat jam segitu. Kata sopir, ada dua keuntungan. Pertama, biar jalanan kosong tak macet; kedua, bisa mengambil nomor antrian paling awal karena ketika petugas membuka nomor antrian, kita sudah siap di depan sana. Yang pertama betulan kejadian. Jalanan dari Garut ke Bandung lancar. Lagian, kalau dipikir-pikir, selain sopir truk dan sopir bis dan sopir elf, siapa juga yang mau malam-malam keluar ke jalanan. Sudah begitu sopirnya ahli. Jadilah perjalanan ke Bandung terasa cepat sekali. Sekitar jam 3 pagi, semua sudah nongkrong di rumah sakit mata Cicendo.

Namun perkiraan kedua ternyata meleset. Sampai di rumah sakit, bukan berangkat dari malam tapi bahkan orang lain telah menginap di rumah sakit karena ingin curi start sehari sebelumnya. Ada yang menyimpan bantal sebagai penanda barisan, ada yang menyimpan jaket, ada yang menyimpan topi, sarung, atau apalah yang sekiranya bisa disimpan dijadikan penanda. Hasilnya, bapak mendapat nomor antrian 42.

Bapak baru dipanggil ke ruangan persis sebelum jumatan. Baru ditanya-tanya sebentar dan sudah masuk waktu azan yang waktunya istirahat makan siang. Orang-orang pada jumatan dulu, dokter-dokter juga. Jam satu siang bapak kembali dipanggil. Lalu cepat diperiksa menggunakan alat-alat yang ditodongkan ke matanya. Entah berapa alat. Hasil pemeriksaan langsung muncul di layar monitor. Selesai melewati rangkaian pemeriksaan, bapak dan keluarga diminta duduk mendengarkan.

Dokter mulai berkata. Tanpa basa-basi. Ini sebenarnya sudah terlambat. Mengapa baru setelah tiga minggu lalu dibawa ke sini? Bukannya sejak awal kejadian langsung dibawa ke sini. Ini sudah telat, terlambat. Sudah tiga minggu. Lapisan kornea bapak sudah menipis. Sebabnya, mata bapak kena virus, bakteri, yang lalu membentuk jamur. Jamur inilah yang lantas menutupi nyaris 70 persen mata bapak. Itulah mengapa mata bapak rapet dan sulit melihat. Bahkan cahaya pun tak bisa masuk. Kalau jamur terus menyebar, ini bahaya. Bapak bisa kehilangan penglihatan. Dan kalau terus dibiarkan, bola mata bapak akan kempes, lalu terpaksa kudu diangkat. Ini karena jamur yang menginveksi membuat mata bapak bocor perlahan. Semacam bocor halus. Jadinya bapak akan kehilangan satu bola mata. Ada satu cara. Mata bapak kudu ditambal, biar lapisan kornea mata bisa dipertebal. Atau istilah lainnya dicangkok. Tapi itu juga tak bisa menjamin bapak tak akan kehilangan penglihatan, itu hanya menjamin bahwa bola mata bapak masih akan ada di sana.

Ya sudah, operasi saja, Dokter, kata bapak.

Dokter menjelaskan bahwa operasi tak bisa dilakukan secepat bikin adonan bala-bala. Banyak hal kudu disiapkan. Sebaiknya itu dibicarakan dulu bersama keluarga sebelum diputuskan. Tapi, jadwal operasi sudah bisa dijadwalkan dari sekarang. Booking dulu saja.

Dokter bertanya. Obat apa yang selama ini dipakai untuk mengobati mata bapak. Ibu mengeluarkan semua obat di tas, menunjukkannya kepada dokter. Melihat obat-obat yang dikeluarkan, dokter kaget. Dokter bilang itu obat keras, terlalu keras buat mata yang sedang luka begitu. Bisa jadi penipisan lapisan kornea bapak salah satunya malah disebabkan oleh obat tetes itu. Buang! Jangan dipakai lagi.

Begitulah akhirnya. Dokter meresepkan obat. Dan dikatakannya obat-obat itu hanya sementara saja. Untuk membantu biar bola mata bapak tak kempes dengan cepat. Untuk menjaga bola mata bapak tetap di sana. Tiga jenis obat tetes. Dari satu obat tetes ke obat tetes lainnya diberi jarak 7-10 menit. Setelah itu, minum tablet pereda nyeri ini, katanya. Semua baru beres jam 4 sore. Tak menunggu lama semua bersiap pulang. Semuanya selamat sampai rumah jam 10 malam. Bandung macet.

Pulang dari rumah sakit bapak tampak soak. Barangkali ngeri membayangkan kemungkinan kalau matanya yang bocor benar-benar kempes dan lalu dicongkel keluar. Atau mungkin, ngeri juga membayangkan bola matanya masih ada di sana tapi bapak tak bisa menggunakannya untuk melihat. Astagfirullah. Astagfirullah. Astagfirullah. Setiap hari tanpa henti bapak beristigfar, berzikir, memutar tasbihnya sampai ketiduran. Begitu terus. Tiap habis salat, tiap habis minum obat, tiap sedang menahan sakit, tiap sehabis makan, atau tiap bapak sedang melamun menatap televisi yang tak pernah dinyalakan lagi sejak bapak tak kuat menahan cahaya masuk ke matanya.

Di sela-sela sakitnya bapak kerap berkata padaku. Bapak ikhlas menerima ujian ini. Ikhlas merasakan sakit. Tak apa, ini adalah cara Allah menyayanginya. Lewat sakitnya ini, dosa-dosanya bisa dihapus. Apa yang menjadi kesalahannya bisa diputihkan. Kalau penghapusan dosa bisa dicicil lewat sakit, bapak akan merasa sangat beruntung daripada murung. Bapak ikhlas menerima semuanya. Ini sudah dituliskan. Sudah ada dari sananya. Yang pasti bapak akan selalu berdoa biar sembuh, sehat sebagaimana biasa. Allah maha segalanya, tak ada yang mustahil baginya. Apalagi hanya persoalan sepele seperti sakit mata begini. Allah maha kuasa, bisa membolak-balikkan segala sesuatunya mudah saja. Enteng. Bapak selalu mengingatkan dirinya sendiri. Bapak hanya perlu bersabar melewati ujian ini. Bersabar menunggu giliran sehat. Bersabar menerima semuanya. Tanpa sedikit pun punya prasangka buruk pada yang maha pemberi takdir.

Hanya saja, setiap hal pasti ada tapinya. Tapi, meski bapak sabar dan menerima semuanya, sebenarnya kalau bisa bapak ingin cepat-cepat disehatkan kembali. Bapak sudah rindu masjid. Salat di sana, berzikir, berdoa, bertemu banyak orang. Jika ada yang sangat menyayat hatinya, itu ketika azan magrib atau azan isya atau azan subuh dikumandangkan tapi bapak tak bisa pergi ke masjid. Itulah yang membuat hatinya sedih. Lebih sedih lagi, ketika secara bertahap para jamaah masjid yang mendengar kabar bapak sakit mata satu per satu datang menjenguk ke rumah. Hatinya sakit. Bapak hanya ingin kembali seperti biasa. Ketika mendengar azan, bapak beranjak ke masjid.

Kini aku semakin sadar. Meski bapak hanya orang biasa secara pangkat dan status sosial, tapi bagi para jamaah masjid bapak itu seorang pentolan, sesepuh, salah satu orang yang istiqomah menghidupi masjid. Begitulah kudengar dari orang-orang yang menanyakan kabar bapak padaku. Orang-orang bercerita begitu kehilangan. Masjid rasanya tak lagi sama tanpa bapakku. Beda. Aneh rasanya tak menemukan bapak di barisan orang-orang yang salat berjamaah. Saat khutbah jumat pun, sebelum menutup ceramah dengan doa, khotib menceritakan bapak yang sakit dan meminta sudi kiranya jamaah untuk mendoakan bapak semoga cepat sehat sebagaimana biasa. Kudengar dan kulihat sendiri bapak begitu disayangi meski aku juga tahu tak sedikit orang yang tak suka padanya. Kupikir tak apa. Namanya manusia. Bukan nabi. Nabi saja banyak tak disukai, apalagi bapak yang hanya manusia biasa. Apalah artinya.

Bapak memang sakit. Namun kulihat itu tak dijadikannya alasan. Malah, sering kudapati bapak bangun lebih awal dari biasa. Jika biasanya bapak bangun jam tiga lalu salat malam sebelum ke masjid, kini bapak bisa bangun dari jam dua lalu salat malam dan berzikir sampai waktunya subuh.

Persis seperti hari itu. Bapak bangun jam dua. Mengambil wudhu, membersihkan diri, mengganti baju, menggelar sejadah, dan mendirikan salat malam. Lanjut dengan berzikir sampai azan subuh. Dua jam jaraknya. Kadang kupikir, bapak ini sudah tua. Aku saja yang masih muda rasanya tak akan sanggup selama dua jam duduk dan berzikir terus menerus. Huh.

Subuh hinggap, bapak tanggap. Berdiri dan langsung salat. Selesai dan langsung berzikir. Nah, ada yang berbeda hari itu. Saat bapak sedang khusyuk zikir dengan mata terpejam, tiba-tiba bapak melihat ada seseorang yang lewat di depannya sambil berkata, “Temui Haji Yahya di Cimangke.” Bapak kaget, lirik kiri-kanan, tak ada orang. Tak ada siapa-siapa. Sebagian lampu masih belu menyala, di luar pun masih gelap. Orang tadi siapa? Pertanyaan itu disimpannya dulu di dalam hati dan bapak melanjutkan zikir. 

Selesai berzikir dan berdoa, memanjatkan segala sesuatu yang ingin dipanjatkan, bapak meminta abangku datang ke rumah. Aku juga ada di sana. Bapak menceritakan kejadian yang dialaminya. Aku dan abangku ngelamun. Heran. Haji Yahya siapa? Sebenarnya, bapak pun juga sama herannya. Tapi bapak mencoba mengingat siapa itu Haji Yahya. Di tengah proses menggali ingatan, tiba-tiba bapak teringat. Dulu di desa sebelah, desa Cijambe, pernah punya satu lurah, namanya Yahya. Apakah mungkin ia orangnya? Sebab nama Yahya yang paling populer di kecamatan hanyalah dirinya. Selebihnya, hanya Yahya itulah yang diingat bapak telah naik haji.

“Bukannya ia sudah almarhum?” tanya abangku.

Bapak menggeleng tak tahu.

Aku yang anak kemarin sore hanya bengong.

Ya sudah kalau begitu, kata abangku. Ia akan mencoba mencari Haji Yahya di Cimangke. Hanya satu tempat itulah yang mungkin. Karena dari ingatan samar-samar bapak, diketahui kalau Haji Yahya orang Cimangke. Mudah-mudahan memang ada dan belum meninggal.

Sore hari hujan deras. Abangku kembali, masuk ke rumah membawa sebotol air. Di ruang tamu langsung saja dia menceritakan pertemuannya dengan Haji Yahya.

Sebelumnya, di siang hari, abangku pergi ke Cimangke. Bertanya kepada orang-orang yang dikenalnya di sana, apakah masih ada di tempat itu orang yang namanya “Haji Yahya”. Banyak orang sana juga bingung. Yahya yang mana? Setahu mereka, tak ada orang namanya Haji Yahya. Kalaupun ada orang yang bernama Yahya, ia adalah “Lurah Yahya” dan bukan “Haji Yahya”. Abangku langsung meminta diberi gambaran di sebelah mana rumahnya. Sampai di rumahnya, ada ibu-ibu menyambut. Saat ditanya apakah Lurah Yahya ada di rumah, ibu itu bilang suaminya sedang di sawah. Ditunjukkanlah sawah ada di sebelah mana. Hujan-hujan dan abangku pergi ke sawah. Di hamparan sawah yang lega, abangku mengedarkan pandangan. Dilihatnya ada seseorang kakek-kakek sedang berjalan di galengan menuju saung. Bisa jadi itulah Lurah Yahya, pikir abangku. Dia pun menghampirinya.

“Akang, Lurah Yahya?”

“Itu dulu,” jawabnya tersenyum.

“Ujang saha? Aya naon?”

Abangku menjelaskan dirinya siapa. Kemudian menceritakan mengapa dirinya datang menemui dirinya. Cerita tentang bapak yang telah sakit selama berminggu-minggu. Belum selesai cerita, seperti bisa menebak arah cerita, Lurah Yahya memotong, “Saya tak bisa apa-apa.”

Abangku agak kecewa juga, tapi tetap tak ada salahnya melanjutkan cerita. Bapak sudah sakit berminggu-minggu, sakit mata. Subuh tadi, saat sedang wiridan, tiba-tiba bapak merasa melihat dan mendengar ada seseorang yang bilang kalau bapak kudu menemui Haji Yahya. Bapak awalnya juga agak ragu, tapi akhirnya menceritakannya. Begitulah, kata abangku menutup.

Haji Yahya menarik napas. Di saung, di tengah sawah, ia memandang jauh. Seperti sedang memikirkan sesuatu, atau menggali sesuatu dalam ingatannya—sepertinya lebih tepat sedang mengenang.

“Ujang bukan orang pertama yang datang gak jelas dari mana juntrungannya dan tiba-tiba bercerita seperti itu. Dulu malah pernah ada beberapa orang dari Bandung, Banten, tak tahu wilayah dan tiba-tiba datang ke rumah dan bercerita sebagaimana ujang bercerita. Ceritanya sama, tentang mata.”

Kini gantian, Haji Yahya yang cerita. Dulu dia masantren di Al Anwar, Sarang, Rembang. “Tahu, Mbah Maimoen Zuber?”

Abangku mengangguk.

“Itu pesantren Mbah Moen.”

Abangku soak.

Haji Yahya melanjutkan. Dulu sekali, saat ia masihlah jadi seorang santri, selain ngaji, ia juga suka membantu keluarga pesantren. Salah satunya, ia suka membantu menjemur gabah. Itu sudah dilakukannya puluhan kali atau ratusan kali. Pokoknya selama ia masantren di sana. Satu waktu, bahkan seorang ahli seperti dirinya yang sudah ratusan kali menjemur gabah menginjak juga waktu sialnya. Tiba-tiba saja ada kulit padi yang terbang ditiup angin kencang masuk ke matanya. Kulit padi yang kecil tapi tajam itu bikin matanya langsung perih dan nyeri. Teman-teman di sekitar panik, melaporkan kejadian itu kepada gurunya. Atas perintah gurunya, Haji Yahya dibawa ke tempat gurunya. Ia yang sudah tak kuat menahan perih dan nyeri sambil nangis, dengan satu usapan saja dari tangan gurunya, matanya tiba-tiba saja sembuh. Benar-benar hanya secepat sekedipan mata. Mata sembuh, dan ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Puluhan tahun setelah itu, saat Haji Yahya selesai menunaikan tugasnya sebagai lurah dan pensiun, ia memilih kembali ke sawah. Di sanalah hari-hari tuanya dihabiskan. Dan itulah awal dirinya mulai didatangi orang-orang yang tak jelas juntrungannya dan menceritakan tentang keluarga atau saudaranya yang sakit mata. Haji Yahya selalu mengelak, berkata ia tak bisa apa pun, tak punya kemampuan khusus untuk menyembuhkan sakit mata. Tapi cerita orang-orang yang datang selalu sama: mereka mendapat petunjuk untuk mencari Haji Yahya. Entah bagaimana persisnya orang-orang bisa menemukan dirinya yang tinggal jauh sekali dari kota.

Haji Yahya mengelak bukan karena ia pelit atau ingin dibayar, tapi ia memang benar-benar tak bisa apa pun. Ia tak pernah belajar ilmu-ilmu semacam itu. Dulu pun saat sedang masantren di Al Anwar, ia hanya santri biasa saja. Tapi melihat orang yang datang dari jauh, dengan kesungguhan yang dalam, ia pun kasihan juga. Ia akhirnya menyuruh orang yang datang itu menginap di rumahnya. Malam harinya, sebelum tidur ia salat dan berdoa memohon petunjuk. Dan benar, petunjuk itu datang ke dalam mimpinya. Isi mimpinya adalah gambar dirinya yang dulu sedang menangis kesakitan menahan nyeri di matanya, lalu tangan gurunya mengusap matanya dan rasa sakitnya hilang. Sebuah suara muncul, membimbing Haji Yahya untuk mengucap beberapa kalimat berbahasa Arab. Haji Yahya bangun. Paginya ia membacakan kalimat-kalimat yang didapatnya dari mimpi itu ke dalam sebotol air. Begitulah. Si tamu pulang. Dan beberapa minggu setelahnya kembali lagi menemui Haji Yahya dengan kabar bahwa keluarga atau saudaranya sudah sembuh.

“Ini jangan dibayangkan saya bisa melakukan ini atau punya kemampuan lebih, atau orang sakti. Bukan begitu. Ini saya hanya dititipi amanat oleh guru saya.”

Abangku menyerahkan sebotol air yang sudah dibawanya sejak dari rumah. Haji Yahya membuka tutup botol, membacakannya sesuatu. Setelah itu, Haji Yahya bertanya apakah abangku bawa kertas dan pulpen. Abangku mengangguk. Ia membaca beberapa kalimat bahasa Arab, dan abangku mencatatnya.

“Itu dibacakan setelah setiap salat. Lalu bacakan juga ke dalam air, dan airnya, selain diminum diteteskan juga ke mata.”

Abangku mengangguk.

Terakhir, Haji Yahya mendoakan supaya bapak cepat sembuh. Segitu saja.

Giliran abangku hendak menyodorkan amplop berisi uang, Haji Yahya menolak keras. Ia bilang, mengulangi apa yang sudah dibilangnya tadi, “Sudah saya bilang, ini amanat dari guru saya. Tak mungkin ia bisa menerimanya. Ujang kudu ngarti!”

Abangku akhirnya pamit. Mencium tangannya. Meninggalkan Haji Yahya di saung di tengah sawah dalam gerimis.

Bapak meneteskan air mata, mengucap syukur, alhamdulillah. Sedang aku masihlah bengong mencerna cerita abangku. Benar-benar!

Hari demi hari amalan dari Haji Yahya mulai bapak praktikkan. Beberapa setelah itu bapak harus ke Bandung lagi, kontrol pertama. Hasilnya bagus. Dokter bilang, mata bapak merespon obat dengan baik, dan dengan begitu matanya mulai membaik. Bapak juga merasa setelah itu matanya mulai bisa menerima cahaya, mulai bisa melihat walau masih blur.

Selanjutnya, jeda seminggu bapak kontrol ke Bandung untuk yang kedua kalinya. Hasilnya juga bagus. Mata bapak semakin membaik, kini 60 persen penglihatan bapak mulai kembali. Matanya sudah bisa melihat jelas dari jarak cukup jauh. Dokter bilang, kalau terus seperti itu, kemungkinan mereka tak perlu mengambil tindakan operasi. Sisanya, tinggal tunggu tanggal 16, kontrol terakhir.

Semoga…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Kereta Jurusan Surga