Juli yang Mekar


 

Bulan ini, matahari terbit dari kedua matamu. Musim terhampar teduh pada wajahmu. Pagi menggeliat dari bibirmu. Malam pekat ialah rambutmu yang memikat. Dan rembulan, bermekaran di sekujur tubuhmu.

___

Aku melangkah meniti harapan, hendak melancong ke negeri-negeri di balik ombak. Sebab ternyata, dunia terlampau sempit di dalam diri yang telah penuh sesak. Tubuhku tak mungkin lagi menampung dunia yang fana ini. Kepalaku keruh. Hatiku semrawut. Maka kuputuskan, inilah waktunya, sekaranglah saatnya, aku melangkah meninggalkan dunia.

Kenangan menawarkan diri menemani. Terkadang ia memang berguna juga, untuk sekadar mengurut pelipis yang pening, atau mengusap kepala yang rungsing, atau memeluk tubuh yang menguning, dan atau menceritakan kisah-kisah indah dari masa lalu. Tapi aku menolaknya. Aku tak hendak pergi ditemani olehnya. Telah berkali-kali aku ditemani olehnya, dan telah berkali-kali pula ia malah mengorek luka yang mulai kering. Kali ini, aku hanya akan menyerahkan diriku pada doa-doa. Aku hanya akan menyerahkan diriku pada ketidakpastian.

Mengapa harus menyesal?

Mengapa takut tak kekal?

Apa beda selamat jalan dan selamat tinggal?*

Dari negeri-negeri di balik ombak, kudengar harapan bergemuruh. Kulihat impian begitu bergelora. Kusaksikan doa-doa tengah bertarung melawan kemustahilan. Harapan, impian, dan doa-doa, adalah bekal kekal pada setiap langkah dan titian. Di negeri-negeri itu, di negeri-negeri di balik ombak, aku hendak menulis kembali kisah hidupku di atas lautan.

___

Sebelum aku benar-benar melangkah, kamu tiba-tiba saja hinggap pada pucuk tidurku. Membawa pesan dari masa depan. “Cara terbaik untuk mengganti anggrekmu, adalah dengan menanam bunga baru.”

Kamu kemudian bersenandung, mengusir ragu dari dalam diriku:

Ia pejamkan matanya sedetik

dan cukuplah ia mengerti

bahwa gairah dan gelora

harus ia serahkan kepada usia.*

Dengan merah bibirmu, kamu kecup segala resahku. Dengan hangat matamu, kamu peluk segala cemasku. Sebelum kemudian kamu menenggelamkan diri ke dalam diriku yang tandus. Seketika, sekujur tubuhku lantas kembali subur. Bunga-bunga bermekaran di dalam hatiku. Pohon-pohon kembali rindang, sungai-sungai kembali mengalir, dan burung-burung kembali menyenandungkan lagu-lagu kehidupan.

Aku yang selama ini gersang, kembali basah kala kamu berbisik, “Relakanlah segalanya. Sekarang, ada aku yang akan mencintaimu. Aku akan menemanimu menuju negeri-negeri di balik ombak.”

___

Bulan terang menggantung di

pelupuk mata

menerangi segenap rindu yang

sasar di kelu lidah.

 

Bulan terang menggantung di

dahan rapuh

hendak bersarang pada

hati yang tak kunjung sembuh.

 

Bulan terang tenggelam di

dalam doa berlumpur

menguarkan aroma resah

bercampur laku pasrah.

 

Pada matamu aku hendak berbaring

sudahkah kau terlelap?



*Penggalan puisi Joko Pinurbo; Di Salon Kecantikan

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah