Cerita Malam Seribu Bulan: Aku Telah Mendapatkannya, Jibril!

 


Malam terhampar kelam di bola matanya. Udara lembap mengepung rongga dadanya. Angin tak kunjung datang. Hujan tak kunjung tiba. Dedaunan tertidur dikerubungi nyamuk. Pepohonan berdesakan berebut kehidupan. Malaikat Jibril dan seribu malaikat lainnya mengaso di teras masjid.

___

Haji Ahmadun duduk di teras rumahnya. Merasai angin menggoyang dedaunan. Memandangi asap mengepung udara. Dan menikmati tarian api menjilat kayu-kayu kering. Haji Ahmadun melamun. Merasai sesal mengerubunginya. Sudah dua malam ia melewatkan malam lailatulqadar tanpa seucap doa. Sudah dua malam ia lewati tanpa memperbanyak ibadah. Sudah dua malam ia mengecewakan Jibril dan seribu malaikat pendampingnya. Rokok telah habis tiga batang, tapi sesal belum hendak pulang. Ia masih betah berbaring di pikirannya. Ia masih betah bermalam di dalam dirinya.

            “Andai aku dapat melawan nafsu,” batin Haji Ahmadun. Benar kata Rasulallah. Sebajingan-bajingannya perang adalah perang melawan hawa nafsu. Dua kali Haji Ahmadun dibikin keok. Dua malam Haji Ahmadun dibikin tak berdaya. “Andai aku tak kecemplung kolam ikan,” desah Haji Ahmadun.

Semuanya gara-gara cukang keparat yang licin itu. Kalau saja cukang itu tak licin, barangkali dirinya tak akan terpeleset kecemplung kolam. Kalau saja ia tak terpeleset kecemplung kolam, barangkali dirinya tak perlu pulang buat berganti pakaian. Kalau saja ia tak pulang buat berganti pakaian, barangkali dirinya tak akan bercinta dengan Bu Haji Weny. Dan kalau saja ia tak bercinta dengan Bu Haji Weny sebanyak tiga putaran, mungkin dirinya sudah berada di masjid. Mungkin dirinya sudah bertemu dan mengobrol dengan Jibril. Atau mungkin main gaple dengan seribu malaikat pendampingnya. Kalau tak tergoda untuk bercinta dengan Bu Haji Weny, mungkin dirinya telah meraih lailatulqadar pada kesempatan pertama.

___

“Tapi, bukankah bercinta dengan istri itu dihitung ibadah?” tanya Haji Ahmadun pada dirinya. Mengapa dari kemarin tak pernah terpikir olehnya. Benar, bercinta dengan istri itu adalah ibadah. Haji Ahmadun tentu akan memperoleh ganjaran atasnya. Sebab ia telah beribadah melalui jalan bercinta. Dengan bercinta, Haji Ahmadun senang. Dengan bercinta, Bu Haji Weny bahagia. Lantas, pahala menggembirakan seorang istri itu bukannya melebihi pahala beritikaf di masjid? Haji Ahmadun merasa agak lega dadanya. Sudah benar begitu. Daripada meninggalkan Bu Haji Weny sendiri di rumah, lebih baik Haji Ahmadun menemaninya sembari bersama-sama beribadah kepada Allah melalui jalan bercinta. Itu lebih nikmat daripada semalaman duduk beritikaf di masjid. Sebagai suami ia telah memenuhi kewajibannya terhadap istri, dan sebagai hamba, ia telah memenuhi kewajibannya kepada Allah. Sekali tepuk, seribu nyamuk pada modar.

            Haji Ahmadun buru-buru bangkit dari duduknya. Rokoknya dibanting ke tanah. Ia bergegas menuju kamar buat beribadah bersama Bu Haji Weny.

___

Haji Ahmadun dan Bu Haji Weny sama-sama telanjang di atas ranjang. Tubuh keduanya sama banjir keringat. Nafas keduanya sama terengah. Aroma basahnya persetubuhan masih menyelimuti kamar.

            Senyum Haji Ahmadun merekah. Sembari menatap langit-langit, ia bergumam kepada Bu Haji Weny, “Aku baru sadar, ternyata lailatul kodar juga ada di dalam dirimu.” Tangan Haji Ahmadun lalu merayap, mengusap-ngusap farji Bu Haji Weny. Bu Haji Weny pun tak kalah sumringah. Bibirnya terbuka, nafasnya terengah, matanya merem melek, merasai kenikmatan yang dikirimkan tangan Haji Ahmadun. “Ah ... ah ... ah ... benar Kang ... benar .... Malam lailatul kodar memang lebih baik daripada malam seribu bulan,” racaunya. Mendengar Bu Haji Weny mendesah nikmat, senyum Haji Ahmadun kian merekah. Ia bangga pada dirinya sendiri. Ia bangga punya falus tipikal petarung. Ia bangga falusnya sekukuh tanduk. Ia bangga telah menemukan jalan lain menuju lailatulqadar. Jalan yang tidak mengharuskannya beritikaf semalaman di masjid. Jalan yang teramat mudah. Jalan yang berada di dalam diri Bu Haji Weny. Jalan yang bisa ditempuh melalui celah dalam yang basah.

            Untuk kesekian kalinya Bu Haji Weny mengerang, memuntahkan kenikmatannya. Sejenak ia tak berdaya, dikuasai nafas putus-putus. Tubuhnya berkilat oleh butir-butir keringat. Tubuhnya kian licin. Tubuhnya kian basah. Setelah nafasnya kembali dikuasainya, Bu Haji Weny bangkit. Beranjak menindih Haji Ahmadun yang terbaring pasrah. Ia duduk di atas tubuh Haji Ahmadun. Menciumi wajahnya, memagut bibirnya, dan sesekali menjilati telinganya. Haji Ahmadun tak melawan. Bu Haji Weny kemudian turun menuju dada. Menjilati seluruh permukaannya. Menciumi dan menghisap kedua puting Haji Ahmadun. Dan terus turun menuju perutnya sembari terus menjilat. Hingga menggelosorlah Bu Haji Weny ke tempat impiannya. Ia memandangi falus Haji Ahmadun yang terlihat bangkit. Tangan kirinya cekatan menggenggam falusnya. Ia pandangi dengan tatapan manja, “Kamu ternyata yang membikin malam lailatul kodar begitu nikmat,” ujarnya cekikikan. Perlahan Bu Haji Weny menurunkan tubuhnya, hingga matanya kemudian berhadapan langsung dengan falus Haji Ahmadun. Dalam keadaan sedekat itu, mata Bu Haji Weny tampak berbinar. Sembari terus menatap, tangan kiri Bu Haji Weny bergerak perlahan naik-turun. Falus Haji Ahmadun perlahan menjadi tegak. Bu Haji Weny mengendalikan tempo. Secara berangsur ia menaikkan kecepatan gerakan tangannya, hingga falus Haji Ahmadun kini tak hanya tegak, tapi juga keras. “Cerdas kamu,” puji Bu Haji Weny sembari mengecup falus Haji Ahmadun.

            Bu Haji Weny kemudian mengeluarkan lidahnya. Ia jilati falus Haji Ahmadun seperti anak kucing meminum air. Jilatannya konstan. Tak terlalu cepat, tak terlalu lambat, tak terburu-buru. Setelah puas bermain-main begitu, Bu Haji Weny meningkatkan kerja lidahnya. Ia kini menjilati falus Haji Ahmadun sebagaimana kucing menjilati anaknya. Panjang, dalam, penuh welas asih. Falus Haji Ahmadun semakin berlumuran liur. Bu Haji Weny tahu, Haji Ahmadun telah tak tahan. Maka ia pun cekatan, menjilati kepala falus Haji Ahmadun seperti anak kecil menjilati es krim. Kemudian ketika Haji Ahmadun mulai mengeluarkan suara kenikmatan, dengan beringas, Bu Haji Weny menelan falus Haji Ahmadun. Ia bergerak turun-naik dalam tempo cepat. Tapi tempo cepat ternyata tak membuat kendali Bu Haji Weny berkurang, sebab tangan kirinya pun ikut bergerak turun-naik sama cepatnya. Suara Haji Ahmadun semakin keras. Nafasnya menjadi tak beraturan. Mulutnya mulai meracau tak karuan. Demi mendapati Haji Ahmadun telah menyerahkan diri sepenuhnya, Bu Haji Weny semakin semangat. Ia mempercepat geraknya. Ia menaikkan tempo permainannya. Hingga tak sampai dua menit, Haji Ahmadun mengerang keras dan panjang. Mulut Bu Haji Weny banjir kenikmatan.

            Bu Haji Weny mengangkat wajahnya. Mengarahkan pandangannya kepada Haji Ahmadun. Bu Haji Weny tersenyum manja. Haji Ahmadun tersenyum puas. Dalam hatinya ia berucap, “Jibril, aku telah mendapatkan lailatul kodarku.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Karang di Tubuh