Mengeja


 

Apakah ada cinta tanpa tapi?
Mungkinkah ada rindu tanpa tepi?
Dan adakah kebahagiaan tanpa tempik?
Nyatanya tempik tetaplah tempik
konat ngaceng mana mempan dikasih puisi.

Kemarin aku bertemu dan berbincang dengan kembang kamboja berwarna kuning. Bersamanya, aku mempercakapkan kehidupan setelah kematian. Apa benar Munkar-Nakir akan sebegitu keponya pada kehidupan kami. Apa mungkin tanah di dalam kubur akan menjepit seorang berlumuran dosa seperti kami. Apa iya bacaan quran kami akan mengalahkan terangnya lampu philips atau akan seredup electra lima watt. Dengannya, aku juga memperbincangkan, benarkah seorang pezina seperti kami akan mampus dihabisi Suja’ul Aqro. Bagaimana aku bisa mampus padahal diriku sendiri telah mampus? Bagaimana bisa aku dihabisi ular mengerikan itu padahal diriku sendiri telah habis? Apa siksa kubur memang semengerikan itu?

Si kembang kamboja berwarna kuning tak betul-betul memercayai semua itu. Katanya, itu semua hanya cerita akal-akalan yang dikarang sekenanya oleh para makelar surga yang tak kompeten. Ia tak percaya kalau Munkar-Nakir akan sebegitu keponya pada kehidupan kami, “Memang mereka tak punya urusan lain yang kudu diurus selain mengurusi urusan orang lain?”

Ia juga menampik tanah di kuburan yang akan menyempit, sebab penyempitan tanah hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang proyek suruhan pemerintah. Apalagi pada Suja’ul Aqro ular keparat itu. Itu betul-betul suatu omong kosong. Tapi, perkara bacaan quran yang akan mengalahkan terangnya lampu philips, ia punya pendapat lain. Tak hanya lampu philips, ia benar-benar percaya kalau bacaan quran bahkan akan melampaui teriknya matahari di siang bolong dan terangnya rembulan di malam sunyi.

Siksa kubur itu tak mengerikan. Siksa kubur itu sebagaimana ujian nasional, hanya terdengar seolah-olah mengerikan padahal tidak. Cerita bahwa siksa kubur itu mengerikan dan akan begini-begitu, seperti yang telah kubilang sebagaimana ujian nasional, hanya dibikin untuk menakut-nakuti saja. Padahal, jika makelar-makelar surga punya otak agak mendingan, kudunya mereka tahu, tak ada ketaatan dalam ketakutan. Kalaupun ada, itu hanyalah ketaatan yang munafik. Dalam ketakutan kau tak bisa taat, kau hanya bisa tersesat. “Kamu lihat bukan? Ujian nasional malah membikin orang-orang jadi goblok tak ketulungan.”

Sehari setelah kemarin aku bertemu dan berbincang dengan anggrek bulan yang sedang mekar. Bersamanya, sebelum mengobrol kami terlebih dahulu saling bermaaf-maafan. Bukan karena kami percaya pada idul fitri, pada cerita yang telanjur dipercaya kalau kami akan kembali suci, tapi kami melakukannya semata-mata karena meyakini bahwa jika kami menanam cabe maka cabe pula yang kami tuai, dan bukan tomat apalagi semongko.

Anggrek bulan yang sedang mekar lalu menceritakan asal usul maaf. Jaman Nabi, katanya, maaf tak laku di pasaran. Itu bukan karena orang-orang tak menanam cabe atau tomat atau semongko, tapi karena mereka telah begitu fasihnya menguasai ilmu manusia ilmu siluman dan ilmu dewa-dewa. Terutama, di jaman itu, orang-orang begitu mahir dalam bab ikhlas. Dari sanalah kemudian maaf menyusun rencana untuk bangkit dan bersinar. Ia mulai gemar mengadu domba orang-orang. Ia mulai terlatih membikin orang-orang lupa diri. Ia mulai cekatan membuat orang-orang saling membunuh. Caranya macam-macam. Karena ia pandai membikin minuman, maka dibikinlah minuman yang bisa bikin orang lupa diri dan gampang ngaceng. Karena ia pandai bercerita, maka dibikinlah cerita tentang kenikmatan dunia terutama senggama. Dan karena ia pandai bersiasat, maka ia pun dengan lihainya membikin orang-orang lupa pada siapa harus menyembah. Dengan cara-cara itulah maaf mulai mendapatkan popularitasnya. Begitulah kemudian orang-orang menjadi lupa, jika menanam cabe maka cabe pula yang dituai.

Lima hari setelah dua hari kemarin, di atas puncak pohon jaliti, aku bertemu dan berbincang dengan diriku. Benar kata orang-orang, ternyata betapa jangarnya untuk bertemu dengan diri sendiri. Aku pun berhasil menemuinya setelah tiga ratus tiga belas tahun menulis surat kepadanya di atas gulungan ombak. Selama itu pula aku menunggu. Syukurnya, penantianku itu terbayar walau dicicil.

Tak berbasa-basi, kami langsung membicarakan akan di mana hidup bersama. Apakah mau kembali ke masa lalu yang berantakan tapi yang begitu manisnya? Apakah mau berjalan di masa kini yang sunyi dan monoton? Ataukah mau mengembara ke masa depan yang tak pasti tapi yang begitu bergelora?

“Aku ingin kembali ke masa lalu,” katanya tanpa dipertimbangkan betul-betul.

“Aku menolak,” kataku melalui pertimbangan yang betul-betul. Masa lalu memang manis, tapi kan berantakan? Dipikir gampang membereskan segala kekacauan  yang telah kadung mendarah daging. Di sana memang manis, tapi segalanya ruwet, segalanya kusut. Segalanya berserakan, segalanya acak-acakkan.

“Terus kau menginginkan hidup di mana?”

“Bagaimana kalau di masa depan?” Tidakkah kau mendengar deburnya yang bergelora? Deburnya yang membikin jantung berdegup tak karuan. Di sana memang tak pasti, tapi segalanya justru menjadi mungkin. Jika kau mau, kita bisa hidup bersahaja menggarap sawah dan kebun. Menikah dengan seorang gadis desa yang kulitnya tak pernah dipoles skincare melainkan cukup dengan uap nasi panas. Atau kalau kau mau, kita bisa hidup di kabupaten yang sejuk yang tak begitu kota tapi juga tak begitu desa. Atau kalau enggan hidup bersahaja di desa dan ogah hidup berkecukupan di kabupaten, maka marilah kita menjelajahi kota-kota besar. Kita tiduri perempuan-perempuan di sana. Kita tipu orang-orang di sana. Kita habisi orang-orang di sana. Masa depan memang tak pernah pasti, tapi di sana segalanya mungkin. Tidakkah kau mendengar deburnya yang bergelora?

“Secepat apa kita bisa mencapai masa depan?”

“Bisa dari tiga detik hingga lima ribu tahun.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah