Bangsa Beser

 

Kita ini bangsa yang beser. Bolak-balik kamar mandi mencuci dosa. Lalu melumuri diri dengan gas air mata. Sumbernya orang-orang gembel yang kere yang rudin. Menurunkan perahu mengayuhnya menuju pulau-pulau menambang uang. Di mana-mana ada uang. Di mana-mana perlu uang. Memang bisa hidup tanpa beruang? Tak mungkin. Mana mungkin beruang diganti aparat. Tak ada juga ceritanya aparat tak suka beruang. Itu kenapa perut mereka buncit. Sebab isinya bangkai puisi, bangkai buku, dan bangkai orasi. Mau apa lagi? Ingin bagaimana lagi? Ini hidup. Kenyataannya memang begitu.

Aku juga tahu hidup memang begitu. Satu tambah satu sama dengan sebelas. Sebelas tambah tiga sama dengan empat belas. Empat belas kurangi enam sama dengan delapan. Nah! Delapan itu angka infinity, simbol kontinuitas, ketersambungan, keselarasan, tanpa akhir. Tak ada kiamat maka tak perlu tobat. Lalu delapan dikurang enam lagi, sama dengan dua. Jadi berapa, sodara-sodara? Dua. 2. Pilih nomor dua. Hidup Jolowi! Hidup Jolowi! Hidup Jolowi.

Kita ini bangsa yang beser. Bolak-balik rumah sakit menarik keringat dan darah orang-orang. Yang berjalan dua kaki jadi pincang, yang kedua tangannya tak apa diamputasi, yang jantungnya lemah ya dilemahkan saja sekalian. Kalau sudah tak bisa diselamatkan, masa iya mau keukeuh diselamatkan? Buat apa juga. Jadinya malah membebani keuangan negara. Lagi-lagi, beruang di mana-mana. Rakyat mending diganti beruang. Sebab dia tak akan pernah protes. Paling menggigit atau membunuh. Atau sebaik-baiknya beruang palingan hanya mencakar. Orang-orang yang menulis di tembok, di gerbang yang hendak dirobohkan, di kolong jembatan, di tong sampah tengah kota di pinggir masjid yang saban hari ubarunya berteriak-teriak untuk menguatkan iman supaya tak tersesat dalam hidup yang penuh tipu daya.

Aku juga tahu hidup sehat memang susah. Kalau bisa tidur sampai siang mengapa kudu repot bangun pagi? Lagian, mau ngurus apa juga? Negara ini sudah diurus dengan baik kok. Buktinya orang-orang pada gandrung sepedahan. Entah pejabat, ASN, pegawai BUMN, politikus, semua suka sepedahan. Sudah tentu mereka itu orang-orang baik karena selalu bike, bike, dan bike. Kayuh sampai jauh. Mengejar elevasi supaya bisa setara dengan Cina dan Rusia. Supaya kelak bisa balapan melawan Iran atau adu kecepatan melawan operasi tangkap tangan. Hanya saja aku sadar, perlu lebih cepat dan memulai lebih dulu supaya tak didahului ketua partai.

Kita ini bangsa yang beser. Hanya bergantung pada kelamin. Itu kenapa orang-orang pada doyan vitamin. Bikin nagih. Nagih janji-janji di selebaran lama, nagih visi-misi di baliho-baliho pinggir jalan, nagih kesepakatan yang dibuat di meja biliar atas pengaruh smirnoff atau bintang-bintang atau vodka Rusia. Segar! Campur kuah ganja dan tumis genjer-genjer. Tak lupa biar tubuh sehat bumbu-bumbu pun tak boleh hanya bambu-bambu runcing. Kan banyak, tinggal beli. Sudah banyak bumbu yang dikemas (sa)setan. Amerika menjual, Rusia menjual, bahkan Israel pun menjual. Tak usah ribut. Itu semua demi harga diri bangsa(t).

Aku juga tahu orang hidup memang kudu mencari aman dan tenang. Biar lancar menjalani ibadah. Bisa salat di kamar sejuk dengan lampu temaram dan bunyi air mengalir lalu berdoa supaya bisa umroh tiap tahun dan dijembarkan rezeki supaya dapat naik haji berkali-kali. Tetangga yang tak punya beras mengapa harus jadi urusan kita? Anak yatim di belakang rumah, biar cari uang sendiri. Bukankah rezeki sudah diatur dari sananya dan tak mungkin tertukar? Di semak belukar pun ada rezeki bagi serangga-serangga yang mau bergerak, berusaha, bekerja. Kerja, kerja, kerja. Lagian hidup hanya untuk ibadah, kok. Quran juga berkata seperti itu. Urusan banyak orang di luar rumah kita sengsara, aduh, itu ibadahnya pasti kurang, pasti malas-malasan. Makanya jangan kerja terus, jadinya lalai ibadah. Hidup kok mikirin dunia terus. Dikira akhirat itu projek ibu kota negara yang tak jelas? Dikira neraka itu gedung dpr yang diisi orang-orang saleh? Aduh! Banyak-banyakin istigfar deh. Akhirat itu ada, neraka itu nyata. Bahkan sudah ada di hadapan kita.

Kita ini bangsa yang beser. Kencing di mana saja tak apa. Lagian tanah kita itu besar, panjang, banyak. Tak seperti Singapura yang meludah saja dilarang. Apa-apaan aturan begitu. Pasti bangsanya kecil; ekonominya lemah, pendidikannya tak maju, rakyatnya kudet. Harusnya kalau memang ingin jadi bangsa beser, tak boleh ada aturan yang melanggar hak asasi manusia semacam meludah atau kencing sembarangan. Bandingkan dengan alam kita yang luas. Banyak pohon ditebang sembarangan tetap baik-baik saja. Banyak pulau dikeruk isinya tetap santai-santai saja. Toh objek wisata masih banyak. Masih banyak pulau bisa dijadikan objek untuk wisata. Kalau perlu dan mau, boleh saja tinggal datang ke sini. Ambil apa pun yang kalian mau, yang atasan kalian suka, yang bos kalian impikan. Di sini ada semua kok. Bangsa beser, gitu! Emas tinggal ambil. Batu bara tinggal ambil. Pohon tinggal ambil. Butuh pasir buat memperluas daratan tinggal keruk. Gantinya, kirimkan beruang yang banyak. Tak baik bagaimana bangsa kita ini?

Aku juga tahu perang tak akan pernah berakhir. Sebab itu katanya metode paling ampuh untuk mengatur kehidupan supaya lebih baik—walau jadul. Tak apa, yang penting bukan baru atau tidaknya, tapi apakah itu manfaat atau tidak. Perang ada di mana-mana, itu niscaya dong. Malah di hati kita pun tiap hari peperangan itu terjadi. Apakah mungkin nongkrong di kopisop sambil santai menenggak mazagrak diganti membaca buku yang membosankan di bawah pohon pete yang sudah hidup dari zaman Hindia Belanda? Apa mungkin ibadah yang khusuk di dalam kamar yang sejuk dengan perut kenyang diganti panas-panasan turun ke jalan berteriak-teriak membakar ban merobohkan pagar membela orang-orang banyak?

Aduh, tak mungkin. Sudah dikatakan tadi jika hidup yang penting cari tenang dan aman. Percuma berguna tapi pikiran dan hati terus merasa waswas. Terus diawasi, terus dicari-cari, terus dikuliti buruk dan borok dalam diri. Aduh, aduh. Jadi manusia tak usah aneh-aneh. Hidup hanya perlu dijalani dengan sederhana. Belajar, sekolah, makan makanan bergizi yang dimasak kemarin sore, jadilah pintar, lalu rebutlah pekerjaan dari ribuan orang yang ngantri, kirim surat lamaran ke 19 juta lapangan kerja, terus seperti itu maka hidup akan membaik. Tak lupa, uangnya nanti kudu dicuci, dibersihkan. Sebab dalam uang yang kita miliki ada hak orang lain. Ada hak para pejabat, ada hak para menteri, ada hak aparat. Malah, tak cuma manusia. Dalam uang kita yang sedikit itu pun terkandung hak untuk tikus-tikus, untuk banteng-banteng, untuk burung garuda, untuk pohon beringin, dan segala makhluk yang sudah sepenuh hati bekerja untuk bangsa ini.

Ingat, kita ini bangsa yang beser.

Jangan kebanyakan minum—plisss!

Komentar