Menggurat Batu
Aku tak pernah ingin menyerah
Tapi, masihkah berarti kalau kalah?
Waktu menyiram tubuh
Darah pun menjadi putih
Aku tahu saat untuk pasrah
meski jauh di dalam tanah,
kulambai dirimu dengan pedih.
–Kulambai Dirimu. 14 Januari 1996. Seno Gumira Ajidarma.
Sekarang aku tengah berdiri di bibir sebuah tebing curam. Memandang ke depan adalah bagian sisi tebing curam yang lain. Menengok ke bawah adalah jurang batu sebelum sungai ganas setelahnya. Memandang ke atas adalah gerombolan awan yang sedang digembalakan oleh para malaikat asuhan Jibril.
Aku berdiri sendiri. Mematung. Merasakan angin mempermainkan tekadku yang rapuh. Mendapati matahari menyengat perasaanku yang layu. Tersengal akibat udara bersekongkol dengan tanah yang kupijak untuk melemahkan nafasku dan terutama, untuk menghentikan langkahku.
Telah sejauh ini aku melangkah. Sudah sepanjang ini aku berjalan. Menelusuri hutan belantara. Menapaki curamnya bebatuan. Dengan segala keterbatasanku, tapi aku tetap melangkah, melangkah, dan melangkah. Aku tetap melangkah menuju padamu.
Dan sekarang aku telah sampai di sini. Aku tengah berdiri di bibir sebuah tebing curam. Memandangi sisi tebing curam yang lain di sebelah sana. Akankah aku bisa melanjutkan perjalanan ini? Anggap saja aku mampu, tapi, bagaimana caranya? Jarak antara tebing yang di bibirnya aku sedang berdiri dengan tebing yang sedang kupandangi di sebelah sana alangkah teramat jauhnya. Jauh sekali. Bahkan untuk aku yang telah terbiasa menapaki jalan yang begitu jauh, jarak tebing curam yang sedang kupandangi masihlah lebih jauh.
Aku tak hendak terburu-buru. Aku tak mau gegabah mengambil keputusan. Maka kuputuskan untuk duduk bersila, menarik nafas, menarik nafas, dan menarik nafas. Mengembuskannya ke alam raya, mengembuskannya ke alam semesta, mengembuskannya ke dalam jantung. Aku tak hendak terburu-buru sebab aku masihlah ragu. Aku tak mau gegabah hingga pada saatnya hati dan pikiranku telah tergugah.
Dalam keadaan bersila saat sedang menarik dan mengembuskan nafas di tengah-tengah kalimat istigfar yang keseribu tiga ratus lima puluh dua ketika matahari nyaris menabrak ubun-ubun aku tergelincir jatuh ke dalam kolam yang berisi kalam tanpa sedikit pun kelam.
Di sana suasana dingin dan sunyi. Rumput santai bergoyang. Kucing asyik bermain dengan jangkrik. Malam terhampar di sepanjang mata dan bintang-bintang terlihat berkumpul bertamasya bersamanya. Aku kembali mengambil posisi bersila, mengeluarkan sebatang rokok sebelum kemudian memantiknya dengan sepercik api dari puisi Seno Gumira Ajidarma. Lantas hatiku perlahan merangkak dari rasa sedih. Lantas pikiranku melayang berusaha menggapai solusi di tepi pikiranku yang rongsok.
Hal pertama yang bisa kupungut dari rongsokan yang ada di dalam pikiranku adalah aku harus menanam cabe. Cabe adalah tanaman yang menguntungkan. Harganya memang tak pernah stabil dan selalu bikin jantung ibu-ibu yang doyan sambal serasa hendak copot. Tapi walau tak pernah stabil dan cenderung bertindak semau-maunya, kebetulan sekali bulan ini harganya sedang tinggi. Ini kesempatan terbaik. Bagaimana tidak? Jika aku menanam cabe dan aku mengurusnya dengan baik dan merawatnya dengan telaten dan menyayanginya dengan sepenuh hati, bukan tidak mungkin aku akan memanen banyak untung. Aku akan dapat banyak uang, yang bisa kugunakan untuk membeli bahan-bahan untuk membangun sebuah jembatan di antara dua tebing curam itu–Ah ya … jembatan. Aku hanya perlu membangun jembatan supaya bisa terus berjalan menapaki kisah cintaku ini. Cabe, cabe, cabe. Aduh tapi dipikir-pikir sulit juga menanam cabe di musim kemarau seperti ini. Harus kusiram air dari mana jika aku hendak menanamnya? Lagi pula cabe itu pedas dan pedas lebih dekat kepada panas dan panas cenderung menimbulkan emosi dan emosi kerap kali membawa kita untuk mengambil suatu keputusan buruk. Aku tak mau itu terjadi. Aku hanya ingin membangun jembatan supaya bisa terus melangkah menapaki kisah cinta ini, dan bukan untuk terlena oleh keputusan buruk.
Lalu pikiran-pikiran ini menyembul dari banyaknya rongsokan. Bahwa aku harus menanam padi di atas batu. Bahwa aku harus memburu rembulan di malam lailatulqadar. Bahwa aku harus memanah bintang-bintang di atas sana. Bahwa aku harus melumpuhkan gerombolan awan yang sedang digembalakan oleh para malaikat asuhan Jibril. Bahwa aku harus menjaring angin. Bahwa aku harus menculik malam. Bahwa aku harus bertarung melawan pagi. Bahwa aku harus tirakat di atas batu datar dengan sesajen lengkap termasuk adanya ayam cemani menghadap pantai selatan. Bahwa aku harus kembali belajar bertapa kepada Hanuman di Gunung Kendalisada. Bahwa aku–
“Antum terlalu banyak mikir yang berat-berat,” tegur sebuah suara.
Aku tak perlu berpikir dua kali dan bahkan sebenarnya aku tak perlu berpikir untuk tahu itu suara siapa.
“Antum terlalu banyak mikir yang berat-berat.”
“Jadi aku kudu bagaimana, Jibril?”
“Kau hanya perlu bangun, sadar, dan melihat segala sesuatunya secara perlahan dan menyeluruh.”
“Jadi aku harus–“
“Antum tak perlu memikirkan telur itu akan menetas kapan. Itu bukan urusan antum.” Ia mengisap rokok terlebih dahulu sebanyak seribu isapan sebelum berucap menutup, “Itu urusan dirinya sendiri dan Tuhan kita.”
“Memangnya siapa Tuhan bagi lelaki patah hati sepertiku, Jibril?”
“Dialah cinta yang tumbuh dewasa di lahan tandus.”
Aku bangun. Aku sadar. Aku mulai melihat segala sesuatunya secara perlahan dan menyeluruh. Di tempat aku berdiri di bibir tebing curam tempat kakiku berpijak, aku tak lagi merasakan jarak teramat jauhnya. Sebuah jembatan walau rompal di sana-sini dengan tali-talinya yang lusuh kurang rawat menyergap kedua mataku. Ternyata selama ini tak ada jarak sedikit pun. Ternyata selama ini tak ada jurang atau tebing curam atau sungai ganas. Aku hanya salah melihat. Aku hanya kurang mengerti bagaimana rindu bekerja. Aku hanya kurang awas terhadap hasrat yang setiap saat mengintai.
“Untuk bisa melangkah meniti jembatan itu, antum hanya perlu menyiraminya dengan sabar dan menambal segala lubangnya dengan ikhlas.”
“Jadi selama ini aku telah salah melihat, Jibril?”
“Antum tak salah lihat. Tadi kedua mata antum hanya sedang tertutupi ego.”
Aku gemetar, tapi Jibril terlalu cekatan untuk langsung menyalakan rokok di bibirku tanpa diminta.
.png)
Komentar
Posting Komentar