Taman Argasoka

 


Di Negeri Alengka, di Taman Argasoka, seorang lelaki tengah tenggelam ke dalam katarsis akibat mabuk oleh kebun mawar yang begitu memikatnya. Sebab, mawar-mawar di Taman Argasoka berbeda dari mawar-mawar kebanyakan. Jika di taman lain hanya terdapat mawar dengan warna merah dan putih, maka di Taman Argasoka, mawar merupa beragam warna. Selain warna merah dan putih, di taman ini mawar-mawar ada yang berwarna kuning, biru, hijau, abu-abu, dan bahkan ada yang berwarna hitam. Mawar-mawar tersebut tersenyum ramah menyapanya, membelainya di atas pangkuannya, dan bahkan berebut mengecupnya.

Di taman ini, di taman yang dibangun oleh Rahwana atas persembahan cintanya kepada Dewi Sinta, lelaki itu kembali bertemu dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang telah dicarinya sepanjang hidupnya. Dan di sinilah, di Taman Argasoka, ia menemukannya kembali.

Lelaki itu melihat kelopak-kelopak mawar berjatuhan.

___

Pada awalnya, Taman Argasoka dibuat semata hanya untuk Dewi Sinta. Taman itu adalah bentuk perwujudan cinta Rahwana kepada Dewi Sinta. Orang-orang pada menertawakan Rahwana, sebab mereka tahu belaka bahwa Dewi Sinta tak pernah mencintainya. Tapi Rahwana tak peduli, dan terus memperjuangkan cintanya. Apa pun akan ia lakukan demi bisa mendapatkan cinta dari Dewi Sinta. Meski begitu, sebagaimana perkiraan orang-orang, pada akhirnya Rahwana hanya memanen kegagalan.

            Kini, Rahwana memutuskan untuk membuka Taman Argasoka sebagai tempat wisata umum yang dapat dikunjungi siapa saja; mau itu makhluk darat, laut, ataupun udara; mau itu bangsa manusia, siluman, ataupun dewa-dewa. Tiket masuknya pun mudah. Siapa yang hendak masuk ke Taman Argasoka, harus membayarnya dengan sebuah tangisan.

___

Lelaki itu mengumpulkan segala kenangan pahit atas kisah cintanya yang tragis supaya dapat menangis. Sebab telah begitu terbiasanya, lelaki itu pun tak kesulitan untuk masuk ke Taman Argasoka.

            “Siapa kekasih yang kamu tangisi itu?”

            “Ia adalah Rembulan.”

            Rahwana langsung mengerti; mengapa lelaki itu tampak kumal, sunyi, dan kelam. Sebab cahaya telah tanggal dari jiwanya.

            “Kamu tahu apa musuh terbesar cinta?” tiba-tiba tanya Rahwana.

            “Kemunafikan?”

            “Keegoisan.”

       Lelaki itu tak menjawab, dan tampak berusaha mencerna maksud perkataan Rahwana.

            Rahwana yang menguasai segala ilmu; dari mulai ilmu manusia, ilmu siluman, dan ilmu dewa-dewa, dapat menyaksikan dengan jernih bagaimana kecamuk menguasai hati lelaki itu. Ia lantas berkata begini:

            “Maafkanlah lelaki yang telah merebut Rembulan dari pelukanmu. Maafkanlah kekasihmu yang telah merelakan dirinya ke pelukan lelaki lain. Maafkanlah dirimu yang tak dapat mencegah semua itu terjadi. Lelaki tersebut memang salah karena telah merebut kekasihmu. Kekasihmu juga salah karena rela menyerahkan dirinya ke pelukan lelaki lain. Kamu pun juga salah sebab tak becus menjaga kekasihmu. Tapi, lelaki yang telah merebut kekasihmu itu mungkin punya alasan yang benar untuk merebut kekasihmu. Kekasihmu juga mungkin punya alasan yang benar untuk menyerahkan dirinya ke pelukan lelaki lain. Kamu pun juga mungkin punya alasan yang benar untuk membenci mereka berdua.” Rahwana berhenti sejenak, ingin melihat reaksi lelaki itu. Dan ketika didapatinya lelaki itu hanya tertunduk, ia melanjutkan, “Semua bisa jadi salah. Semua bisa jadi benar. Bisa jadi tak ada yang salah di antara kalian bertiga. Bisa jadi tak ada yang benar di antara kalian bertiga.”

            Lelaki itu tampak hendak membuka mulut, tapi sebelum berhasil melakukannya, Rahwana menjawab pertanyaan yang bahkan belum terlisankan.

            “Kamu hanya harus berani mengakui, bahwa di dalam dunia yang keparat, tak ada seorang pun manusia yang tidak keparat.”

___

Dari masing-masing mawar yang beraneka warnanya tersebut, satu per satu kelopak berjatuhan ke dalam kolam air mancur. Dan dengan serta merta, kelopak-kelopak tersebut menyatu menjelma sesosok perempuan jelita.

Kelopak-kelopak mawar warna merah merupa darah dan daging. Kelopak-kelopak mawar warna putih merupa tulang, kulit, kuku dan gigi. Kelopak-kelopak warna kuning merupa mata, payudara, dan farji. Kelopak-kelopak mawar warna hijau membentuk pikiran, sikap, laku, dan tutur. Kelopak-kelopak mawar warna abu-abu membentuk masa depan. Sedangkan kelopak-kelopak mawar warna hitam membentuk segala bulu dan mengikat segala takdir yang akan dibawanya.

            Perempuan yang baru terlahir dari beragam warna kelopak mawar tersebut telanjang, menatap mesra lelaki di hadapannya. Lelaki itu lantas menulis sebuah puisi pada aliran air mancur yang tengah menyirami perempuan tersebut.

Sewangi bunga mawar tubuhmu

Terhampar di permadani

Mengetuk hasrat tuk menjamah

Surgamu

Aliran air tersebut kemudian mengalir sebagai kain, yang melilit tubuh perempuan tersebut sebagai gaun anggun.

Lelaki itu melangkah perlahan, menyambut perempuan yang baru saja menyatakan cinta kepadanya. Ia meraih tangan perempuan tersebut, dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.

___

Kala sedang duduk berdua di hamparan rumput hangat sembari memandangi keindahan layung dari Taman Argasoka, lelaki itu dibuat terpukau oleh perempuan tersebut. Sorot matanya tajam tapi meneduhkan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seperlunya tapi penuh gairah. Tawanya begitu renyah sebagaimana tingkahnya. Lelaki itu pun kembali menulis puisi di atas kening perempuan tersebut.

Kilaumu bagaikan mutiara

Menghiasai muka bumi

Warnamu yang kujilati sendiri

___

Perempuan tersebut lalu mengajak lelaki itu tamasya ke dalam mimpi. Di dalam sana, keduanya terbang sebagai sepasang burung yang tengah dimabuk cinta. Menyusuri masa lalu, dan mengarungi masa depan dalam janji-janji yang mereka tulis pada gulungan ombak. Tak lupa, lelaki itu kembali menulis puisi di atas bibirnya yang menggelora.

Kuraba jiwamu yang bersahabat

Tundukkan suasana hati

Seiring sepi menjepit sukmaku

___

Lelaki itu pamit pada Rahwana, dan tak lupa menghaturkan terima kasih atas nasihat yang diberikannya. Sebelum meninggalkan Taman Argasoka, sebagai pesan kepada manusia-manusia lain yang mungkin tengah mencari kebahagiaan, ia menulis puisi pada selembar kembang anggrek.

Seorang bijak kan memahami

Cinta bukan dicari

Diraih

Cinta pun hadir sendiri

___

Kini lelaki itu tak lagi sendiri. Ia telah mendapatkan pengganti Rembulan, kekasihnya terdahulu itu. Ialah perempuan yang lahir dari kelopak warna-warni mawar. Hidupnya mungkin tak sebenderang seperti saat dirinya tengah menjalin kasih dengan Rembulan, tapi kini, hidupnya menjadi warna-warni indah dengan segala rasanya. Sepasang kekasih baru itu pun mulai menggantungkan doa-doanya pada sepertiga malam. Keduanya mengetuk pintu takdir pada dinding semesta, supaya kelak mereka menyatu di dalam bahtera pernikahan.

            Pada setiap malam, ketika malam telah menginjak sepertiganya, keduanya akan berjalan menuju altar persembahan. Kepada Ia yang menguasai alam raya dan segenap hati segala makhluk, keduanya berdoa:

Kuyakinkan restu bumi

Bangunkan jiwamu

Basuhi raga kita

Restu bumi leburkan hati

Sucikan dari debu dunia

 

 

 

*Bait-bait puisi dalam cerita ini diambil dari lirik lagu Dewa 19 yang berjudul Restoe Bumi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Karang di Tubuh