Dara


 

Dara yang satu ini kutemukan sedang menangis di dekat makam Kanjeng Nabi Muhammad. Ia sedang menangis, tengah menyapa dan meluruh kerinduannya dengan kakek moyangnya. Ia menangis, menangis, menangis, menangisi segalanya. Kerinduannya mekar dari seluruh tubuhnya. Terutama dari kelopak matanya. Kerinduan-kerinduannya yang telah mekar itu lantas melesat ke langit, melawan angin, menembus awan, menuju arasy. Mereka hendak kembali ke pangkuan jiwannya yang terbaring di lauhul mahfudz.

Dara yang satu ini, entah mengapa aku merasa begitu mengenalnya meski tak pernah bertemu. Samar-samar, raut wajahnya mengingatkanku pada semburat layung yang terperangkap di dalam gulungan ombak. Laun-laun, bening matanya memampukanku bercermin sehingga aku dapat dengan jelas melihat diriku seutuhnya. Dan kelopak matanya, kelopak matanya …. Aku ingin berbaring di kelopak matamu; sudahkah kau terlelap?

Dara yang satu ini, pandai sekali ia menari dan memanjat. Kulihat setelah rampung menangis di dekat makam Kanjeng Nabi Muhammad, ia pun menari-nari di sela-sela Masjid Nabawi. Tariannya sungguh tak bisa dilihat dengan sembarang mata. Hanya mata seorang lelaki yang hatinya pernah berdarah yang mampu menyaksikan tarian agungnya. Tariannya itu, membawaku kembali menuju puisiku yang telah usang dan berkarat.

Dara yang satu ini, dara yang kutemukan sedang menangis di dekat makam Kanjeng Nabi Muhammad, dara yang aku merasa telah mengenalnya meski belum pernah bertemu, dara yang samar-samar mengingatkanku pada semburat layung yang terperangkap di dalam gulungan ombak, dara yang bening matanya memampukanku bercermin sehingga aku dapat dengan jelas melihat diriku seutuhnya, dara yang pandai menari dan memanjat, dara yang membuatku tak lagi merasa … asing. Apa kau menangis sendirian?

Jika iya, di bawah ini adalah ayat-ayat yang selalu kubaca untuk menemanimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah