Mendaki Masa Silam

 


Hari-hari terasa lambat. Sore hari. Tak ada jam di kamar ini, tapi aku tahu sekarang jam berapa. Magrib akan segera datang. Jadi kira-kira, sekarang jam setengah enam. Di luar hujan. Bukan hujan yang deras, tapi tak kecil juga. Sedari pagi hanya seperti itu. Monoton. Bagai orang-orang resah menarik nafas.

            Tiga bulan berlalu. Aku merasa hidupku telah terpisah sebegitu jauhnya dari kenyataan dan apalagi harapan. Aku kadang bangun subuh. Berangkat ke masjid. Salat. Mengingat Allah. Mengangkat tangan. Berdoa. Kepada-Nya aku tak banyak berharap. Padahal Ajenganku sering berkata untuk meminta sebanyak-banyaknya ketika sedang berdoa, sebab itulah yang disenangi-Nya. Tapi aku tak banyak meminta. Bukan karena tak percaya pada perkataan Ajenganku. Aku percaya. Sungguh percaya pada segala apa yang pernah dinasihatkannya. Aku sangat-sangat percaya bahwa Allah akan senang mendengar keluh kesahku. Aku tak pernah meminta banyak karena lidahku selalu kelu oleh rasa bersalah. Saat ingin meminta sesuatu, dosa-dosa seolah menyerbu mempertontonkan adegan-adegan yang pernah kulakukan. Karena itu aku tak pernah banyak meminta. Aku tak ingin banyak meminta. Aku hanya ingin ampunan. Diberikan kesehatan. Dan semoga kedua orang tuaku senantiasa berada dalam lindungan-Nya.

            Hujan masih belum berhenti. Atau barangkali memang tak akan pernah berhenti? Atau kalaupun berhenti apa bedanya? Aku tetap merasakan hal yang sama. Terpisah dari kenyataan. Entah karena apa.

           Aku sempat berpikir, mungkinkah aku begini karena aku tak punya banyak uang? Bisa jadi. Bisa jadi aku begini karena tak punya banyak uang. Bisa jadi aku merasa terpisah dari kenyataan karena tak punya banyak uang. Tapi setelah itu, aku pun akan kembali berpikir. Sepertinya aku bukanlah orang yang terlalu terganggu mengenai banyak atau tidaknya uang. Aku tak mengatakan itu tak penting atau apalagi tak membutuhkannya. Aku hanya percaya kalau uang bukanlah tujuan yang hendak kutuju. Uang bukanlah sesuatu yang kujadikan sebagai tujuan hidup. Nah! Ini yang kerap membikin aku bingung:

            Lalu apa yang ingin kucapai?

            Apa tujuan hidupku?

          Enam tahun yang lalu, aku percaya tujuan hidupku adalah untuk menjadi seorang pegawai di Kementrian Luar Negeri. Itulah mengapa aku mengambil Sastra Inggris saat mengikuti tes ujian masuk universitas. Aku ingin kerja di Kemenlu. Aku kerja di sana. Kerjaanku bagus. Amat memuaskan pimpinan. Berbekal kemampuan berbahasaku yang oke, aku dikirim ke luar negeri untuk menjadi staf di kedutaan besar. Bisa jadi itu di Swedia, Republik Ceko, atau Ukraina. Sebagai seorang staf, aku hanya bekerja selama dua tahun. Sebab lagi-lagi, kerjaku oke dan memuaskan pimpinan. Bermodal keterampilan serta jam terbang yang tinggi, setelah lulus tes, aku pun diangkat menjadi seorang diplomat. Dari titik ini, kerjaku akan enak. Sebab akan selalu berkeliling dunia. Mengunjungi berbagai negara untuk keperluan diplomasi. Tentu selain perkara kerjaan, dengan statusku yang demikian, aku akan dimudahkan untuk berlibur ke mana saja. Aku bisa seenaknya memilih negara mana yang hendak kudatangi buat berlibur dalam hitungan detik.

Aku akan sering berlibur ke Serbia atau Slovakia atau Kroasia. Mengunjungi museum-museum sejarah dan monumen-monumen dan reruntuhan bekas perang. Kala sedang berkunjung ke monumen peringatan perang di Kroasia, kulihat seorang perempuan berdiri mematung memandang nama-nama yang terpahat di tembok. Ah, mungkin ia sedang berziarah ke monumen tersebut untuk mengingat salah satu keluarganya? Setelah kutanya, si perempuan akan berkata, "Aku sedang mengenang suamiku."

Suaminya dipaksa ikut perang demi bangsa dan negara. Sejak saat itu, si perempuan tak pernah lagi mendengar kabar darinya. Hingga pada suatu pagi, tiba-tiba seseorang datang ke rumahnya dan melaporkan suaminya telah wafat. Suaminya telak kena tembak di bagian kepala. Selesai bercerita si perempuan menangis. Bahunya bergetar hebat. Dengan gerak refleks kurangkul ia. Ia pun balik memeluk. Kami akhirnya berjalan bersama di bawah hujan menuju hotel terbaik di kota itu. Setelah makan malam, kami tidur bersama. Aku bercinta dengan si perempuan sampai subuh. Si perempuan masih terbaring telanjang di ranjang saat aku selesai bersiap untuk pergi. Aku memandangnya. Betapa! Perempuan berkali-kali menjadi cantik kala telanjang. Tapi aku tak hendak menyentuhnya lagi. Aku harus segera pergi menuju negara lainnya. Kuhampiri dirinya, kukecup keningnya sembari membisiki telingannya selamat tinggal. Kuletakkan sejumlah uang yang kupikir akan cukup untuk menghidupinya selama enam bulan di meja kecil di samping ranjang di samping tasnya.

            Walaupun aku telah banyak duit, tapi saat keluar dari hotel, untuk pergi ke stasiun kereta, aku akan lebih memilih berjalan kaki. Aku senang berjalan kaki. Dengan berjalan kaki, hal-hal yang biasanya tampak sepele akan menjadi punya nilai lebih. Pohon-pohon di pinggir jalan jadi tampak puitis. Daun-daun berserakan jadi puitis. Desau angin yang mempermainkan rambut agak gondrongku jadi puitis. Ranting-ranting basah jadi puitis. Bahkan genangan air yang kadang menempati beberapa jalan aspal yang tak rata juga menjadi begitu puitis. Dengan berjalan kaki, segalanya akan selalu menjadi puitis. Butuh waktu tiga puluh menit ketika aku kemudian sampai di stasiun kereta. Aku membeli tiket menuju Belgia, dan dari sana aku mulai mengelilingi Eropa.

            Ketika di Paris, aku tak bergegas menuju menara Eifel sebab sudah terlalu sering ke sana. Aku hanya pergi menuju toko buku kecil tapi dengan koleksi buku yang menurutku luar biasa. Tentu aku membeli buku, dan setelah itu menuju kedai kopi terdekat untuk kubaca sambil merokok dan ngopi. Di kedai kopi, aku bukanlah satu-satunya orang yang membaca buku sambil merokok dan ngopi. Di seberang mejaku, menghadap ke arahku seorang perempuan jelita, juga sedang membaca buku sambil merokok dan ngopi. Bedanya, setelah beberapa waktu kuperhatikan, ternyata hanya perihal aku yang merokok Dji Sam Soe dan ia yang merokok Marlboro. Setelah menyadari kehadirannya, aku memang jadi tak bisa konsentrasi untuk membaca. Itulah mengapa aku tahu rokok kami berbeda. Lama-lama, entah karena merasa diperhatikan atau apa, si perempuan mengangkat wajahnya dari buku dan melihat ke arahku. Sejenak kami saling beradu tatap. Ia tersenyum. Aku tersenyum. Ia mengacungkan rokok di tangannya, aku membalasnya dengan mengacungkan bungkus Dji Sam Soe. Tatapan matanya menunjukkan ia bertanya. Ia mengangkat alisnya, mengambil tas kecil di atas mejanya, dan merapat ke mejaku. Kami duduk berhadapan. Ia lekat memandang bungkus Dji Sam Soe.

            "Kok aneh sekali, rokok apa ini?" Tanyanya.

            Aku menceritakan sejarah Dji Sam Soe. Menceritakan kepadanya bahwa rokok yang sedang ia tatap itu bukanlah rokok sembarang rokok. Itu adalah rokok luar biasa, yang ditemukan oleh seoranga petani bernama Ahmad Samdsudin, yang diramu dari cengkih dan berbagai rempah-rempah pilihan khas Negeri Bawah Angin, yang untuk menjadikannya satu batang saja butuh waktu hampir seminggu dengan tirakat yang ketat. Di negeriku, orang rela mati demi Dji Sam Soe. Bahwa tak ada jalan menuju surga bagi para perokok kecuali harus melewati jalan Dji Sam Soe terlebih dahulu.

          Ia tampak tersihir. Tapi bagaimanapun, ia bukanlah perempuan goblok. Selepas aku menceritakan cerita yang kukarang sekenanya, ia tertawa terbahak. Begitu juga aku. Ia meminta izin untuk mencobanya. Aku mengangguk. Hasilnya mudah ditebak. Pada hisapan pertama ia langsung batuk-batuk seperti orang mau mati. Sekali lagi kami tertawa, dan setelah beberapa saat berbincang mengenai masing-masing buku yang sedang kami baca, ia mengajakku ke apartemennya. Di sana, kami berendam bersama di dalam bak mandi sambil minum anggur kualitas terbaik yang kubeli di tengah perjalanan menuju apartemennya. Selepas membersihkan diri, tentu saja kami bercinta.

Ketika tiba di London, aku bersegera mengambil kereta ke arah utara, menuju Emirates Stadium. Tiba di tribun, aku berteriak-teriak mendukung klub kesayanganku. Aku teriak memaki-maki pemain Tottenham yang pada mataku selalu tampak sebagai klub amatiran yang tak becus main bola. Sore itu, Robin Van Persie mencetak gol pembuka, disusul oleh gol dari Bacary Sagna, dan berturut-turut dua gol dari Theo Walcot dan satu gol Thomas Rosicky sebagai penutup. Arsenal membantai Tottenham 5-2 dalam North London Derby. Aku merayakan kemenangan Arsenal bersama orang-orang di sebuah pub dekat stadion. Kami berpesta. Saling berbagi minuman. Menenggak bergentong-gentong bir sampai puas sambil menyanyikan lagu-lagu kemenangan. Aku hendak membeli bir untuk entah keberapa kalinya ketika seorang pelayan perempuan nyeletuk padaku:

“Kamu cukup kuat mabuk untuk ukuran orang Asia.”

Aku hanya ketawa.

Ia geleng-geleng kepala.

“Dan kupikir kamu terlalu cantik untuk jadi seorang pelayan di pub gembel seperti ini,” godaku.

Ia menepuk jidat.

Setelah ia merampungkan jam kerjanya, aku mengajaknya menuju hotel. Tapi ia tak mau, dan malah menawarkan untuk pergi ke tempatnya saja. Kami berangkat berjalan kaki. Sampai di tempatnya, kami mabuk bersama, dan tentu saja bercinta.

Kunjungan Eropaku berakhir di Islandia. Tentu aku telah mengatur semua. Sedari jauh-jauh hari aku telah membeli tiket untuk menonton konser Sigur Ros. Islandia, dengan lanskap alamnya yang begitu memukau berhasil membuatku mencapai katarsis. Lagi-lagi di Islandia, setelah bubaran menonton konser Sigur Ros, aku mendapatkan seorang perempuan. Dalam puncak kegembiraan, kami bercinta di atas bukit beralas rumput berselimut Aurelia Borealis.

            Aku berjalan mengelilingi Eropa sebagai seorang diplomat yang banyak duit, dan di setiap kota-negeri yang kusinggahi, aku akan selalu menyempatkan diri untuk meniduri para perempuannya. Aku memang tak berniat buru-buru menikah. Terlalu banyak perempuan-perempuan jelita di dunia ini; dari segala jenis, dari segala ras, dari segala bangsa. Dan aku selalu tergoda akan perempuan-perempuan jelita. Aku selalu tertantang untuk mencobanya. Aku tahu pikiranku itu begitu menjijikan. Tapi jujur saja aku tak peduli. Di kantor, aku pun menjalin hubungan dengan beberapa perempuan; yang satu asisten pribadiku orang Bali, selanjutnya dengan sekretarisku orang Sukabumi, dan dua perempuan terakhir adalah diplomat-diplomat yang baru diangkat; masing-masing berasal dari Makasar dan Tanggerang. Oh tentu saja, entah sudah berapa puluh staf perempuan yang pernah kutiduri. Semuanya perempuan-perempuan jelita belaka, dan aku meniduri semuanya.

            Barangkali hidupku memang lacur, tapi aku tak pernah lupa untuk mengirimi orang tuaku uang dan doa. Aku selalu menjamin segala kebutuhan keluargaku di kampung. Aku mengirim uang untuk memperbaiki rumah. Aku mengirim uang untuk membeli tanah dan sawah supaya ibu-bapakku tak bosan. Aku mengirim uang untuk membantu menyekolahkan putra-putri dari kakak-kakakku. Aku mengirim uang untuk biaya kuliah adik perempuanku. Intinya, untuk kebutuhan apa pun itu di kampung, aku akan selalu menanggung semuanya.

            Begitulah aku berpikir enam tahun yang lalu. Itulah pikiranku ketika pertama kali masuk ke universitas. Namun setelah setahun kuliah, bergaul dengan banyak teman dengan isi kepala bermacam-macam, perlahan mimpi-mimpi yang tadinya telah kususun rapi mendadak berantakan. Mimpi-mimpiku mulai digantikan–bukan, bukan. Sejak bergaul dengan banyak teman–ah ya, terutama dengan banyak buku–mimpi-mimpiku mulai berubah. Bukan berubah. Lebih tepatnya, aku tak tahu lagi apa yang ingin kucapai dalam hidup. Aku tak lagi menyusun mimpi-mimpi. Segalanya kembali ke nol. Semuanya berubah menjadi kosong.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah