Kisah Kobong: Ajengan Dudukuy

 


Adapun Ajengan Dudukuy, selain dikenal karena kesaktiannya, orang-orang juga mengingatnya sebagai seorang ajengan yang nyentrik. Bagaimana tidak, ketika banyak dari para ajengan memilih untuk cenderung tidak berurusan dengan anjing, beliau malah berlaku sebaliknya. Ajengan Dudukuy memiliki seekor anjing. Ajengan Dudukuy memelihara seekor anjing.

Hal tersebut tak pelak menjadi bahan gunjingan orang-orang. Beberapa ajengan seangkatannya, yang di antaranya adalah teman-temannya, menilai bahwa Ajengan Dudukuy telah berlaku ceroboh. Ceroboh karena telah memelihara seekor anjing. Ajengan-ajengan tersebut sering menyebut laku cerobohnya itu sebagai tidak sopan, karena dinilai bertentangan dengan etika seorang ajengan. Seharusnya sebagai seorang ajengan, Ajengan Dudukuy tahu bahwa dirinya memikul kewajiban untuk menyampaikan dan menegakkan agama Allah di bumi. Seorang ajengan harus menjadi contoh sekaligus teladan bagi orang-orang di sekelilingnya. Ia harus tahu bagaimana cara berdakwah dengan benar. Ia mesti memahami kedalaman hati orang-orang. Ia pun kudu tahu bagaimana caranya menempatkan diri. Ajengan Dudukuy yang memelihara seekor anjing, bukanlah contoh yang baik bagi orang-orang.

            Barangkali Ajengan Dudukuy sudah mendengar, para ajengan berkasak-kusuk mengomentari dirinya yang memelihara seekor anjing. Bagaimanapun, Ajengan Dudukuy bukanlah seorang budek. Seorang ajengan sepuh malah pernah menegurnya secara langsung, “Jangan aneh-aneh. Jangan bikin gaduh. Kasihkan anjing itu pada orang lain,” pintanya.

Mendapat teguran sebegitu rupa dari seorang ajengan sepuh, Ajengan Dudukuy diam, mengangguk takzim. Ajengan Dudukuy kemudian tersenyum, dan berkata bahwa dirinya belum punya niatan untuk mengasihkan anjing peliharaannya kepada orang lain. Ajengan Dudukuy malah menegaskan, “Lagi pula, anjing itu tidak mengganggu. Sebaliknya, ia malah sering membantu.”

Mendengar jawaban Ajengan Dudukuy, ajengan sepuh tak berkata lagi. Ia pamit undur diri. Tapi sebelum dirinya benar-benar pergi, ia pun menegaskan satu hal kepada Ajengan Dudukuy, “Setidaknya kewajibanku telah selesai. Yakni mengingatkanmu.”

Ajengan Dudukuy mengangguk, mencium tangan ajengan sepuh tersebut. Waktu berjalan, dan Ajengan Dudukuy masih memelihara seekor anjing.

___

Awalnya, Ajengan Dudukuy pun ragu, apakah ia harus memelihara anjing yang sering menemuinya itu atau tidak. Siang itu Ajengan Dudukuy sedang rehat di saung di huma, dan tiba-tiba saja anjing itu datang. Ajengan Dudukuy agak kaget sebab kedatangannya yang mendadak. Anjing itu tampak sedang mengendusi sesuatu di sekeliling saung. Anjing itu mondar-mandir, mengelilingi saung, masuk ke kolong, mengendusi sekumpulan kayu bakar, dan kembali mondar-mandir. Untuk beberapa saat, anjing itu terus berlaku seperti itu. Tak menggonggong, tak menyalak. Sebelum kemudian tiba-tiba anjing itu berhenti, melihat Ajengan Dudukuy yang sedang menatapnya.

“Kamu lapar?” tanya Ajengan Dudukuy.

Anjing itu tergeragap. Lantaran kaget, anjing itu agak sedikit mundur. Tubuhnya menegang berubah waspada. Lekat anjing itu menatap Ajengan Dudukuy. Anjing itu hanya menatap, tanpa menggonggong. Ajengan Dudukuy tersenyum padanya. Demi mendapati Ajengan Dudukuy tersenyum, anjing itu pun rada kendur tanpa kehilangan kewaspadaannya. Ajengan Dudukuy mafhum. Ia kemudian membuka tasnya, mengeluarkan bekal makan siangnya yang berupa nasi timbal, ikan asin dan sambal.

Siang hari memang merupakan waktunya beristirahat, untuk mengaso dari teriknya cuaca. Makan siang adalah cara terbaik untuk memulihkan tenaganya, dan mengisap tembakau setelah makan merupakan cara paling ampuh untuk menjaga kesehatannya. Hanya saja, siang itu agak berbeda. Sebab ketika mengeluarkan bekal makan siangnya, Ajengan Dudukuy harus membagi nasinya menjadi dua, mencomot satu ikan asin utuh, dan memberikannya kepada anjing itu. Terlihat anjing itu agak ragu, pada awalnya. Tapi seekor anjing, selalu bisa membaui apakah seseorang punya niat jelek atau tidak. Mencium tak ada gelagat mencelakakan, anjing itu mendekat menghampiri, memakan nasi serta ikan asin yang diberikan Ajengan Dudukuy. Anjing itu menyantap hidangan dari Ajengan Dudukuy dengan lahapnya, dan Ajengan Dudukuy tersenyum bungah karenanya.

___

Anjing itu tak sebagaimana kebanyakan anjing-anjing di kampung yang berwarna cokelat bermoncong hitam. Dari satu sisi, anjing itu tampak berwarna hitam. Tapi jika diperhatikan lebih seksama, ada campuran warna abu di bagian punggungnya, serta bercak-bercak putih di sana-sini. Terutama pada bagian wajah dan bawah perutnya. Dan tak sebagaimana anjing-anjing liar lainnya, untuk ukuran seekor anjing hutan, tubuhnya begitu mencolok. Tampangnya bengis, perawakannya panjang, tingginya menjulang, tubuhnya berisi dengan otot-otot pejal, dan kaki-kakinya kokoh bagaikan kuda-kuda seorang pendekar silat.

Semenjak kejadian siang itu, selanjutnya setiap hari di waktu siang, anjing itu akan selalu datang ke saung. Satu-dua hari anjing itu terlihat masihlah kagok, sebab gugup tampaknya. Tapi setelah setiap hari selama seminggu datang ke saung, anjing itu pun mulai menjadi terbiasa. Terbiasa untuk datang ke saung siang hari. Terbiasa dengan keberadaan Ajengan Dudukuy, dan terbiasa untuk makan bersamanya.

Anjing itu memang selalu datang di siang hari. Tapi tak jarang, ada hari di mana dirinya memutuskan untuk datang lebih awal. Anjing itu akan duduk di sekitar saung, berteduh, mendinginkan badan dari sengatan matahari. Sembari mengaso di saung, anjing itu akan menatap ke kejauhan, menontoni Ajengan Dudukuy yang sedang bekerja. Percayalah! Telah sejauh itu dan anjing itu belum pernah menggonggong sekali pun. Anjing itu hanya memerhatikan Ajengan Dudukuy lama-lama. Entah apa yang ada di isi kepalanya. Anjing itu baru akan beranjak dari duduknya ketika melihat Ajengan Dudukuy mendekat. Dan ketika melihat Ajengan Dudukuy semakin dekat, anjing itu akan berdiri, menjulurkan lidah, dan mengibas-ngibaskan ekornya. Anjing itu telah sangat lapar dan mengajaknya makan.

Di akhir bulan, anjing itu memutuskan untuk datang lebih awal lagi. Di bulan kedua, anjing itu mulai mengekori Ajengan Dudukuy bekerja. Di bulan ketiga, anjing itu mulai menemani Ajengan Dudukuy bekerja. Di bulan keempat, anjing itu mulai membantu Ajengan Dudukuy bekerja. Di bulan kelima, untuk pertama kalinya, anjing itu mulai merasakan menyetubuhi seekor betina.

Selanjutnya, waktu semakin mengentalkan keakraban Ajengan Dudukuy dan anjing itu. Sekarang, kalau sedang mengaso di saung, anjing itu sudah diperbolehkan untuk naik ke atas dan duduk di samping Ajengan Dudukuy. Ajengan Dudukuy pun jadi membawa bekal lebih banyak. Jika biasanya Ajengan Dudukuy hanya membawa nasi timbal dengan porsi setengah, sejak saat itu, dimulai dari bulan kedua, maka ia mulai membawa nasi timbal utuh. Ikan asin pun jadi tambah banyak, menjadi lima potong. Walau anjing itu tak pernah mau memakannya, tapi Ajengan Dudukuy tak pernah lupa untuk membawa sambal. Dan satu hal yang tak pernah dimengerti oleh anjing itu, yakni kebiasaan Ajengan Dudukuy yang sesaat sebelum makan akan beranjak untuk memetik daun singkong muda sebagai lalap. Pemandangan tersebut kadang membikinnya mual.

Setelah selesai makan siang, tentu Ajengan Dudukuy dan anjing itu akan bercengkrama. Mengobrolkan segala hal. Dari mulai cuaca yang panas, musim yang kering, dan hama yang keras kepala.

___

Di bulan pertama, kepada orang-orang yang menggarap lahan di sekitar situ, Ajengan Dudukuy sempat beberapa kali bertanya perihal anjing yang selalu datang ke saungnya. Orang-orang menggelengkan kepalanya, tak ada yang tahu itu anjing punya siapa. Tak pernah terlihat juga anjing itu pergi ke arah mana untuk pulang. Orang-orang menebak, anjing itu mungkin anjing hutan biasa, anjing liar tanpa pemilik.

“Bukannya ajag sudah jarang?”

“Mungkin ia keturunan terakhir?”

Ajengan Dudukuy tersenyum menanggapi kemungkinan tersebut. Orang-orang itu berpesan kepada Ajengan Dudukuy untuk tetap berhati-hati. Bagaimanapun jinaknya seekor ajak, tapi ajak tetaplah ajak. Bagaimanapun baiknya seekor ajak, tapi ajak tetaplah ajak. Bagaimanapun penurutnya seekor ajak, tapi ajak tetaplah ajak. Selalu ada kemungkinan sato tersebut berlaku beringas.

___

Di bulan kedua, omongan orang-orang itu ada benarnya juga. Sore hari Ajengan Dudukuy sedang menyiram pohon alba yang baru ditanamnya beberapa minggu. Anjing itu menemaninya, mengikuti seluruh gerakan Ajengan Dudukuy. Ajengan Dudukuy dibuat terpingkal demi menyaksikan tingkah konyol anjing itu. Anjing itu menggonggong senang, dan terus mencoba menirukan gerakan-gerakan menyiram Ajengan Dudukuy. Di tengah kegembiraan tersebut, tiba-tiba ada yang menyita perhatian anjing itu. Tubuhnya berubah menegang, sikapnya menjadi awas. Untuk beberapa saat, anjing itu tak melakukan gerakan apa pun, dan hanya diam dalam keadaan seperti itu.

“Kenapa?” tanya Ajengan Dudukuy.

Anjing itu tak menjawab, dan terus memusatkan pandangan dan perhatiannya pada suatu titik di kejauhan; di antara semak-semak, di dekat pohon-pohon mahoni. Anjing itu, dengan gerakan cepat memutar badannya dan lantas berlari. Kali ini anjing itu tak menggonggong, tapi menyalak. Dan demi mendengar anjing itu menyalak untuk pertama kalinya, rasa ngeri merambati Ajengan Dudukuy. Salakannya begitu mengerikan, meremangkan bulu kuduk, menebarkan aroma kebengisan. Ajengan Dudukuy melihat anjing itu berlari sangat cepat. Saking cepatnya, Ajengan Dudukuy baru sadar bahwa di sana, di balik semak-semak dekat barisan pohon mahoni, anjing itu telah menggigit kaki belakang seekor babi hutan. Karena penasaran, Ajengan Dudukuy mencoba mendekat, untuk menyaksikan duel antara anjing itu dengan babi hutan.

Anjing itu bertarung dengan ganas, tanpa rasa takut. Gigitannya ternyata bukan jenis dari gigitan yang lemah tanpa tenaga. Gigitan itu begitu kuat, begitu bertenaga, memakukan taring-taring tajamnya. Si babi hutan berontak, tapi gigitan tersebut begitu dalamnya. Tak lama babi hutan itu kehabisan tenaga, dan terbaring lemas. Jika berbicara mengenai tenaga, biasanya babi hutan merupakan seekor sato yang luar biasa. Tapi di hadapan anjing itu, jelas babi hutan tersebut bukanlah lawan sepadan. Setelah menggigit kaki bagian belakang dan kupingnya, untuk membuatnya semakin lumpuh, anjing itu berpindah menggigit batang lehernya. Babi hutan itu meronta, mencoba meloloskan diri. Tapi sekali lagi, anjing itu bukanlah tandingannya. Darah mengocor bagai banjir. Dan setelah dirasanya babi hutan itu sudah tak lagi memberi perlawanan, saat itulah kemudian, dengan bengis, anjing itu mengoyak si babi hutan.

Pemandangan terakhir yang dilihat Ajengan Dudukuy adalah banyak dari bagian tubuh babi hutan itu rompal, terutama pada bagian leher yang terus mengocorkan darah. Telinganya hampir putus, sekujur tubuhnya penuh cabikan, dan jangan tanyakan apakah babi hutan itu masih bernafas atau tidak. Hari itu Ajengan Dudukuy menjadi saksi, bagaimanapun, ajak tetaplah ajak.

___

Di awal bulan ketiga, setelah pertarungan–lebih tepatnya pembantaian–itu, anjing itu dibuat gelisah ketika di suatu siang dirinya tak mendapati Ajengan Dudukuy. Anjing itu tak mendapatinya di saung, tak juga di tempat biasanya Ajengan Dudukuy bekerja. Anjing itu berkeliling memeriksa sekitar, tapi tak tercium bau keberadaannya. Apa mungkin Ajengan Dudukuy sedang turun ke bawah buat mengambil abdas di selokan? Lantas anjing itu pun turun ke bawah, menuju selokan tempat biasa Ajengan Dudukuy berabdas. Anjing itu tak melihat siapa pun. Anjing itu pun berjalan agak ke hulu, menuju batu datar tempat biasa Ajengan Dudukuy sembahyang. Di sana pun tak ada hasil, batu datar itu kosong. Bermodal harapan bahwa mungkin tadi Ajengan Dudukuy sedang kembali ke rumah untuk membawa bekal yang ketinggalan, dan kemudian sekarang telah berada di saung menunggunya, anjing itu pun kembali naik. Tapi sekali lagi, anjing itu tak menemukan Ajengan Dudukuy.

Anjing itu teringat, di sekitar situ ada orang-orang yang juga punya lahan, mungkin Ajengan Dudukuy sedang bersama orang-orang tersebut untuk sekadar mengobrol, atau katakanlah, meminta tembakau. Namun tak juga didapatinya Ajengan Dudukuy di sana. Anjing itu menggonggong bertanya kepada orang-orang tersebut, tapi mereka hanya menggelengkan kepala. Anjing itu heran, padahal siang sudah sematang ini, tapi Ajengan Dudukuy tak ada di saung, atau di mana pun di sekitar sini. Anjing itu cemas, takut Ajengan Dudukuy kenapa-kenapa.

Barangkali ketika sedang meniti cukang di selokan, Ajengan Dudukuy terpeleset jatuh sebab licin. Lalu dirinya terbawa arus, dan kepalanya menghantam batu. Barangkali ketika sedang menyirami pohon-pohon alba, ular ganas merayap mendekati kakinya sebelum kemudian mematuknya, dan Ajengan Dudukuy sekarang sedang sekarat, atau amit-amit, mati. Barangkali ketika sedang sembahyang di batu datar, tiba-tiba saja ada ular sanca yang sedang kelaparan. Melihat mangsa yang sedang berdiri tenang, ular sanca lalu merayap membelit kakinya. Sekuat apa pun Ajengan Dudukuy melawan, tetap saja tenaganya tak akan mampu menandingi kekuatan lilitan ular sanca, dan sekarang mungkin dirinya telah berada di perut ular sanca. Barangkali tadi Ajengan Dudukuy makan terlebih dahulu, sebab anjing itu datang terlambat. Ketika sedang enak-enaknya makan, dirinya tak sengaja menelan cucuk ikan asin yang membuatnya tersedak. Lantas dirinya berlari dengan tergesa menuju saung tetangga untuk meminta minum karena ternyata persediaan minumnya telah habis. Tapi di perjalanan, akibat dari tergesa-gesa, dirinya tersandung akar yang membuatnya jatuh ke jurang. Anjing itu bergidik dibuat ngeri oleh bayang-bayangnya sendiri.

Anjing itu mencoba untuk tenang, duduk di saung, menunggu Ajengan Dudukuy. Berjam-jam anjing itu duduk, tapi Ajengan Dudukuy tak tampak batang hidungnya. Hari telah mencapai sore, dan belum ada tanda-tanda Ajengan Dudukuy akan datang. Malam telah merangkul sore, dan anjing itu masihlah terduduk di saung menunggu Ajengan Dudukuy. Ketika malam melahirkan pagi, anjing itu tersadar, mendapati dirinya telah tertidur di saung. Anjing itu bangun tanpa melihat Ajengan Dudukuy. Anjing itu mencoba menguatkan hati, untuk kembali menunggunya sampai siang datang. Siang menyapanya, tanpa Ajengan Dudukuy di sampingnya.

Anjing itu gelisah. Mengapa telah sesiang itu tapi Ajengan Dudukuy belum datang juga. Bayang-bayang akan Ajengan Dudukuy yang mati dipatuk ular ganas, atau ditelan ular sanca, atau jatuh ke jurang, atau kepalanya dihantam batu, atau tersedak cucuk ikan asin, membuatnya kembali ngeri. Anjing itu khawatir bagaimana kalau apa yang dibayangkannya benar-benar terjadi. Walaupun baru sehari tak bertemu, tapi anjing itu sudah rindu pada Ajengan Dudukuy. Anjing itu rindu menemaninya bekerja, rindu bercanda berlari-larian, rindu makan bersama di saung, rindu obrolan hangat dengannya. Anjing itu berbaring. Letih menahan kerinduan. Lemas menahan lapar. Tiga hari berlalu, dan datanglah sebuah pertanyaan.

“Ajengan Dudukuy belum ke sini?”

Demi mendengar seseorang bertanya, anjing itu dibuat terlonjak. Anjing itu berharap orang yang tadi melemparkan pertanyaan tersebut adalah Ajengan Dudukuy, tapi yang didapatinya adalah orang saung tetangga. Anjing itu kembali berbaring. Letih. Lemas. Belum makan selama tiga hari.

“Kamu menunggu Ajengan Dudukuy di sini?”

Anjing itu tak berselera menjawab.

“Kamu tak tahu?”

“Apa maksudmu aku tak tahu?” anjing itu menggeram.

“Santai kawan,” orang itu agak mundur sedikit. “Jadi ternyata belum sembuh,” lanjutnya.

“Sembuh?”

Dan orang itu pun menceritakan bahwa Ajengan Dudukuy sedang sakit. Orang itu menyangka Ajengan Dudukuy sudah sembuh, maka dari itu ia datang ke saung bermaksud meminta tembakau. Perihal apa sakitnya, orang itu pun tak bisa memastikan. Ia hanya dengar-dengar dari orang-orang bahwa Ajengan Dudukuy sakit.

Berita itu memastikan satu hal, bahwa Ajengan Dudukuy tidak mati. Perkara sakit apa, itu tak tak jadi soal. Hal terpenting adalah anjing itu telah tahu bahwa meskipun Ajengan Dudukuy sakit, tapi dirinya juga baik-baik saja. Tak mati ditelan ular sanca, atau mati tersedak cucuk ikan asin. Pertama-tama, untuk memastikan Ajengan Dudukuy tak kena suatu penyakit mematikan, anjing itu kudu datang menjenguknya. Tapi yang jadi soal, anjing itu tak tahu mesti menjenguk ke mana. Anjing itu tak tahu rumah Ajengan Dudukuy di mana. Itu memang jadi soal, tapi bukan soal yang rumit buat dipecahkan.

Anjing itu tahu, dari mana arah Ajengan Dudukuy datang, dan ke arah mana dirinya pulang. Anjing itu telah hafal, ia sering melihatnya. Dalam hal ini, penciumannya akan menjadi senjata utamanya. Bermodal keyakinan tersebut, anjing itu melangkah menuju jalan yang menuntunnya menuruni huma. Anjing itu berjalan, dan terus berjalan. Melewati semak-semak, pepohonan, dan kebun orang-orang. Anjing itu senang karena masih bisa mencium jejak Ajengan Dudukuy di daun-daun. Jejaknya juga menempel pada rumput, pohon-pohon, dan ilalang. Anjing itu tak pandai menghitung, tapi ia bisa mengira-ngira bahwa dirinya telah berjalan sejauh tiga kilometer.

Setelah agak bersusah payah berjalan menembusi rapatnya pohon jagung, anjing itu lalu disuguhi pemandangan perkampungan. Tampak hangat. Anak-anak pada main kejar-kejaran, ibu-ibu pada mengawasi anak-anaknya yang sedang main kejar-kejaran, dan bapak-bapak pada bersarung duduk di bangku menontoninya sembari merokok. Kehidupan macam apa ini? Anjing itu juga mendengar lantunan suara lantang mengapung. Kadang suara lantang itu lurus, kadang berkelok, tak jarang menukik dan menanjak, kemudian lurus lagi, berkelok lagi, dan terus seperti itu. Lantunan suara ini begitu berisik, tapi sekaligus menggembirakan, pikir anjing itu.

Seorang bocah mengeplak kepalanya. Anjing itu tersadar dari lamunan, dan “Heh,” mengapa bocah ini berani mengeplak kepalanya? Babi hutan paling gede saja takut padanya. Tapi ini? Bocah sekecil ini? Anjing itu menggeram, tapi kepalanya malah kembali dikeplak. “Apa-apaan ini, bocah?” tanya anjing itu geram. Dan si bocah tak menjawab, hanya memandangnya lurus. Mungkin si bocah kesal karena setelah mengeplak kepala anjing itu untuk yang ketiga kalinya, ia masih saja belum mengerti apa maunya. Si bocah pergi. Anjing itu baru sadar, di sini anjing begitu banyak. Ada yang sedang baringan di tanah, bermain bersama bocah-bocah, duduk di bangku, dan atau sekadar berkeliling berjalan-jalan. Mendapati ada seekor betina di dekatnya, anjing itu lalu bertanya kepadanya, di mana dirinya bisa menemui Ajengan Dudukuy.

“Ah, Ajengan Dudukuy. Mari kuantar,” jawab betina itu sopan.

“Dan lantunan suara apakah ini?”

“Selawat.”

“Selawat?”

“Selawat.”

“Apaan selawat?”

Betina itu hanya berjalan, tak menjawabnya lagi. Anjing itu heran, ternyata tak sesusah itu mencari orang bernama Ajengan Dudukuy di sini. Orang-orang dan anjing-anjing seperti sangat mengenalnya. Anjing itu berjalan, di sampingnya betina itu mengiringi sembari menunjukkan jalan. Tak butuh waktu lama, dan anjing itu telah sampai. “Ini rumahnya. Tapi jangan mengganggu, Ajengan Dudukuy masih belum sembuh,” betina itu berkata sembari undur diri.

Sungguh bungah hatinya ketika dirinya bisa kembali melihat Ajengan Dudukuy. Ajengan Dudukuy pun tampak merasakan hal yang sama. Ajengan Dudukuy mengusapi anjing itu, dan anjing itu senang tak kepalang. Penantiannya selama lima hari terbayar tuntas. Kini anjing itu melihat senyum Ajengan Dudukuy, dan merasakan disentuhnya lagi. Tak sebagaimana penantiannya ketika di saung, di sini, penantian anjing itu tak terasa seperti sebuah penantian. Pasalnya, orang-orang tampak begitu sayang kepadanya. Bukan, bukan kepadanya saja. Tampaknya orang-orang begitu menyayangi anjing-anjing. Di sini anjing-anjing sangat diperhatikan. Selama lima hari menanti, anjing itu tak pernah kena lapar. Dan yang menjadikan rasa bungahnya berbunga-bunga, betapa banyak betina di tempat ini.

___

Semenjak hari itu, anjing itu masihlah menikmati hari-hari di saung bersama Ajengan Dudukuy sebagaimana biasa. Bedanya, anjing itu tak tinggal di hutan lagi. Saat Ajengan Dudukuy pulang, anjing itu ikut mengiringinya. Setelah kejadian Ajengan Dudukuy menghilang, anjing itu merasa harus menemani Ajengan Dudukuy ke mana pun. Maka selain ke huma, anjing itu kemudian menemani Ajengan Dudukuy mengisi pengajian, menunggui Ajengan Dudukuy mengajar santri-santrinya. Tak hanya mengantar atau menunggui, tapi anjing itu terutama ingin memastikan bahwa Ajengan Dudukuy akan selalu baik-baik saja. Anjing itu juga cukup tahu diri. Anjing itu menjaga Ajengan Dudukuy dari suatu jarak. Sebabnya Ajengan Dudukuy pernah berkata, jika sedang berada di pengajian umum, anjing itu harus jaga jarak.

“Bukan aku tak mau, tapi itu demi kemaslahatan bersama,” Ajengan Dudukuy mengingatkan.

“Kalau di kebun?”

“Kecuali di kebun.”

Meski selalu taat kepada apa yang disampaikan Ajengan Dudukuy untuk menjaga jarak, tapi orang-orang kadung mengenal Ajengan Dudukuy sebagai seorang pencinta anjing. “Lihatlah, ke mana-mana ajengan itu membawa anjing,” kata orang-orang. Ajengan Dudukuy ingin menjelaskan kepada orang-orang, ia tak pernah ada maksud buat memelihara anjing. Tapi setelah dipikirnya lagi, jika orang-orang telah beranggapan demikian kepadanya, maka biarlah. Biarlah tetap seperti itu. Begitulah kemudian orang-orang mulai menyebut Ajengan Dudukuy sebagai Ajengan Anjing.

Pada awalnya, sebutan Ajengan Anjing itu lahir dari mulut orang-orang yang tak menyukainya, dan sebutan itu dimaksudkan tak lain daripada untuk merendahkannya. Syukur kepada Allah karena keluhuran budi pekerti Ajengan Dudukuy. Karena Ajengan Dudukuy tak pernah meladeni apalagi membalas omongan orang-orang yang tak menyukainya. Jika ada yang menyebut “Ajengan Anjing” kepadanya, Ajengan Dudukuy hanya akan tersenyum, dan berkata, “Ajengan Anjing? Menarik.”

Barangkali pada awalnya, sebutan tersebut memang dimaksudkan sebagai bentuk menghina. Hanya saja seiring waktu berjalan, Ajengan Dudukuy justru malah menganggap sebutan tersebut sebagai berkah, dan senang ketika kemudian ada orang yang memanggilnya demikian. Ajengan Dudukuy tak pernah meributkan orang-orang yang menyebutnya begitu. Sebab makin ke sini, ketika menyebut dirinya dengan “Ajengan Anjing,” tak terasa bahwa orang-orang sedang memperoloknya. Sebaliknya, Ajengan Dudukuy malah mengambilanya sebagai sebuah pujian.

Ketika sedang mengisi ceramah atau pengajian, Ajengan Dudukuy jadi sering bercerita mengenai Ashabul Kahfi. Sekumpulan tujuh pemuda beriman, yang karena keimanannya, diburu oleh penguasa zalim buat dihabisi. Dan seekor anjing setianya, yang selau awas dan waspada melindungi ketujuh pemuda tersebut, ialah Qithmir. Ajengan Dudukuy selalu berpesan agar orang-orang tak besar kepala akibat terjebak pada anggapan bahwa manusia adalah makhluk sempurna. Kedudukan sebagai makhluk yang dikatakan sempurna, jangan lantas membuat kita jadi merasa lebih baik dari yang lain. Jangan merasa lebih baik daripada jin. Jangan merasa lebih baik daripada malaikat. Jangan merasa lebih baik daripada iblis. Jangan merasa lebih baik, sekalipun hanya dari seekor anjing. Bisa jadi jin itu lebih taat dalam beribadah daripada manusia. Bisa jadi iblis itu sedang menggoda kita untuk merasa lebih baik. Bisa jadi seekor anjing, sato yang dianggap hina, lebih mulia kedudukannya menurut Allah dibandingkan dengan manusia. Qithmir, anjing tujuh pemuda beriman itu, telah membuktikannya. Betapapun orang-orang sering menganggapnya hina, tapi karena kesetiaan dan keimanannya kepada Allah, Qithmir bisa mencapai kedudukan mulia. Sebab yang terpenting bagi Allah adalah amal ibadah dan perbuatan kita, dan bukan perkara apakah kita ini lebih baik dari yang lain atau tidak.

Ajengan Dudukuy juga selalu berpesan untuk meniru laku lampah Kanjeng Nabi. Tirulah bagaimana Kanjeng Nabi bersikap, entah itu kepada sesama ataupun kepada selainnya. Kanjeng Nabi tak pernah berlebihan dalam segala hal. Termasuk dalam menyikapi anjing. Kanjeng Nabi memang tak menyarankan anjing-anjing dipelihara, tapi itu bukan karena beliau membencinya. Kanjeng Nabi tak pernah membenci anjing, sebab anjing itu pun sama, adalah makhluk Allah. Membenci makhluk Allah sama artinya dengan membenci Allah itu sendiri. Janganlah berlebihan, apalagi sampai keterlaluan. Bersikap secukupnya, dan berlaku sewajarnya. Selain kepada anjing, kita juga mesti menjaga akhlak kepada makluk lain.

“Maksudnya, Ajengan?” tanya seseorang ketika pengajian rutin malam Jumat.

Jaga akhlak kepada pohon, batang singkong, ikan-kan, kepiting, ular sawah, keong, pohon cengkih, bunga-bunga, dan intinya kepada semuanya. Segalanya yang ada di bumi ini.

“Jaga akhlak. Sebab kita tak lebih baik daripada terong, daun mangga, pohon belimbing, atau yang lainnya. Jaga akhlak, sebab islam adalah akhlak.” tegas Ajengan Dudukuy.

___

Di bulan kelima, anjing itu melamar seekor betina. Betapa begitu berlipat-lipat rasa bungah dalam dirinya. Betina itu adalah ia yang mengantarkan dirinya ke rumah Ajengan Dudukuy tempo hari. Bulan ini juga merupakan bulan menggelora baginya. Sebab, ternyata bersetubuh di jalan Tuhan itu alangkah nikmat tak terkira. Bersetubuh itu rasanya gurih. Lezat! Dengan menikahi seekor betina pribumi, anjing itu pun kemudian resmi menjadi warga kampung situ. Anjing-anjing, secara keseluruhan menyenangi anjing itu. Betapa tidak, anjing itu sangat pemberani dan tangguh. Tak butuh waktu lama, sebelum kemudian anjing itu diangkat sebagai pemimpin baru anjing-anjing di kampung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah