Cerita Malam Seribu Bulan: Bertemu Jibril
SUASANA di langit kelima begitu menakjubkan Haji Ahmadun. Ketika Haji Ahmadun melangkah, kedua kakinya disambut hamparan pasir putih yang basah tapi sekaligus hangat. Di cakrawala, burung-burung berseliweran melukis langit. Cahaya layung begitu membara tapi lembut; merambati udara dengan anggun, memantulkan cahaya gemilang ketika mencumbui lautan, dan menyirami semesta kebahagiaan. Desau angin terasa sopan walau kadang jahil. Ia merayapi semesta, mempermainkan pohon-pohon kelapa, menggoyang sekumpulan pohon ketapang, menerbangkan dedaunan hingga berserakan, dan meski kadang jahil, tapi ia pun sekaligus menenangkan setiap perasaan yang gamang.
Haji Ahmadun tak terburu-buru mencari Jibril. Untuk beberapa saat, ia membasuh lelahnya pendakian dengan berbaring di hamparan pasir putih yang basah sekaligus hangat. Ia memejamkan mata. Merasai angin menyelimutinya dengan malu-malu bagai seorang perawan. Merasai kakinya dicumbu ombak bagai percintaan di malam pertama. Merasai semesta seperti sedang membangun kuil kebahagiaan di dalam dadanya. Damai. Begitu damai rasanya. Ia membuka mata, dan cahaya layung mengecupnya bagai seorang kekasih tengah dimabuk cinta. Keningnya dikecup, matanya dikecup, pipinya dikecup, hidungnya dikecup, bibirnya dikecup. Ah betapa. Betapa Haji Ahmadun begitu mencintai cahaya layung yang maha welas asih. Ia kembali memejamkan mata, dan kemudian tertidur selama tujuh ratus tahun.
Ketika Haji Ahmadun membuka mata, segalanya masih tetap sama. Ia seperti sedang berada di sebuah dimensi di mana ruang tak bergerak, dan waktu begitu lenturnya sehingga bisa dibolak-balik dan ditarik-ulur. Ia lalu duduk, dan mengambil posisi lotus. Kedua matanya dipusatkan menjamah kekosongan semesta. Tangan dan jari-jarinya menuju posisi zikir. Pikirannya mencoba menembus batas-batas alam raya. Ia menarik nafas, merayu udara, guna mengisi tenaganya. Tapi sebelum udara benar-benar mengisi tubuhnya, konsentrasinya keburu buyar dipecah gugur ombak. Matanya yang tadinya sedang menjamah kekosongan semesta, kini melihat seorang tua tengah terbang bersila di atas selembar daun raksasa dilatari gelombang ombak. Orang itu sedang berselancar di udara di atas selembar daun raksasa. Haji Ahmadun berdiri. Daun tersebut melayang mendekatinya.
“Salam,” tegur Haji Ahmadun sopan.
“Salam,” yang ditegur menjawab seraya turun dari atas daun.
Haji Ahmadun menyalami orang tersebut.
“Abdi Haji Ahmadun, dan sampeyan?”
“Walikilia.”
“Wali?”
“Kilia. Wa-li-ki-lia.”
Sejenak, hening mengisi percakapan mereka.
“Haji sedang apa di sini?”
“Mencari Jibril.”
“Jibril?”
“Jibril.”
“Mengapa orang-orang begitu ingin bertemu Jibril?” Walikilia bertanya. Tapi, pertanyaan tersebut seperti tidak ditujukan kepada siapa pun.
“Entahlah,” timpal Haji Ahmadun. “Sampeyan bisa membantu?”
“Tentu, tentu,” ia mendudukan tubuhnya, dan Haji Ahmadun mengikutinya. “Tadi kulihat Jibril sedang memancing di danau di atas gunung.” Sambil berkata begitu, Walikilia menunjuk ke tengah laut. Haji Ahmadun ternyata baru menyadarinya, ternyata memang ada gunung di tengah laut.
Haji Ahmadun lantas bertanya bagaimana caranya dirinya bisa sampai ke gunung tersebut. Walikilia balik bertanya kepada Haji Ahmadun, apakah dirinya telah menguasai ilmu meniti ombak? Haji Ahmadun menggeleng, dan menjawab bahwa dirinya hanya menguasai ilmu meniti hampa. Walikilia mengangguk sambil mengelus janggut putihnya yang panjang. Ia menjelaskan bahwa akan butuh waktu sekitar dua kali pasang surut jika dirinya hendak menuju gunung tersebut dengan meniti hampa. Itu akan menguras banyak waktu, sebab dari satu pasang surut ke pasang surut lainnya diperlukan waktu menunggu selama sembilan gerhana, dan gerhana hanya terjadi dua ratus tahun sekali. Kemudian Walikilia berkata, memberi pilihan alternatif, bahwa ada lima cara lainnya jika Haji Ahmadun hendak menuju gunung tempat danau di mana Jibril sedang memancing.
“Pertama, Haji bisa membikin perahu dari pohon kelapa dan pohon ketapang.”
Haji Ahmadun tak menyela.
Tapi Haji tak bisa membikin sembarang perahu. Haji harus membikin perahu yang kuat dan kokoh dengan jumlah layar dua ribu lima ratus. Haji harus membikin dua ribu lima ratus layar tersebut dari kepingan mega-mega yang berserakan, dan menjahitnya dengan janggut Nabi Khidir. Sebabnya, lautan yang akan Haji arungi begitu ganas. Kelihatannya saja tenang, padahal mematikan.
“Haji tahu di mana Nabi Khidir?”
Haji Ahmadun menggeleng.
“Aku juga.”
Kedua, Haji bisa menumpang ke dalam perut Paus Biru. Tapi yang menjadi persoalan, Paus Biru hanya muncul dua ratus lima puluh tahun sekali. Dan kalaupun Paus Biru muncul, Haji tak bisa seenaknya begitu saja menumpang ke dalam perutnya.
“Mengapa?”
“Sebab sebagai tiket masuknya, Haji kudu menembangkan seribu tembang buhun dengan iringan gamelan. Barangkali Haji bisa menembangkan seribu tembang buhun, tapi Haji tak akan bisa melakukannya seraya bermain gamelan sekaligus, bukan?”
Haji Ahmadun mengangguk.
“Untuk itu, Haji harus menyelam terlebih dahulu dan bertarung dan mengalahkan Ratu Gurita. Hanya Ratu Gurita yang bisa memainkan seperangkat alat-alat gamelan seperti kendang, seruling, saron, bonang, jenglong, dan gong dengan baik seorang diri.”
Haji Ahmadun menggaruk rambutnya yang tak gatal.
Ketiga, Haji bisa menumpang ke atas punggung Kura-kura Berjanggut. Untuk mengundang Kura-kura Berjanggut, Haji kudu bersemadi di atas kenangan beralas kerinduan selama seratus lima puluh tahun. Keempat, untuk menuju gunung tempat danau di mana Jibril sedang memancing, Haji bisa menunggangi rembulan. Tapi sebelum bisa menunggangi rembulan, Haji harus menjeratnya terlebih dahulu dengan rambut Haji sendiri. Itu artinya, Haji harus menunggu sampai rambut Haji benar-benar panjang untuk kemudian bisa digunakan menjerat rembulan. Walikilia lalu mengingatkan, bahwa dalam rangka untuk bisa menemui Jibril yang sedang memancing di danau di atas gunung di tengah laut, waktu menjadi kunci yang sangat penting. Karena, bisa saja sekarang Jibril memang sedang memancing di danau di atas gunung di tengah laut sana. Tapi tak tertutup kemungkinan, dalam lima kedipan mata saja, Jibril sudah pindah dan tak memancing di situ.
“Lima kedipan?”
“Satu kedipan setara dengan seratus tahun,” tukas Walikilia.
Haji Ahmadun terbelalak.
Barangkali sekarang Jibril sedang memancing di danau di atas gunung di tengah laut sana, tapi di kedipan kedua, bisa jadi Jibril sudah berpindah ke pesawahan buat main layangan. Di kedipan ketiga, barangkali Jibril tengah menggembala bintang-bintang menyusuri tata surya. Di kedipan keempat, barangkali Jibril pergi ke sungai buat memandikan ternaknya. Di kedipan kelima, barangkali Jibril menuju pendopo kelurahan untuk belajar menepak kendang atau meniup seruling. Di kedipan keenam, barangkali Jibril sedang bermain piano mengiringi para bidadari bermain biola. Di kedipan ketujuh, barangkali Jibril sedang menyiram alam semesta supaya tumbuh subur. Di kedipan kedelapan, barangkali Jibril sedang mengaso di atas matahari sambil merokok menyaksikan layung. Dan begitulah seterusnya, Haji. Pada setiap kedipan, Jibril selalu mengerjakan sesuatu yang baru. Maka dari itu, Haji harus cepat-cepat menuju danau di atas gunung di tengah laut itu.
“Yang kelima?”
“Apanya?”
“Cara-cara menuju gunung tersebut, kang,” balas Haji Ahmadun gelisah.
“Ah ya, hampir saja lupa.” Walikilia menaikkan gulungan sarung di pinggangnya, “Yang kelima, Haji bisa menumpang padaku.”
“Mengapa tak bilang dari tadi?” pekik Haji Ahmadun.
“Jangan salah sangka, Haji. Aku harus menceritakannya dengan urut, dengan tertib. Tak boleh tertukar antara satu dengan lainnya.”
Haji Ahmadun menghela nafas.
“Mari, naiklah Haji. Mumpung Jibril belum berkedip.” Walikilia yang telah terlebih dahulu menaiki lembar daun raksasanya, mengulurkan tangan membantu Haji Ahmadun.
Selembar daun raksasa tersebut seketika melesat dengan cepat. Secepat doa-doa para nabi dikabulkan.
DI ATAS GUNUNG, di dalam saung di pinggir danau, Haji Ahmadun melihat seorang sedang memegang pancingan. Ia melihat orang itu mengenakan caping, seperti para petani di sawah. Tapi meski tampak seperti petani, tubuh orang tersebut tetap mengeluarkan cahaya. “Mungkinkah itu Jibril?” batin Haji Ahmadun. Kalau benar itu Jibril, maka ia tak seperti apa yang sering didengar Haji Ahmadun. Ia tak ada mirip-miripnya dengan bayangan Haji Ahmadun.
“Aku yang Haji cari,” tiba-tiba cahaya tersebut keluar dari saung, menghampiri Haji Ahmadun.
Sejauh ini, Haji Ahmadun telah menjadi terbiasa menyaksikan hal-hal di luar akalnya. Maka ketika cahaya tersebut menjawab pertanyaannya walau tanpa terlisankan mulut, Haji Ahmadun tak menjadi kaget. Haji Ahmadun juga melangkah, menghampiri cahaya tersebut. Jarak terpapas langkah, dan keduanya pun telah saling berhadap-hadapan. Keduanya saling bersalaman, dan bahkan saling berangkulan. Haji Ahmadun meneteskan air mata, tapi Jibril tak terharu.
“Jibril,” ujar Haji Ahmadun, “ternyata kamu tak seperti bayanganku.”
“Memangnya bayanganmu seperti apa, Haji?”
“Bayanganku kamu besar dan bersayap. Tapi nyatanya kamu tak jauh berbeda dariku; tak bersayap, dan malah bercaping begitu.”
Jibril tertawa, dan tiba-tiba semesta berubah gelap gulita.
“Inikah ...”
“Benar, Haji. Sayapku selebar ini.”
“Banyak betul. Coba kuhitung dulu,” dan Haji Ahmadun mulai menghitung. “Satu, dua, tiga ... lima puluh sembilan ... seratus dua puluh tujuh ... tiga ratus enam puluh dua ... enam ratus empat puluh delapan ... ah, aku tak pandai berhitung ... sembilan ratus dua puluh lima ... seribu delapan ratus lima puluh sembilan ... lima ribu tujuh ratus tiga puluh dua ... satu juta tiga ratus sembilan puluh ribu ... tiga ratus lima puluh sembilan juta dua ratus lima puluh ribu ...” Haji Ahmadun menarik nafas panjang, “Gila! Banyak betul!”
Jibril tertawa, dan tiba-tiba semesta berubah terang.
Jibril menggiring Haji Ahmadun ke sebuah pohon tumbang, dan keduanya duduk di batang pohon tersebut sembari menatap danau. Damai merayap perlahan, mengisi relung-relung kosong di dalam diri. Jibril lantas bertanya, mengapa Haji Ahmadun rela menempuh pendakian panjang demi bisa bertemu dengannya. Padahal jika dirinya mau bersabar sedikit, ramadan tahun depan bisa saja Jibril yang mengunjunginya.
“Begini,” dan Haji Ahmadun pun mulai bertutur. Telah begitu panjang jalan yang harus ia tapaki demi bisa berjumpa dengan Jibril. Banyak waktu telah terkuras. Tak sedikit harta bendanya yang kemudian menjadi kurban persembahan. Bahwa ia telah menghabiskan sepuluh tahun hidupnya dalam sebuah disiplin untuk menguasai berbagai ilmu. Mulai dari tiga tahun tak pernah putus puasa dan berzikir dengan hanya “Hu” demi bisa belajar bersuci dengan benar, dan tiga tahun lagi bertapa di atas batu datar di bawah naungan pohon beringin di atas Gunung Halimun dan tak boleh makan serta minum sembarangan selain daripada hanya dedaunan dan air hujan serta tetesan embun di rerumputan untuk menguasai bersabar. Bahwa ia kemudian menghabiskan tiga tahun lagi di pesantren Paojan di daerah Bayongbong yang letaknya persis berada di tengah-tengah Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray untuk mempelajari ilmu meniti hampa dari Ajengan Dudukuy. Kemudian selama setahun terakhir, ia telah berkeliling ke tiga masjid legendaris untuk mendirikan salat seribu rakaat di tiap-tiap masjid, dan dilanjutkan dengan membaca selawat kamilah sebanyak sepuluh ribu kali di hadapan Ka’bah, makam Kanjeng Nabi Muhammad Saw, dan seraya ikut berjuang bersama rakyat Palestina melawan penindasan Israel.
Setelah menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk mempersiapkan diri, Haji Ahmadun pun kemudian mulai mendaki udara menuju tiap-tiap lapisan langit. Ia menceritakan segala tantangan dan risiko dari pendakian tersebut. Bagaimana dirinya harus menghadapi bahaya terpeleset jatuh ke awan, atau menginjak duri-duri tak kasat mata, atau disengat matahari, dan yang paling parah adalah kemungkinan dipatuk rembulan. Bagaimana dirinya harus memperhitungkan waktu dengan cermat untuk tiba di pos lintas matahari agar tak kena dehidrasi, dan lalu betapa sulit perjuangannya demi bisa menjinakkan awan-awan liar dengan puluhan lagu. Bagaimana dirinya harus membaca selawat sebanyak satu juta kali demi bisa mengundang selembar daun yang akan mengantarkannya ke lapisan langit pertama, dan kemudian harus merajut baju hangat dari pecahan cahaya rembulan, dari kerlap-kerlip cahaya bintang, dari warna-warni cahaya pelangi, dan dari cahaya layung yang membara. Setelah itu, ia menceritakan bagaimana di setiap lapisan langit dirinya harus menghadapi segala lapisan tokoh-tokoh hebat belaka. Dari mulai rombongan Ramayana, para musisi legendaris, legenda tinju kelas berat Muhammad Ali, dan dua legenda shinobi kawakan Hashirama Senju dan Madara Uchiha.
“Haji dikerjai Jatayu,” sela Jibril.
“Maksudmu?”
“Padahal ada cara mudah jika Haji ingin bertemu denganku.”
“Hah? Yang benar?” Haji Ahmadun terperanjat.
“Haji hanya perlu membaca selawat kamilah sebelas kali dalam satu tarikan nafas.”
“Semudah itu?”
“Semudah itu.” Jibril melanjutkan, “Dan Haji tak perlu jauh-jauh mendaki ke sini, sebab akulah yang akan turun menemui Haji.”
“Sialan kamu Jatayu!”
Jibril tertawa, dan seisi alam semesta juga ikut tertawa.
“Jadi urusan apa yang ingin Haji selesaikan denganku?”
“Apakah aku telah mendapat lailatulkodar?” tanpa basa-basi tanya Haji Ahmadun.
Jibril menarik nafas panjang, dan ketika melakukannya, semesta seperti terhirup ke dalam dadanya.
.png)
Komentar
Posting Komentar