Postingan

Gerakan Khilaf Ah: Kejadian Satu

Peristiwa ini terjadi pada jum’at siang saat jum’atan di suatu masjid yang terletak di tengah pemukiman padat penduduk. Menurut seorang saksi mata, kala itu Pak Ustad seperti biasa sedang menjadi khatib dan sedang menyampaikan ceramahnya sebelum tiba-tiba seorang pemuda berdiri, lalu kemudian dengan nada kesal ia bicara: “Pak Ustad ini gimana sih? Dikit-dikit kapir, ini kapir, itu kapir, begini kapir, begitu kapir. Pak Ustad itu sebenarnya menguasai ilmu agama apa tidak? Kalau mau saling kapir mengkapirkan, sekarang kita memang hidup di alam kekapiran. Motor yang Pak Ustad pake itu bikinan kapir, enggak ada motor buatan Arab. Mobil yang Pak Ustad pake juga bikinan kapir, bukan Arab. TV di rumah Pak Ustad bikinan kapir, hape Pak Ustad bikinan kapir, lampu di rumah Pak Ustad bikinan kapir, listrik yang Pak Ustad pake juga hasil karyanya orang kapir. Mau tidak mau dunia ini memang sudah penuh dengan kekapiran. Jangankan di dunia, sesungguhnya masjid ini juga ada di alam kekapiran....

Gundala : Pahlawan Kelas Pekerja

            Sancaka merupakan seorang pahlawan yang lahir dari akar rumput. Jatuh bangun dan pahit-asam-manis kehidupan Sancaka secara keseluruhan dimulai dari pabrik. Tak lain di Indonesia, pabrik adalah sebuah simbol harapan bagi masyarakat sekaligus simbol penindasan. Banyak pekerja yang dipekerjakan di pabrik, dimulai dari anak-anak yang baru lulus SMA atau mahasiswa-mahasiswi yang baru kelar menyelesaikan kuliahnya. Kebanyakan dari mereka hidup sampai tua membusuk di pabrik, sebab terkadang hanya itulah harapan satu-satunya untuk tetap dapat menyambung hidup.                            Dalam membuka Gundala, Joko Anwar pertama-pertama mengarahkan fokus penonton untuk merenungi kenyataan kerasnya kehidupan di sebuah pabrik. Bagaimana para buruh yang tak puas dengan upah yang mereka terima berbondong-bon...

Kerinduan Seorang Gus

            Gus terlihat berbeda akhir-akhir ini, aneh saja rasanya melihatnya tak seceria biasanya. Seperti seekor ular yang digetok kepalanya, setiap hari ia hanya diam dengan wajah murung, tubuh lemas, rambut kusut dan tak pernah berhenti memeluk gitar rompeng kesayangannya. Aku sempat menebak ia sedang tak punya uang lalu sedang kelaparan, tapi kulihat ia masih bisa menghisap rokok kesukaannya. Sempat juga aku berpikir apa dirinya sedang bermasalah dengan kekasihnya, tapi aku juga kemudian ingat kalau ia gay dan belum memiliki pasangan. Sudah seminggu ia tak keluar ke luar kontrakan, tak pernah berangkat kuliah, jum’atan juga tidak, ke masjid apalagi. Setiap hari yang dilakukannya hanyalah menyanyikan lagu-lagu Dewa 19.             “Kau kenapa, Gus?”             Ia hanya diam, tak berselera untuk bicara apala...