Cerita Malam Seribu Bulan: Rokok, Kopi, dan Pisang Goreng.
Jam sepuluh malam Haji Ahmadun telah keluar dari rumah. Bersarung batik Pekalongan, berbaju koko Palestina, dan tetap dengan peci Madinah dan serban Mekah-nya. Kini ia tak mengantongi tasbih Palestina, tapi mengalungkan tasbih berbahan kayu kelapa di lehernya. Tasbih itu dipesannya secara khusus kepada seorang pengrajin ternama: Jajang Ukir. Butir-butir tasbih dengan serat kayu kelapa mengkilat buah tangan Jajang Ukir, membikin Haji Ahmadun merasa marwahnya semakin meningkat. Itu adalah tasbih mahal kebanggaannya. Haji Ahmadun juga meninggalkan Bu Haji Weny telanjang seorang diri. Ia tersadar, kemarin dirinya telah membikin simpulan keliru perihal lailatulqadar. Maka setelah cukup hanya dengan seronde bercinta, dirinya menguatkan niat buat berangkat ke masjid guna beritikaf. “Cukup sekali bercinta, Bu Haji. Malam ini aku kudu bertemu Jibril,” ucapnya sehabis mencapai puncak percintaan.
Tak sebagaimana malam-malam kemarin, malam ini Haji Ahmadun merasa tak mendapatkan godaan ataupun rintangan berarti. Ia telah berabdas dari rumah, dan tak tergoda berabdas di pancilingan walau airnya lebih menyegarkan. Itu berarti ia tak harus meniti cukang licin keparat yang membikinnya kecemplung kolam ikan. Ia pun tak mendapatkan rintangan di pos ronda. Bocah-bocah kemarin memang sebagaimana biasa, selalu berada di sana buat main gaple tiap malam. Tapi belajar dari pengalaman, ia menguatkan hati buat tak mampir walau hanya sekadar duduk minum kopi. Bahkan ketika Ulum Getih telah menggeser segelas kopi hangat yang sengaja dibikin olehnya, Haji Ahmadun memberi penegasan, “Tak ada ceritanya Akang Haji masuk lubang dua kali, Jang!” Ulum Getih dibikin ngilu menahan tawa demi mendengar apa yang diucapkan Haji Ahmadun. Haji Ahmadun melangkah bergegas, tak sabar bertemu Jibril. Seratus meter lagi, dan dirinya akan berhasil mencapai masjid. “Tunggu aku, Jibril!”
___
Tak sampai beberapa menit Haji Ahmadun berjalan, pendar cahaya lampu masjid mulai merayapi matanya. Senyum Haji Ahmadun merekah ketika kaki kanannya berhasil melewati gerbang masjid. “Alhamdulillah,” ucapnya lirih. Ia agak kaget ketika dari tempat abdas seseorang menyapanya. “Sialan!” gerutunya. Haji Ahmadun belum tahu siapa orang yang menyapanya tadi, sebab lampu di tempat abdas agak muram. Setelah dirinya menajamkan mata, “Ah ternyata kamu, Mid. Akang kira siapa.” Yang menyapa tersenyum, menghampiri Haji Ahmadun, meraih tangannya, menciumnya. Haji Ahmadun senang mendapat perlakuan begitu, walau hanya dari Hamid, tukang beberes di masjid. Ia puas mendapat perlakuan ajrih dan hormat darinya. Keduanya lantas spontan duduk di teras.
“Mengapa masjid sepi begini, Jang?”
“Malam genap biasanya memang sepi, Kang Haji.”
“Ibadah kok milih-milih,” gumamnya.
Lantaran hal tersebut, Haji Ahmadun kemudian sedikit menerangkan kepada Hamid perihal keutamaan sepuluh hari terakhir di bulan ramadan. Ia menjelaskan bahwa sepuluh hari terakhir di bulan ramadan itu merupakan hari-hari di mana Allah membebaskan hambanya dari segala dosa dan siksa api neraka. “Selain berisi lailatul kodar, sepuluh hari terakhir adalah hari-hari pengampunan, Jang.” Maka berdasar pada hal itu, Haji Ahmadun menyayangkan masjid jadi sepi begini di malam genap. Ia menyayangkan sikap orang-orang yang hanya terobsesi pada lailatulqadar di malam ganjil. Padahal baginya, mau ganjil atau genap sama saja. Sama-sama kudu dipergunakan buat beribadah.
“Kemarin-kemarin abdi tak melihat Kang Haji di masjid,” ceplos Hamid berkomentar.
Haji Ahmadun menjawab tenang. Mengapa dirinya baru malam ini datang ke masjid, sebab kemarin-kemarin banyak urusan yang mesti diselesaikan. Ia sejujurnya sangat rindu datang ke masjid untuk beritikaf, tapi urusan-urusan tersebut kalau ditinggalkan bisa bikin repot. Hamid tertawa lebar. Memaklumi kesibukan seorang Haji Ahmadun. Setelah tawa lebar Hamid, obrolan terhenti sejenak. Perhatian keduanya terambil perasaan gembira mendapati malam yang memukau. Bintang-bintang kerlap-kerlip tamasya di hamparan langit. Bulan merekah gemilang. Angin sejuk merayap mengusir gerah dan rungsing. “Malam indah begini Jang,” ucap Haji Ahmadun sembari membuang nafas panjang.
“Apalagi kalau ada rokok dan kopi, Kang Haji,” Hamid nyengir.
“Benar, Jang. Cerdas kamu!”
Haji Ahmadun cekatan merogoh saku baju kokonya. Mengeluarkan uang lima puluh ribu, menyuruh Hamid ke warung buat beli rokok dan kopi. Hamid mengangguk cepat. Dengan setengah berlari, ia berlalu menuju warung.
“Jarum coklat jeung kopi hideung!” teriak Haji Ahmadun mengingatkan.
___
Di teras, sebungkus Djarum Cokelat dan segelas kopi hitam telah tersaji. Haji Ahmadun duduk bersila. Tersenyum bungah. Tanpa menghabiskan malam dengan bercinta bersama Bu Haji Weny, tapi ternyata hidup masih bisa senikmat ini. Haji Ahmadun membakar rokok pertamanya. Mengisapnya dalam-dalam, dan mengembuskannya sepanjang nafas. Huuuuuuuuuuuhhh .... Ia begitu menghayati setiap gerakannya itu. Untuk beberapa saat, Haji Ahmadun merasa melayang. Suara pintu ditutup membuatnya kembali mendarat.
Dari dalam masjid, Hamid menenteng dua piring pisang goreng. Ia bilang, pisang goreng tersebut sisa jajabur tadarusan tadi. Hamid berpendapat, untuk membuat suasana menjadi semakin sempurna, alangkah lezatnya jika merokok dan ngopi sembari mengudap. Melihat dua piring tumpukan pisang goreng, mata Haji Ahmadun berbinar. Perasaannya bungah. Memang benar, pikir Haji Ahmadun. Merokok dan ngopi sembari mengudap–apalagi pisang goreng–memang alangkah sempurna. Pisang goreng akan bikin perut kenyang. Sedangkan kopi akan bikin mata melek, dan rokok akan membuat perasaan semakin gembira. Dengan begitu, tenaga kita akan terisi seratus persen buat beritikaf. Dengan begitu, Haji Ahmadun siap beribadah semalaman tanpa tidur. Dengan begitu, Haji Ahmadun siap buat bertemu dengan Jibril. Dengan begitu, Haji Ahmadun jemawa bisa mendapatkan lailatulqadar.
___
Jam sebelas malam. Rokok telah habis tiga batang. Kopi di cangkir sisa setengah. Pisang goreng baru habis sepiring. Ketika melirik jam di tangannya, Haji Ahmadun agak dibikin tak menyangka. Mengapa waktu bisa secepat ini? Hamid tak lagi menemaninya duduk di teras. Ia pamit tidur saat selesai menghabiskan rokok keduanya. Haji Ahmadun sempat mencibir keputusan Hamid tersebut. Katanya, “Kamu bukannya habiskan malam dengan beribadah buat meraih pahala sebanyak-banyaknya, ini malah tidur begitu.” Hamid tergelak. Tersenyum pamit.
Kini Haji Ahmadun duduk sendiri. Mengisap rokok keempatnya, menyeruput kopinya yang tinggal setengah, dan memakani sepiring pisang goreng. Pikirnya kalau tak dihabiskan, pisang goreng tersebut nantinya malah mubazir. Ia tak mau menyia-nyiakan makanan. Di luar sana masih banyak orang susah makan, tapi di sini, pisang goreng dibiarkan seenaknya begini. Ia tak mau. Ia tak ingin. Ia harus menghabiskan pisang goreng tersebut. Maka, berlanjutlah Haji Ahmadun duduk di teras, mengisap rokok, menyeruput kopi, dan memakani pisang goreng. Tiga puluh menit berlalu, dan akhirnya Haji Ahmadun bersendawa keras. Rokok telah habis enam batang. Kopi habis. Pisang goreng pun habis.
Haji Ahmadun bangkit, beranjak menuju tempat abdas. Tapi sebab kekenyangan, tubuhnya terasa begitu beratnya. Ia merasa heran mengapa bisa begitu. Padahal, seharusnya pisang goreng tersebut bisa mengembalikan tenaganya. Sedangkan rokok dan kopi kudunya membuatnya bersemangat. Namun anehnya, Haji Ahmadun malah merasa mengantuk, dan sepanjang jalan menuju tempat abdas dirinya terus menguap. Ia merasa segar ketika selesai berabdas. Tapi ketika dirinya masuk ke masjid dan kemudian menunaikan salat syukrul wudhu serta tahiyyatul masjid, tubuhnya kembali terasa berat. Matanya berat. Tubuhnya lemas. Ia tak berdaya diserang kantuk. Pikiran ini kemudian mampir ke benaknya, “Barangkali tidur barang sejam akan membuat dirinya segar kembali?” Haji Ahmadun mengangguk. Ia melirik jam. Jam dua belas kurang lima belas menit. Rasanya tidur sejam cukup. Sebelum memejamkan mata, Haji Ahmadun berdoa, “Tunggu, dan bangunkan aku, Jibril!”
___
Malaikat Jibril membanting rokoknya ke tanah. Ini sudah pukul tiga, dan Haji Ahmadun belum juga terbangun. Padahal seribu malaikat pendampingnya telah mencoba membangunkan Haji Ahmadun.
“Kita naik ke langit!”
Maka Jibiril dan seribu malaikat pun melesat. Meninggalkan bulan seorang diri.
.png)
Komentar
Posting Komentar