Postingan

Dari Rusia, Menuju Usia

  2018 aku mulai menulis skripsi. Jika dipikir-pikir sekarang—meski sebenarnya saat itu aku juga sangsi apa skripsi yang kutulis akan manfaat untuk orang lain atau minimal untuk diri sendiri tapi —ternyata ada gunanya juga. Yah setidaknya tak cuma sebatas tumpukan kertas yang dijilid dan diberi judul dan disimpan di perpustakaan kampus dan hanya jadi penghangat di sana di sela-sela gedung yang terlampau dingin. Dulu aku ingin tampak keren dengan menjadi berbeda, dengan melawan arus, dengan tak mengambil jenis penelitian yang mainstream . Padahal banyak kawan menyarankan ambil yang banyak diambil orang saja, biar punya teman saat mengerjakan, biar punya teman kalau bingung, biar punya teman untuk berbagi rasa cemas, dan karena, biar bisa lulus bareng-bersama seangkatan. Kupikir-pikir sekarang, ada benarnya juga sih. Soalnya sekarang aku tahu, skripsi yang bagus adalah skripsi yang selesai. Sederhana saja. Tapi dulu aku tak berpikir begitu. S uatu siang menjelang sore di kelas ...

Aku Juga

Dan dia mengingatnya dengan baik. Mengingat bagaimana kamu mampu bertahan sampai sejauh ini. Dan tak hanya bertahan tapi juga melakukan perbaikan-perbaikan. Dia mengingatmu sebagai perempuan tangguh. Dan baginya, perempuan tangguh bukanlah ia yang tak pernah merasakan sakit, tapi ia yang mampu bangkit berkali-kali. Kamu salah satunya. Kamu perempuan tangguh yang dia sayangi. Di dalam dirimu dia mengagumi sesuatu. Apalagi kalau bukan isi kepalamu yang dipenuhi batu. Barangkali, sebagian atau malah nyaris semua lelaki tak menyukai perempuan yang kepalanya dipenuhi batu. Itu karena mereka sadar, dalam perjalanan nanti mereka akan menemukan kemandirian dan keteguhan yang tak bisa goyah. Namun dia tak termasuk ke dalam mereka lelaki kebanyakan itu. Dia justru menyukaimu karena itu, karena isi kepalamu dipenuhi batu. Soalnya lelaki kebanyakan yang medioker itu tak punya kemampuan untuk melihat seluruhnya secara jelas dan jernih, sedangkan dia bisa melakukannya. Itu karena dia sering me...

Catatan Harian Iblis: Pintu Ajaib Kekufuran

  Dalam urusan menggiring manusia ke neraka biar aku punya teman di sana, salah satu kerjaan yang paling kusukai adalah memasukkan kesedihan ke dalam hati manusia. Ah, sungguh! Manusia, jika hatinya sudah tenggelam dalam kesedihan, segala hal buruk kantun menunggu beberapa menit untuk terjadi. Apalagi di zaman seperti sekarang. Ketika anak-anak Adam dari yang paling kecil sampai yang paling gede sudah tak bisa hidup tanpa hapenya yang pintar, benar-benar mudah rasanya. Aku kantun menuntun mereka melihat satu video dan hatinya akan langsung sedih. Betapa tugas yang teramat enteng bin menyenangkan. Sering aku menuntun manusia ke sana, ke reels instagram atau beranda tiktok. Di sana kubuat mereka tenggelam dalam konten-konten yang berisi pencapaian hidup orang lain. Anak-anak muda yang meski usianya masihlah muda tapi sudah tajir melintir. Anak-anak muda yang sudah punya pemasukan 10 miliar di usia 23 tahun, anak-anak muda yang sudah punya rumah dan mobil mewah di usia 25 tahu...

Perjalanan Menuju Kemarin

  Aku tak akan ke mana-mana. Tenang saja. Aku akan ada di sini, menemanimu, selalu. Kamu tak perlu cemas tak usah khawatir. Simpan saja tenagamu untuk belajar biar lolos tes CPNS. Bukankah itu salah satu mimpi besar dalam hidupmu? Perjuangkan saja itu. Fokus saja ke situ. Soal aku di sini, belakangan saja. Tak harus dipikir dari sekarang. Aku pun sadar, sadar sekali. Kamu masih perlu waktu. Yang kamu perlukan hanyalah waktu. Bisa jadi lama atau sebentar tapi yang kamu perlukan hanyalah waktu. Hadapi ketakutan itu, hadapi kemarahanmu. Jangan biarkan masa lalu menginjak-injak masa depanmu yang cerah. Terus maju meski sakit. Tetap berjalan walau kaki terasa perih walau langkah terasa berat. Aku yakin kamu pasti bisa. Kamu akan selalu bisa. Cinta yang sebenarnya memang selalu datang terlambat. Ia datang setelah kita terluka dan dipenuhi banyak luka. Ia datang setelah hati kita patah, setelah harapan-harapan kita sekarat, setelah mimpi-mimpi kita meranggas mengenaskan. Ia memang sen...

Dunia Tanpa Tambeng Kecobung

Seminggu tumbang dan di pikiranku hanya ada tambang. Newcastle United semakin di depan, Manchester United masuk koalisi. Belum lagi katanya Liverpool juga menaruh minat dan tertarik. Bukan main. NU dan MU: dipisahkan tahlil, disatukan Bahlil. Soal qunut mereka gelut, tapi soal tambang, siapa yang tak sayang? Aku pikir-pikir, kalau disebut salah ya tak salah. Disebut keliru, kelirunya di mana? Toh tak ada peraturan yang dilanggar. Mau itu ormas, orba, orla, ordal, siapa pun itu, dari zaman jebot juga sudah banyak yang mengelola tambang. Sah-sah saja. Asal tebal kulit wajah. Asal nanti jangan mengeluh jika orang sudah tak mau lagi mendukung NU, misalnya. Sebab legitimasi moralnya sudah tak ada, dan kalau sudah begitu, tak mungkin lagi bisa jadi klub yang disayang suporter. Di awal kukira soal tambang tak akan seserius ini. Namun lama-lama, mencekam juga rasanya. Dalam rangka membela ubaru —soalnya ulama sudah ketinggalan zaman—ketua gerakan pemuda suporternya sampai bilang begini: ...

Basorexia

  It’s been a while. Since I’m writing in English. The last time I wrote something in another language, was for my thesis. But, well, now, to mark my two hundred works on my blog—actually on my way—I think it’s a perfect time to start again. That is life. You start something. Doing it for many years. Start to feel bored. Forget. You feel empty. Start searching for something to do. Remember. Do what you used to do again. Again, again, and again. It’s like the first time you fall in love with someone. You tried so hard at the beginning but when she was already yours, you started to forget how important a little thing should be. And then you start again, again, again. Learn from your mistakes. I don’t know what’s the best topic to talk about. I don’t know, really, and I don’t care. I just want to write something in English. In another language—perhaps it can take me—to another world. Probably about my future, or my anxiety, or about how bad our nation has been lately, or, for su...

Hajat Laut Pakidulan

  Ingatanku terlempar jauh. Pada suatu masa saat aku masihlah seorang bocah. Entah berapa tahun usia. Tapi di tahun itu, itulah pengalaman pertamaku ikut menyaksikan serunya tasyakur nelayan di pantai selatan; Hajat Laut Pakidulan. Waktu itu pagi-pagi. Aku bareng kakak perempuanku berangkat ke Pantai Santolo, hendak menonton kakakku yang lelaki mewakili sekolahnya lomba dayung perahu. Sungguh pengalaman mengesankan. Tiba di pantai Santolo yang sudah dipenuhi orang-orang; penonton, pedagang, pengamen, aparat keamanan, dan tentu saja tukang parkir. Pantai pagi cerah, sejuk, walau sesak namun nafas benar-benar ringan rasanya. Aku tak benar-benar ingat seperti apa lomba dayung perahu itu. Ingatanku hanya terbatas pada debur ombak, dan debar semangat para pedayung perahu di kejauhan sana yang berjejer bagai barisan tentara Korea Utara. Rapi sekali. Di tengah laut, mereka semua meneriakkan seruan-seruan semangat, teriakan-teriakan yang membangkitkan gairah perlombaan. Ikat di kepal...