Gundala : Pahlawan Kelas Pekerja


            Sancaka merupakan seorang pahlawan yang lahir dari akar rumput. Jatuh bangun dan pahit-asam-manis kehidupan Sancaka secara keseluruhan dimulai dari pabrik. Tak lain di Indonesia, pabrik adalah sebuah simbol harapan bagi masyarakat sekaligus simbol penindasan. Banyak pekerja yang dipekerjakan di pabrik, dimulai dari anak-anak yang baru lulus SMA atau mahasiswa-mahasiswi yang baru kelar menyelesaikan kuliahnya. Kebanyakan dari mereka hidup sampai tua membusuk di pabrik, sebab terkadang hanya itulah harapan satu-satunya untuk tetap dapat menyambung hidup.
             
             Dalam membuka Gundala, Joko Anwar pertama-pertama mengarahkan fokus penonton untuk merenungi kenyataan kerasnya kehidupan di sebuah pabrik. Bagaimana para buruh yang tak puas dengan upah yang mereka terima berbondong-bondong menuntut keadilan. Ini bukan suatu kenyataan baru di negeri Pancasila, semua orang mafhum akan tuntutan semacam ini dan semua orang juga cepat lupa akan hal ini. Sancaka lahir dalam lingkaran seperti ini; lingkungan pabrik, keluarga buruh, bertetangga buruh, bahkan mungkin ketua RT-nya juga buruh, dan kedua orang tuanya pun mati sebagai buruh.

            Pabrik juga menyebabkan Sancaka kehilangan orang tuanya. Bapaknya mati ditusuk oknum bayaran dalam sebuah kerusuhan yang mungkin disutradari pabrik. Ibunya pergi ke Tenggara karena menganggap sudah tak ada harapan lagi di pabrik, sebelum kemudian ia sakit lalu meninggal. Sancaka kehilangan semuanya. Hidupnya miskin, susah, kelaparan, tak ada sanak famili. Ia pun hidup menggelandang di jalan. Menjalani kehidupan keras yang seringnya mematikan membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara fisik dan tak berselera untuk mencampuri urusan orang lain. Sampai tiba pada waktu Sancaka telah menjadi seorang dewasa, dan ia masih hidup di lingkaran yang sama. Secara teknis ia bukan buruh, hanya seorang satpam pabrik. Tapi, sebab seorang satpam pabrik juga digaji oleh pabrik, maka tak berlebihan jika mengatakan bahwa dirinya tetap saja seorang buruh pabrik.

Satpam dapat dikatakan sebagai representasi seorang pahlawan di lingkaran ini, disebabkan tugas-tugasnya yang cukup berat untuk menjaga keamanan pabrik, dan memastikannya dalam keadaan baik-baik saja. Dalam kerangka lebih luas yang lebih definitif, pahlawan adalah seorang yang memiliki tugas menjaga keamanan, ketertiban, kenyamanan dan kelangsungan hidup di suatu komunitas masyarakat. Jadi tak berlebihan untuk menyebut Sancaka adalah seorang pahlawan, pahlawan parbrik.

Semasa menjadi seorang satpam, Sancaka belajar banyak dari satpam tua temannya bekerja tentang arti sebuah kepedulian pada sesama. Sosok pak Agunglah yang akhirnya mampu merubah Sancaka egois menjadi Sancaka sosialis. Ia mulai menghajar preman-preman rese yang secara berkelanjutan mengganggu seorang gadis cantik beserta adiknya yang merupakan tetangga kosnya. Benang  merah mulai terurai, efek domino pun muncul. Ia selanjutnya membantu para pedagang kecil di pasar lepas dari intimidasi preman-preman pasar. Sejenak mengembalikan keamanan dan ketertiban di pasar. Meski setelahnya, pasar yang ia selamatkan tetap porak-poranda dibakar kuasa jahat yang lebih  besar.

Pengkor menjadi contoh paduan sempurna antara kegetiran, angkara murka, dendam, dan takdir. Secara gamblang, Pengkor adalah cerminan roh jahat itu sendiri. Akibat tindak-tanduknya, Pengkor juga tak lepas dari hukum alam yang mengharuskan dirinya menerima efek domino yang kemudian mengantarkannya pada Sancaka. Lagi-lagi pabrik menjadi sebuah akhir dari semua awal. Sancaka dan Pengkor pun bertarung demi membela keyakinannya masing-masing. Pada akhirnya, untuk sementara kuasa baik menang melawan kuasa jahat, dan Sancaka pun resmi ‘dilantik’ menjadi Pahlawan Kelas Pekerja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah