Gerakan Khilaf Ah: Kejadian Satu


Peristiwa ini terjadi pada jum’at siang saat jum’atan di suatu masjid yang terletak di tengah pemukiman padat penduduk. Menurut seorang saksi mata, kala itu Pak Ustad seperti biasa sedang menjadi khatib dan sedang menyampaikan ceramahnya sebelum tiba-tiba seorang pemuda berdiri, lalu kemudian dengan nada kesal ia bicara:

“Pak Ustad ini gimana sih? Dikit-dikit kapir, ini kapir, itu kapir, begini kapir, begitu kapir. Pak Ustad itu sebenarnya menguasai ilmu agama apa tidak? Kalau mau saling kapir mengkapirkan, sekarang kita memang hidup di alam kekapiran. Motor yang Pak Ustad pake itu bikinan kapir, enggak ada motor buatan Arab. Mobil yang Pak Ustad pake juga bikinan kapir, bukan Arab. TV di rumah Pak Ustad bikinan kapir, hape Pak Ustad bikinan kapir, lampu di rumah Pak Ustad bikinan kapir, listrik yang Pak Ustad pake juga hasil karyanya orang kapir. Mau tidak mau dunia ini memang sudah penuh dengan kekapiran. Jangankan di dunia, sesungguhnya masjid ini juga ada di alam kekapiran. Toa yang dipake bikinan kapir, mik yang Pak Ustad pake itu bikinan kapir, ampli bikinan kapir, keramik ini bikinan kapir, kloset di kamar mandi tempat Pak Ustad buang tai bikinan kapir, keran yang Pak Ustad pake buat wudhu bikinan kapir, kipas di atas ini bikinan kapir, jam dinding itu juga bikinan kapir tapi, apa Pak Ustad otomatis mengharamkan masjid ini buat dipake ibadah? Kan enggak? Ini Pak Ustad, ada orang pake ambulan dibilang ‘jangan’ karena di ambulan ada lambang kapir, orang-orang nonton drama korea dikatain kapir, orang-orang merayakan valentine dikapirin juga, hampir semua Pak Ustad bilang kapir dengan dalil ‘barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut’. Padahal mungkin yang kapir itu Pak Ustad, karena sering ngapir-ngapirkan orang. Pak Ustad enggak bakal bisa hidup kalau enggak hidup di alam kekapiran ini. Kemajuan teknologi yang sekarang Pak Ustad rasakan dan nikmati, semua produk kapir. Pak Ustad kadang dakwah pake instagram, itu kan buatan kapir? Twitter kapir, youtube kapir, facebook kapir, whatsapp kapir, kamera yang dipake buat merekam Pak Ustad kalau dakwah juga bikinan kapir. Pak Ustad itu kan kata orang ilmu agamanya dalam, mondoknya lama, kuliahnya sampai ke Mesir, ya jangan sependek itulah mikirnya. Masa dikit-dikit dikapirkan? Pak Ustad naik haji nih, itu kan pake pesawat? Berarti Pak Ustad juga kapir, kan pesawat buatan kapir? Ustad itu mikirnya apa-apa yang dibikin kapir buat kemajuan dunia ini enggak bisa kita konsumsi, selalu bilang bukan budaya islam. Sekarang saya tanya, memang budaya islam yang asli itu yang seperti apa? Coba dijawab?! Tidak ada Pak Ustad, tidak ada yang asli. Kubah yang sekarang biasa digunakan di masjid itu budaya gereja kristen romawi. Menara yang sekarang juga biasa dibangun di masjid, itu juga budaya orang-orang persia majusi. Enggak ada budaya asli islam itu, semuanya sudah campur-campur. Makanya santai ajalah Pak Ustad, selow. Enggak usah mengkopar-kapirkan ini itu. Tuhan pasti mengerti melihat keadaan kita sekarang. Kalau Tuhan tidak mengerti, berarti kita salah pilih Tuhan. Pak Ustad mungkin salah pilih Tuhan. Sebab hakikatnya, Tuhan itu Maha Mengerti. Jadi santai aja, jangan apa-apa dikapir-kapirkan. Makanya selain mengaji, Pak Ustad harusnya baca buku juga!”

Seorang saksi lain menjelaskan bahwa Pak Ustad memang tak bisa menjawab apa yang dikatakan pemuda itu. Hasilnya, pemuda tersebut babak belur dikeroyok oleh seluruh jama'ah, termasuk Pak Ustad. Pengeroyokan tersebut baru bisa dilerai setengah jam kemudian saat beberapa anggota polsek datang setelah mendapat laporan dari ibu penjual lotek di depan masjid melalui telepon. Pemuda tersebut pun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Menurut laporan terakhir, keadaan pemuda tersebut semakin memburuk, pemuda tersebut koma.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah