Postingan

Sekilas Info

Gambar
  Kau tak perlu menyerah di titik ini? Apa mau menyerah saja? Kuberitahu kau, masalah akan selalu ada. Mau di mana pun kau berdiri. Apa mungkin masalah yang kau anggap itu sesungguhnya bukanlah suatu masalah ? Barangakali ya, bukanlah masalah. Kau hanya tak pandai menempatkan diri. Kau hanya tak paham bagaimana perasaan orang bekerja. Kau biasanya, untuk menyelesaikan apa yang kau anggap masalah, bukankah dengan onani? Nah! Jika onani bisa membuat tubuhmu rileks dan otakmu tak spaneng, maka onanilah. Onani saja tanpa pedulikan apa pun. Onani saja sampai kau puas. Onani saja sampai apa yang kau anggap masalah itu selesai. Jika dengan onani sesuatu yang kau anggap masalah itu tak selesai, maka selesaikan saja dengan minum-minum atau mengganja. Bukankah biasanya begitu? Bukankah jika suatu masalah tak bisa diselesaikan dengan onani kau biasa menyelesaikannya dengan minum-minum atau mengganja? Maka minum-minumlah sebagaimana biasa. Ajak kawan-kawan terbaikmu jika perlu. Tapi jika...

Ular

Gambar
  Kau tersesat di belantara hutan, dan aku adalah ular yang menemanimu. Aku hanya binatang menjijikan. Bersisik, bertaring, dan berbisa. Kata orang, aku hewan liar dan ganas. Sering orang menganggapku tak berguna. Sering orang mencelaku sebagai nista. Malah, dengan brutalnya, orang sering menjadikanku sebagai simbol kelicikan. Aku tak pernah ambil hati. Aku cuek saja dengan omongan orang. Toh yang tahu diriku ya hanya aku. Toh yang menjalani hidupku ya aku sendiri. Ketika kau tersaruk di belantara hutan ini, aku tengah kelaparan mencari mangsa. Biasanya sesiang itu aku sudah bisa makan seekor tikus atau ular-ular kecil. Tapi siang itu tak seperti siang-siang yang telah lalu. Siang itu aku belum makan seekor tikus pun. Aku belum menelan seekor ular pun. Dan saat rasa lapar sedang mendidih di ubun-ubun, aku malah melihatmu berjalan tersaruk. Kau kuncup bunga yang cantik. Tubuhmu ayu dan warna-warni. Sedang apa kau siang-siang di belantara hutan ini? “Aku sedang mencari mata...

Dara

Gambar
  Dara yang satu ini kutemukan sedang menangis di dekat makam Kanjeng Nabi Muhammad. Ia sedang menangis, tengah menyapa dan meluruh kerinduannya dengan kakek moyangnya. Ia menangis, menangis, menangis, menangisi segalanya. Kerinduannya mekar dari seluruh tubuhnya. Terutama dari kelopak matanya. Kerinduan-kerinduannya yang telah mekar itu lantas melesat ke langit, melawan angin, menembus awan, menuju arasy. Mereka hendak kembali ke pangkuan jiwannya yang terbaring di lauhul mahfudz. Dara yang satu ini, entah mengapa aku merasa begitu mengenalnya meski tak pernah bertemu. Samar-samar, raut wajahnya mengingatkanku pada semburat layung yang terperangkap di dalam gulungan ombak. Laun-laun, bening matanya memampukanku bercermin sehingga aku dapat dengan jelas melihat diriku seutuhnya. Dan kelopak matanya, kelopak matanya …. Aku ingin berbaring di kelopak matamu; sudahkah kau terlelap? Dara yang satu ini, pandai sekali ia menari dan memanjat. Kulihat setelah rampung menangis di deka...