Kerinduan Seorang Gus


            Gus terlihat berbeda akhir-akhir ini, aneh saja rasanya melihatnya tak seceria biasanya. Seperti seekor ular yang digetok kepalanya, setiap hari ia hanya diam dengan wajah murung, tubuh lemas, rambut kusut dan tak pernah berhenti memeluk gitar rompeng kesayangannya. Aku sempat menebak ia sedang tak punya uang lalu sedang kelaparan, tapi kulihat ia masih bisa menghisap rokok kesukaannya. Sempat juga aku berpikir apa dirinya sedang bermasalah dengan kekasihnya, tapi aku juga kemudian ingat kalau ia gay dan belum memiliki pasangan. Sudah seminggu ia tak keluar ke luar kontrakan, tak pernah berangkat kuliah, jum’atan juga tidak, ke masjid apalagi. Setiap hari yang dilakukannya hanyalah menyanyikan lagu-lagu Dewa 19.

            “Kau kenapa, Gus?”

            Ia hanya diam, tak berselera untuk bicara apalagi menjawab, persis seperti biasanya ketika kutanya. Banyak pertanyaan ‘Kau kenapa, Gus?’ yang kulemparkan yang tidak pernah dijawabnya. Aku juga sempat beberapa kali mengganti pertanyaannya menjadi seperti ‘Ada masalah apa, Gus?’, ‘Kalau ada masalah, cerita saja, Gus?’, ‘Apa tidak bosan seperti ini terus, Gus?’, ‘Kemarin masjid kampus kebakaran lho, Gus?’, ‘Apa ada Kyaimu yang meninggal, Gus?’, sampai ke ‘Pesantrenmu bangkrut ya, Gus’?, dan semua bentuk pertanyaan yang sudah kuubah tersebut tetap tak dijawabnya.

            Dalam kesempatan selanjutnya setelah gagal dengan bentuk pertanyaan, aku kemudian mengubah pendekatan untuk mengetahui masalahnya dengan bentuk pernyataan. Beberapa pernyataan yang coba kulempar adalah seperti ‘Gila Gus, hari ini panas sekali.’, ‘Wah akhirnya hujan juga nih Gus.’, ‘Tadi aku hampir ketabrak mobil ambulan Gus.’, dan ‘Acaranya seru sekali tadi Gus.’, tapi tetap saja ia hanya diam. Kemudian sempat terlintas di benak mengenai kemungkinan ia kena stroke, tapi kemungkinan tersebut juga terbantah karena ia masih tetap lincah memainkan gitar.

            “Kopi Gus, biar ngerokoknya enak.” Kusodorkan kopi ke hadapannya.

Anehnya ia mengangguk, meski padahal dirinya sedang menyanyi lagu Laskar Cinta.

            Wahai jiwa-jiwa yang tenang jangan sekali-kali kamu
            Mencoba jadi Tuhan dengan mengadili dan menghakimi
            Bahwasanya kamu memang tak punya daya dan upaya
            Serta kekuatan untuk menentukan kebenaran yang sejati
            Bukankah kita memang tercipta laki-laki dan wanita
            Dan menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa yang pasti berbeda
            Bukankah kita memang harus saling mengenal dan menghormati
            Bukan untuk saling bercerai dan berperang angkat senjata

            Setelah menyelesaikan nyanyiannya, kemudian secara ajaib ia bertanya:

            “Kau sudah nonton NGOBAM-nya Gofar Hilman dengan Ari Lasso?”
            
            “Belum sempat, Gus.”
            
            “Asu! Aku rindu Ahmad Dhani.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah