Kisah Kobong: Sutarja dan Sulastri

 


“Ia telah

menciumku sebelum diseret ke ruang eksekusi.

Padahal Ia cuma bersaksi bahwa agama dan senjata

telah menjarah perempuan lemah ini.”

*Penggalan puisi Joko Pinurbo; Minggu Pagi di Sebuah Puisi. Celana: 67.

___

“Kamu sudah akil balig. Rasanya sudah saatnya aku bercerita,” ucap Madsahdi kepada anjingnya di suatu sore.

___

Sesungguhnya, jika puluhan tahun sebelumnya orang-orang–yang kemudian menjadi leluhur Haji Elon–tak merampas hak milik Madsahdi, maksudku, hak milik keluarga Madsahdi, barangkali Madsahdi tak akan menjadi buruh serba bisa seperti sekarang.

Madsahdi menceritakan kepadaku, dahulu bapaknya adalah seorang yang hidup enak, berkecukupan, dan hidup dalam kebahagiaan paripurna. Bapaknya bapak Madsahdi, yang berarti adalak kakeknya Madsahdi, yakni Sutarja, adalah seorang yang dikaruniai kekayaan melimpah, yang kekayaannya itu tak akan habis dibagi walaupun kepada seluruh penduduk di kecamatan selama tujuh turunan. Di kampung, Sutarja dikenal sebagai seorang pemilik ratusan hektar tanah, punya kebun banyak, dan sawahnya lega tak kira-kira. Namun meski demikian, kekayaan yang melimpah tersebut tak membuat Sutarja lupa diri, dan apalagi sampai membuatnya kikir, ria, ataupun takabur. Ia bukanlah tipikal orang kaya semacam itu.

Orang-orang mengingat Sutarja sebagai seorang penderma, yang sopan, yang lekat beribadah. Sehari-hari kerjaannya jika tidak ke masjid, ia akan selalu bisa ditemukan di dua tempat ini: kebun atau sawah. Entah untuk mengerjakan suatu kerjaan–karena meskipun kaya tapi dirinya lebih senang melakukan segalanya sendiri–atau hanya sekadar menengok saja. Gelimang harta tak membuatnya menjadi seorang pemalas yang hanya bisa tunjuk sana-sini, minta dilayani segala keperluannya. Meski kaya, Sutarja tetap rajin bekerja, ingin terus merasakan capek supaya tak lupa betapa nikmatnya bersantai.

Sutarja hidup dengan cara sederhana. Selama hidup, bisa selalu dipastikan jika tidak sedang berada di kebun, maka ia sedang di sawah. Dan jika di sawah tak ada, maka jawabannya sudah jelas, yakni di masjid. Begitulah hidupnya, hanya berputar pada masjid, kebun, dan sawah.

Dimulai setelah salat subuh, Sutarja tak akan langsung pulang meninggalkan masjid. Ia bersama beberapa orang–seringnya sih sendiri–akan tinggal terlebih dahulu untuk sekadar bersih-bersih. Entah itu membersihkan langit-langit masjid dari sawang, mengusir debu di karpet, atau hanya sekadar menyapu lantai dan halaman. Selesai bersih-bersih di masjid dan barulah ia akan pulang, berganti pakaian, sarapan, dan bersegera menuju kebun atau sawah. Siang hari kala masuk waktu istirahat kerja, ia akan kembali pulang, berganti pakaian, makan, dan bersegera menuju masjid. Begitupun ketika sore datang, ia akan pulang, berganti pakaian, dan bersegera menuju masjid. Bedanya, setelah asar ia tak akan langsung pulang, dan akan duduk bersantai di teras masjid menghabiskan sore sembari merokok, atau menghabiskannya dengan mengaji. Memang, kalau mau jujur, lebih banyak merokoknya daripada mengajinya. Barulah setelah selesai menunaikan salat isya, ia akan pulang, berganti pakaian, makan, dan bersegera menuju kamar. Sebab Bu Haji Sulastri telah menunggunya.

___

Dari Bu Haji Sulastri, Haji Tarja–orang-orang akrab memanggilnya demikian–dikaruniai tiga orang anak yang masing-masing dinamai Lilis, Wulan, dan Agah. Dua perempuan, dan satu lelaki. Anak-anak Bu Haji Sulastri dan Haji Tarja terkenal karena kerupawanan mereka. Neng Lilis memanglah seorang gadis yang cantik, Neng Wulan pun adalah seorang gadis yang bercahaya, dan Jang Agah, sebagaimana namanya, juga merupakan seorang remaja yang gagah. Barangkali bentuk lahiriah ketiganya memang membikin banyak orang terkagum-kagum. Tapi, yang membuat nama ketiga anak tersebut membekas di hati orang-orang adalah semata-mata karena budi pekertinya. Ketiganya adalah anak-anak yang sopan walau kadang nakal. Mereka anak-anak rajin, senang membantu ibu membereskan rumah dan memasak. Mereka pun senang diajak ke kebun atau ke sawah untuk sekadar mengerjakan apa saja yang sekiranya bisa dikerjakan. Semisal untuk memetik daun singkong, mencari jamur, menjinjing bekal bapaknya, memulung jambu atau mangga atau buah apa pun itu, dan ataupun untuk hanya sekadar melihat bapak bekerja.

Sebelum tahun 1965, orang-orang mengira keluarga cemara tersebut akan hidup berbahagia selama-lamanya seperti itu. Hidup sederhana dalam gelimang harta. Hidup seadanya dalam kemakmuran. Dan hidup sewajarnya dalam kemewahan. Orang-orang mengira, mereka akan menyaksikan anak-anak pasangan Bu Haji Sulastri dan Haji Tarja tumbuh, dewasa, menikah, dan punya anak. Lantas mereka pun meneruskan segala kebaikan yang telah dirintis kedua orang tuanya. Ketika orang-orang mendapat kesulitan, mereka akan dengan senang hati membantu sebagaimana orang tuanya. Ketika orang-orang terkena musibah, seperti halnya Bu Haji Sulastri dan Haji Tarja, mereka pun akan ringan tangan mengulurkan pertolongannya.

Hanya saja, sejak tahun 1965, cerita kemudian diambil alih oleh kegetiran.

___

Haji Tarja ramai-ramai ditangkap, digebuki, dianiaya, diseret oleh aparat ke pos keamanan. Ia dituduh menyimpan senjata, dituding mengubur senjata-senjata tersebut di kebun-kebunnya. Haji Tarja menggeleng, menyanggahnya, dan berkata bahwa ia tak pernah menyimpan apalagi mengubur senjata apa pun. Tapi aparat tak terima, dan terus menyiksanya supaya mengaku. Haji Tarja lalu kembali digebuki, dianiaya, dan disiksa dengan cara paling keji sampai mengaku bahwa ia menyimpan dan mengubur senjata. Haji Tarja dipukuli tinju dan ditendang sekaligus diinjak sepatu, digebuk oleh bambu dan kayu, diludahi sembari dimaki sebagai kafir karena hendak memberontak negara, ditelanjangi dan lantas dikencingi sebagai najis. Haji Tarja mengerang menahan sakit, melolong tak berdaya, berteriak ampun, bersumpah atas nama Tuhan bahwa dirinya tak pernah menyembunyikan apalagi mengubur senjata apa pun. Tapi aparat tak hendak memercayai perkataannya, dan terus menyiksanya supaya mengaku menyembunyikan dan mengubur senjata. Dalam keadaan telanjang, Haji Tarja digusur aparat menuju alun-alun. Orang-orang menyaksikan Haji Tarja kembali disiksa di sana. Kali ini tubuhnya yang sudah tak karuan dijadikan sebagai asbak untuk mematikan rokok para aparat yang menyiksanya. Haji Tarja kembali dimaki-maki, dituding sebagai pengkhianat dan pemberontak negara, dan atas itu semua, ia berhak untuk dibikin sedemikian rupa. Sorenya Haji Tarja diangkut menuju penjara, dan dibuat mendekam di sana sampai kojor.

Bu Haji Sulastri yang anggun, yang rambutnya selalu disanggul, yang ke mana-mana selalu mengenakan kain jarik dan berkebaya, yang memang adalah anggota aktif Gerwani, juga ramai-ramai disiksa, dan dimaki sebagai ublag. Ia dituduh bersekongkol dengan suaminya, dituding membantu menyembunyikan rencana pemberontakan dan melindungi pengkhianatannya. Bu Haji Sulastri menggeleng, menyanggah, berkata dengan lantang bahwa ia dan suaminya tak pernah punya niat untuk memberontak, apalagi berkhianat. Ia membela diri, dan menjelaskan bahwa ia dan suami tak pernah menyimpan apalagi mengubur senjata. Jangankan mengubur senjata, duduk perkara masalah yang sekarang dituduhkan aparat pun ia belum mengerti. Tapi atas kelancangannya berbicara kepada aparat, dan kebebalannya untuk bersetia pada suaminya dengan menyembunyikan dan melindungi segala kejahatannya, ia lalu ditelanjangi dan diperkosa secara bergiliran di pos keamanan. Ia diperkosa dengan kasar, dengan hina, dengan keji. Sembari diperkosa, ia pun lagi-lagi dimaki sebagai ublag, sebagai lonte, sebagai perempuan najis, sebagai pemberontak dan pengkhianat negara, dan atas itu semua, ia berhak dibikin menjadi sedemikian rupa. Sembari diperkosa, mulutnya dikencingi, badannya diludahi, payudaranya dilukai dengan silet, perutnya dijadikan asbak, dan sekujur tubuhnya dicambuki selang air. Setelah puas memerkosa Bu Haji Sulastri secara bergiliran, mereka pun lalu membotaki rambutnya, dan dalam keadaan telanjang, ia diseret ke alun-alun untuk dipermalukan sebagai sampah negara. Keesokan harinya, orang-orang mendapat kabar bahwa Bu Haji Sulastri mati membunuh dirinya dengan mengiris urat nadinya menggunakan beling.

Neng Lilis gadis jelita yang tengah mekar, dipetiki keindahannya, diisap habis harum wanginya, dan dibuang ke tempat sampah. Neng Lilis gadis jelita yang tengah mekar diperkosa beramai-ramai di rumahnya. Ia diperkosa beramai-ramai sembari dimaki sebagi ublag, disiksa, terus diperkosa, diperkosa, dan diperkosa. Ia diperkosa hingga lubang kemaluannya robek, terus diperkosa hingga lubang kemaluannya cabik, terus diperkosa hingga lubang kemaluannya koyak, terus diperkosa hingga lubang kemaluannya tak pernah sembuh dari luka.

Neng Wulan gadis bercahaya yang tengah mekar, diredupkan keindahannya, diisap habis harum wanginya, dan dibuang ke tempat sampah. Neng Wulan gadis jelita yang tengah bercahaya diperkosa beramai-ramai di rumahnya. Ia diperkosa beramai-ramai sembari dimaki sebagi ublag, disiksa, terus diperkosa, diperkosa, dan diperkosa. Ia diperkosa hingga lubang kemaluannya robek, terus diperkosa hingga lubang kemaluannya cabik, terus diperkosa hingga lubang kemaluannya koyak, terus diperkosa hingga lubang kemaluannya tak pernah sembuh dari luka.

Si bungsu, Jang Agah, dipaksa menyaksikan kedua kakaknya diperkosa beramai-ramai di hadapannya. Ia dipaksa menyaksikan kedua kakaknya diperkosa beramai-ramai, disiksa dengan keji, dimaki sebagai ublag, diperkosa, diperkosa, dan terus diperkosa. Setelah puas memerkosa, ia dipaksa menyaksikan kedua kakaknya ditembak mati dengan brutal. Tiga hari kemudian, orang-orang mendapati jasad kedua kakaknya mengapung di sungai, dengan tubuh dipenuhi lubang bekas peluru. Dan entah atas alasan apa, setelah puas menyiksa dan menganiaya Jang Agah, mereka kemudian berlalu tanpa melenyapkannya.

___

Saat menceritakan bagian ini, kudapati mulut Madsahdi gemetar menahan marah sekaligus sedih. Matanya berkaca-kaca. Ia menceritakan kejadian yang telah berlalu berpuluh-puluh tahun lalu, seolah-seolah baru terjadi kemarin sore.

“Sebab itu kamu takut aparat?” Aku mengajukan pertanyaan ini karena suatu kali pernah melilhat Madsahdi, saat hendak berangkat kerja, langsung menyingkir ketika tak sengaja berpapasan dengan tentara.

“Aku tak takut,” nadanya menyepelekan.

“Lantas mengapa menyingkir?”

“Jalanan sempit.”

“Memang sebesar apa aparat?”

“Sesungguhnya mereka kecil.”

“Lantas mengapa menyingkir?”

“Jalanan sempit.”

Madsahdi kemudian melanjutkan. Jika saja dahulu bapaknya tetap hidup dalam keadaan berkecukupan, mungkin sekarang dirinya sedang menempati posisi Haji Elon. Tapi sejak kematian keluarganya, atau lebih tepatnya, sejak keluarganya dibunuh, ia lalu menjalani hidup sebatang kara. Menjalani hidup dalam kesengsaraan. Menjalani hidup sebagai seorang keturunan komunis.

“Komunis apaan?” selaku.

“Aku tak yakin. Yang jelas banyak orang menganggap komunis itu jahat.”

Jang Agah mesti menanggung perkara komunis itu seumur hidupnya. Kehidupannya yang sudah hancur, semakin dibikin sengsara oleh setan bernama komunis. Di masa itu, sebagai seorang anak keturunan komunis, ia harus hidup menggelandang. Dari tadinya hidup enak, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, kini dirinya harus hidup dalam keadaan tak pasti. Karena susahnya mendapat makan, sejak saat itu ia pun memaksa dirinya untuk bisa menelan apa saja, untuk bisa memakan apa saja. Terkadang ia mendapatkan makanan dari meminta-minta, dan atau tak jarang, ia harus mengais makanannya dari tempat sampah. Ia pun memaksa dirinya untuk dapat tidur di mana pun, dalam segala kondisi; baik dingin atau panas, dalam segala cuaca; baik kemarau ataupun hujan. Dalam beberapa waktu, untuk menyambung hidupnya, ia kemudian mencoba mencari kerja. Kerja apa saja, tak dibayar pun tak mengapa asal bisa makan. Tapi di tahun-tahun itu, ternyata orang-orang tak berselera untuk mempekerjakan seorang anak keturunan komunis.

Padahal orang-orang tak pernah tahu pasti, apakah Haji Tarja itu seorang komunis atau bukan. Jangankan orang-orang, aparat pun tak pernah tahu pasti apakah Haji Tarja itu seorang komunis atau bukan. Haji Tarja adalah seorang komunis, belum pernah dibuktikan. Tapi orang-orang tak peduli, tapi aparat tak peduli dan terus menuduh Haji Tarja sebagai komunis. Bahkan ketika kebun-kebunnya digali oleh mereka untuk membuktikannya, dan saat mendapati tak ada suatu senjata pun dikubur, mereka tetap menuduh Haji Tarja sebagai komunis. Mereka tetap menuding Haji Tarja sebagai pemberontak dan pengkhianat negara.

Haji Tarja adalah seorang komunis, karena pada masa pemilu, aparat kerap melihat dirinya menghadiri rapat-rapat PKI. Mereka kerap menyaksikan Haji Tarja ikut berkampanye, berkonvoi, mengajak orang-orang untuk memilih PKI, dan selalu tampak dalam setiap acara. Aparat juga menganggap, hubungan Haji Tarja dan PKI tak hanya sebatas itu. Ia dicurigai sebagai donatur tetap PKI di wilayah itu. Hal tersebut memang masuk akal, sebab siapa yang tak mengenal Haji Tarja yang kaya? Atas dasar itulah aparat bertindak. Mereka bertindak atas dasar kepentingan keamanan umum. Dalihnya, “Demi bangsa dan negara!”

Jang Agah sering kali mengajukan beberapa pertanyaan ini kepada orang-orang. Apa karena bapaknya kerap terlihat menghadiri rapat-rapat PKI, itu berarti bahwa ia adalah seorang komunis? Apa karena bapaknya suka ikut berkampanye, berkonvoi, dan tak pernah ketinggalan menghadiri acara-acara PKI, itu berarti ia adalah seorang komunis? Setiap hari kita membaca syahadat, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan ramadan, dan mungkin berangkat menunaikan ibadah haji, tapi apakah karena kita melakukan semua itu berarti kita telah menjadi islam? Apakah karena telah menjalankan rukun islam, kita semua telah bisa dikatakan benar-benar islam? Apakah karena Haji Tarja sering menghadiri rapat, ikut berkampanye, berkonvoi, atau ikut pada setiap acara-acara PKI, itu berarti dirinya adalah seorang komunis? Apakah karena telah melakukan itu semua, Haji Tarja lantas bisa dikatakan telah benar-benar menjadi seorang komunis? Kalaupun ia memang benar komunis, Haji Tarja memang benar-benar komunis, terus kenapa? Komunis bukan barang luar biasa, semua orang bisa memilikinya semudah buang kencing.

“Orang komunis biasanya memang jago cincong,” begitu biasanya komentar orang-orang untuk membungkam mulutnya.

Orang-orang memang sekejam itu memperlakukan seorang anak keturunan komunis. Lebih-lebih mereka para aparat. Di mata mereka, anak keturunan komunis seperti sampah yang mesti dibersihkan. Orang komunis layaknya najis yang wajib disucikan. Orang komunis semacam penyakit yang kudu dilenyapkan dari muka bumi. Tapi di antara mereka, di antara orang-orang yang begitu bencinya kepada anak keturunan komunis, ada terselip teman-teman Haji Tarja yang dinyatakan bersih dari komunis. Teman-teman Haji Tarja itulah yang kemudian suka mengajak Jang Agah bekerja, yang membuat Jang Agah sangat bungah karenanya. Memang jarang ada upah, tapi itu tak jadi soal. Sebab urusan yang paling mendesak adalah perkara perut, yang penting ia bisa makan, dan itu sudah lebih dari cukup.

Teman-teman Haji Tarja itu tak sebagaimana Haji Tarja yang kaya. Mereka cuma orang-orang biasa, tak bisa dikatakan miskin sebagaimana tak juga bisa disebut kaya. Kebanyakan dari teman-temannya adalah mereka yang biasanya dimintai pertolongan untuk membantu Haji Tarja di masa panen. Maka oleh mereka, oleh teman-teman bapaknya, Jang Agah kerap diajak kerja di bangunan, di sawah, di kebun, atau di mana pun. Karena bentuk kerjaannya yang tak tentu itu, Jang Agah kemudian mengasah dirinya untuk menjadi seorang terampil. Semenjak itu, untuk mencari uang tambahan, ia kadang menjadi kuli panggul di pasar. Selesai di pasar, dan ia akan menjadi kuli panggul di mana pun sekiranya dibutuhkan. Ia pun mulai belajar memanjat beragam pohon, mulai dari cengkih, pete, dan pohon kelapa. Keahliannya memanjat ternyata membuka keran rezeki baru, dan ia mulai sering menjadi buruh tebang. Jika seseorang membutuhkan orang untuk menebang pohon yang dirasa telah mengganggu, pohon apa pun itu, maka orang tersebut akan memanggil dirinya. Jang Agah kemudian belajar caranya memancing, menangkap ikan di sungai menggunakan bambu, berburu binatang, menjerat burung, memarut kelapa, membikin kipas dari bambu, membuat bangku, menghaluskan kayu, membetulkan genteng bocor, dan dengan cara yang paling aneh, ia bisa menguasai ilmu merajut dan menjahit.

Orang-orang senang padanya, sebab ia tak pernah menolak disuruh apa pun. Disuruh ini-itu ia mau. Diminta mengerjakan ini ia bisa, diminta mengerjakan itu ia berangkat. Orang-orang senang padanya, sebab ia mahir dalam mengerjakan kerjaannya. Kerjanya disiplin, cepat, dan rapi. Orang-orang senang, sebab ia bisa mengerjakan apa pun, sebab ia mau mengerjakan apa saja. Disuruh menggali sumur ia terampil, disuruh membikin kandang ayam ia tak menolak, disuruh membikin perkakas dari bambu ia jagonya, dan disuruh apa pun, percayalah, ia adalah seorang andal yang mampu mengerjakan apa pun. Orang-orang senang, sebab ia adalah seorang yang serba bisa. Seiring waktu berjalan, pada akhirnya orang-orang mulai lupa akan kekomunisannya. Ia mulai dilihat sebagai, “Jang Agah,” seorang buruh yang serba bisa.

Sementara itu, kekayaannya yang dirampas semena-mena oleh aparat tak pernah dikembalikan kepadanya. Aparat memang tak pernah punya niat memulangkan segala kekayaan Haji Tarja, sebabnya, tindakan merampas tersebut adalah benar menurut pandangannya. Jika kekayaan Haji Tarja dikembalikan, ada kemungkinan, kelak kekayaan tersebut dipakai untuk kembali membangkitkan PKI. “Demi bangsa dan negara, perbuatan kami benar adanya. Tak usah bicara hati nurani. Tak perlu bicara dosa. Dahulukan dulu kepentingan bangsa dan negara,” begitu biasanya mereka mengeluarkan dalih.

Ratusan hektar tanah, sawah-sawah, dan kebun-kebun Haji Tarja habis dibagi di antara mereka. Konon, saking luasnya tanah Haji Tarja, masing-masing aparat di wilayah itu dapat kebagian jatah paling sedikit satu hektar. Jumlah tersebut dibagi kepada aparat berpangkat cecunguk, sementara aparat kelas kakap mendapat lebih dari itu. Aparat kelas kakap sedikitnya masing-masing memperoleh lima hektar tanah, belum ditambah bonus sawah dan kebun. Bonus tersebut wajib ditambahkan, sebab kerja mereka bagus, memuaskan para petinggi. Di antara orang-orang yang merampas hak milik keluarga Madsahdi tersebut, terdapat satu orang, yang kemudian melahirkan seseorang, dan seseorang itu kemudian melahirkan Haji Elon.

___

Madsahdi menyebut, bapaknya masih sering menangis kalau sedang menceritakan kepedihan hidupnya setelah tahun 1965. Ia sedih mengingat seluruh keluarganya yang telah meninggal, dibunuh mereka yang mengaku sebagai abdi negara. Sejak bapaknya, Haji Tarja, dituduh komunis dan dilempar ke penjara, sampai kematiannya, ia tak pernah punya kesempatan untuk menemuinya. Ibunya yang anggun itu, yang setiap hari mengenakan kain jarik dan kebaya dengan rambut sanggulnya, betapa ia merindukannya. Rindu dibelai, rindu menghabiskan sore-sore bersamanya, rindu welas asihnya. Kedua kakak perempuannya, yang matinya tak kalah tragis, yang direbut darinya dengan bengis, semoga tenang di alam sana. Semoga ibu, bapak, dan kedua kakaknya ditempatkan di tempat terbaik menurut Allah. “Sebab kupikir, bagi Allah, tak ada urusan apakah seseorang itu komunis atau bukan,” katanya.

“Benar pak, Ajengan Dudukuy juga bilang begitu. Yang penting buat Allah adalah amal ibadah dan perbuatan,” begitu biasanya Madsahdi menenangkan bapaknya.

“Semoga para haram jadah itu langgeng di neraka,” desisnya.

Dan Madsahdi hanya akan mengangguk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Karang di Tubuh