Ular
Kau tersesat di belantara hutan, dan aku adalah ular yang menemanimu.
Aku hanya binatang menjijikan. Bersisik, bertaring, dan berbisa. Kata orang, aku hewan liar dan ganas. Sering orang menganggapku tak berguna. Sering orang mencelaku sebagai nista. Malah, dengan brutalnya, orang sering menjadikanku sebagai simbol kelicikan. Aku tak pernah ambil hati. Aku cuek saja dengan omongan orang. Toh yang tahu diriku ya hanya aku. Toh yang menjalani hidupku ya aku sendiri.
Ketika kau tersaruk di belantara hutan ini, aku tengah kelaparan mencari mangsa. Biasanya sesiang itu aku sudah bisa makan seekor tikus atau ular-ular kecil. Tapi siang itu tak seperti siang-siang yang telah lalu. Siang itu aku belum makan seekor tikus pun. Aku belum menelan seekor ular pun. Dan saat rasa lapar sedang mendidih di ubun-ubun, aku malah melihatmu berjalan tersaruk.
Kau kuncup bunga yang cantik. Tubuhmu ayu dan warna-warni. Sedang apa kau siang-siang di belantara hutan ini?
“Aku sedang mencari matahari,” katamu.
Aku yang terbiasa hidup di bawah bayang-bayang dan kegelapan merasa heran. Matahari, buat apa? Ah ya, aku baru sadar. Kau itu kuncup bunga cantik, dan akan semakin cantik jika telah mekar, dan untuk mekar, tentu kau butuh matahari.
“Apa tidak sekalian mencari sungai?”
“Setelah bertemu matahari, aku memang berniat mencari sungai.”
Aku menjulurkan lidahku. Aku bersedia mengantarmu menemui matahari dan tak hanya matahari, aku akan sekalian mengantarkanmu menemui sungai panjang di tepi hutan. Kau cekatan menaiki tubuhku, tapi sebelum tancap gas, aku punya satu permintaan … dan kau tiba-tiba mencium kepalaku.
.png)
Komentar
Posting Komentar