Menunggu Belenggu Meledak

 


Semuanya jadi begini. Kapan kelarnya? Kapan terbebas dari segala belenggu ini? Belenggu yang jika dibiarkan terlalu lama rasanya semakin anjing saja. Terus menerus menguras tenaga dan pikiran dan terutama, perhatian.

Aku bukan tak ingin lepas. Siapa juga yang tak ingin lepas dari belenggu semacam ini? Aku hanya tak tahu caranya. Aku hanya tak mengerti bagaimana melakukannya. Kawan-kawan kadang menolong, berkata jalan terbaik untuk lepas darinya adalah dengan merelakannya. Biarkan tubuhmu lepas darinya. Biarkan pikiranmu bebas darinya. Biarkan perhatianmu tuntas darinya. Dengan begitu, dengan merelakannya, dengan membiarkan tubuhmu dan pikiranmu dan perhatianmu lepas bebas tuntas, katanya aku akan keluar dari belenggu sialan ini. Itulah babinya kawan-kawanku. Mereka tak pernah membicarakan bagaimana caranya.

Belenggu ini bagai gelembung sabun. Membuatku terkurung dan serba salah. Jika aku berontak memaksa keluar darinya, ia akan pecah dan aku akan jatuh mati. Tapi jika aku tak berontak tak memaksa keluar darinya, ia akan membawaku entah ke mana mengikuti kehendak angin. Aku bisa terbunuh di udara, atau mati di trotoar jalan, atau tenggelam di lautan*, atau mengambang di angkasa raya.

Apa kau ada saran, barangkali?

Aku tak ingin terus begini. Aku harus segera lepas dari belenggu ini. Segera keluar, segera bebas biar bisa seperti sediakala; berdansa di bawah guyuran hujan, menangis di atas kelopak matahari, merenung dalam pelukan bulan, dan kembali menulis puisi di atas gulungan ombak. Aku tak bisa terus begini. Aku masih punya orang tua dan adik sebagai tanggung jawabku. Mereka tak lebih daripada belenggu ini. Mereka adalah segala-galanya bagiku. Mereka adalah satu-satunya yang membuatku tetap hidup, dan bertahan dari belenggu ini.

Aku harus sadar ruang dan waktu. Orang tuaku kudu segera terbang ke Mekah. Mereka kudu segera berolah raga di bukit Safa dan Marwa. Mereka kudu segera mencium Hajar Aswad. Mereka kudu secepatnya bisa menenggak zam-zam dan mendirikan salat di Masjidil Haram. Mereka, dalam keadaan paling haru, kudu segera bertamu menemui Kanjeng Nabi. Sedangkan kini, sementara ruang kian menyempit dan waktu kian kencangnya berlari, aku masih terjebak dalam belenggu ini. Aku masih belum melakukan apa pun kecuali berusaha lepas dari belenggu keparat ini.

Ah, belenggu ini. Belenggu yang dulu begitu kupuja kini terasa teramat merusak. Belenggu yang dulu selalu menyanyikanku lagu kini terasa teramat sumbang. Lirik-liriknya jadi semacam kentut. Lidah dan mulutnya jadi seberbisa dan seberbusa ular. Sia-sia saja.

Ah, belenggu ini…

Masih belum ada saran?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah