Akhir Nirmala

 


Aku pernah membunuh seseorang. Aku membunuhnya saat ia masih dalam kandungan. Kamu tak salah membaca. Aku membunuhnya saat ia masih dalam kandungan. Seseorang itu adalah bayiku. Seseorang itu adalah anakku. Darah dagingku sendiri. Seseorang yang tercipta dari nafsu dan cinta. Seseorang yang dikandung perempuan yang begitu kupuja.

Aku membunuhnya karena takut. Takut keluargaku malu. Malu dengan kelakuanku. Malu pada anaknya sendiri. Malu karena telah membiarkan seorang lacur sepertiku hidup berkeliaran. Merusak anak orang. Menghancurkan masa depannya. Menghamilinya.

Aku membunuhnya karena tak punya nyali. Nyali untuk menghadapi kepahitan. Kepahitan yang menuntun pada kesengsaraan. Kesengsaraan yang nyata. Senyata ketika pagi itu aku tahu perempuan yang kucintai mengandung. Mengandung anak kami. Mengandung anak yang lalu kubunuh.

Aku membunuhnya karena pengecut. Pengecut untuk ambil resiko. Resiko untuk hidup dalam cibiran orang-orang. Orang-orang yang akan mencatat sejarah hidupku dan keluargaku. Keluargaku yang takkan pernah hidup tenang dan apalagi senang.

Aku membunuhnya. Aku membunuhnya. Aku membunuhnya.

Aku membunuh bayiku. Aku membunuh anakku. Aku membunuh darah dagingku.

Aku membunuhnya. Membunuh ia yang tak berdosa. Membunuh ia yang seharusnya lahir. Membunuh ia yang semestinya hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Karang di Tubuh