Kurt Cobain Mengumandangkan Adzan

 


Subuh menjemput Kurt Cobain dari akhirat. Ia lalu melemparkan Kurt ke dalam masjid, menyuruhnya untuk bersiaga mengumandangkan adzan. Kurt agak kesal dilempar begitu saja ke dalam masjid, sebab ternyata di akhirat sana agendanya begitu padat. Selain harus menjalani siksaan fisik dan mental sebagai bentuk konsekuensi perbuatannya di dunia, ia juga tengah melaksanakan konser kolaborasi lintas aliran dengan musisi-musisi beken semacam Bob Dylan, Bob Marley, Michael Jackson, Freddie Mercury dan Chester Bennington. Meski begitu kesal, tapi tetap saja Kurt tak mampu buat melampiaskan kekesalannya. Ia tak berdaya di hadapan Subuh. Di hadapan Subuh, Kurt bukanlah apa-apa.

            Manakala Kurt telah berada di dalam masjid selama beberapa menit, barulah ia menyadari bahwa dirinya ternyata tak sendiri. Di pojok sebelah kanan, seorang lelaki menyandarkan tubuhnya ke dinding, bersila, tangan kanan memutar-mutar tasbih dan mulutnya komat kamit. Entah apa yang sedang diucapkannya Kurt tak dapat menebaknya. Kurt hanya berpikir mungkin lelaki tua itu tengah berdoa supaya diberi umur panjang? Atau malah berdoa supaya dirinya cepat-cepat dipanggil, siapa tahu? Lihatlah dirinya, paling tidak umurnya tujuh puluh lima atau delapan puluh tahun. Mungkin ia sudah bosan hidup dan lelah terjebak dalam tubuh renta itu. Semoga doamu dikabulkan, orang tua.

            Astagfirullah. Kurt lalu ingat bahwa dirinya belum berwudhu. Ia pernah diperingatkan oleh Malaikat Jibril bahwasanya jika hendak masuk masjid terlebih dahulu harus menyucikan diri dengan berwudhu. Dan Kurt, ingatlah pesanku ini: jangan berani-beraninya masuk masjid tanpa punya wudhu, tutup Malaikat Jibril ketika itu. Kurt pun bergegas keluar masjid, menuju tempat wudhu. Hanya saja ketika dirinya telah berhadapan dengan keran, Kurt bingung bagaimana harus memulainya. Ia tak tahu cara berwudhu. Ketika itu Malaikat Jibril hanya mewanti-wanti untuk punya wudhu kalau hendak masuk masjid, tapi ia tak menjelaskan apalagi mengajarkan bagaimana caranya berwudhu. Betapa cerobohnya Malaikat Jibril, gerutu Kurt.

            Lama Kurt mematung di depan keran. Ia mencoba membayangkan bagaimana caranya berwudhu. Bagian mana yang harus ia basahi dengan air? Seluruh tubuhnya? Atau hanya pada bagian-bagian tertentu? Dan jika hanya pada bagian-bagian tertentu, maka apa saja bagian-bagian tertentu itu? Kurt menebak bahwa harusnya berwudhu itu dimulai dari bawah, dan apakah itu berarti kakinya yang harus ia basahi pertama-tama? Hmmm .... tapi kalau yang pertama-tama ia basahi adalah kaki, lalu apa bedanya berwudhu dengan cuci kaki? Apa kedua tangan yang harus dibasahi terlebih dulu? Ah tapi itu juga sama saja, berarti berwudhu tak ada bedanya dengan cuci tangan. Atau apakah rambut? Ah tapi itu namanya keramas, bukan wudhu. Apa mungkin membasuh muka? Ah tapi itu juga berarti malah cuci muka, bukan berwudhu. Aduh bagaimana ini? Bisa-bisa waktu subuh keburu masuk dan aku masih terjebak di tempat wudhu. Sialan, malah kepengin kencing.

            Ajengan Maman kedengaran mulai bertahrim di masjid kampung sebelah, sementara Kurt masih melongo di hadapan keran. Aduh bagaimana ini? Sebenarnya terpikir juga olehnya untuk bertanya pada lelaki tua itu, tapi untuk menanyainya berarti Kurt mesti masuk masjid dan sialnya ia tak bisa sebab belum punya wudhu. Kurt belum suci, dan ia harus dalam keadaan suci untuk masuk ke dalam masjid. Jibril, kau di mana? Tolonglah datang kemari, kasih tahu berwudhu itu seperti apa. Kalau sampai waktu subuh keburu masuk dan aku masih belum juga dapat masuk masjid untuk mengumandangkan adzan .... celaka, celaka! Engkau di mana Jibril? Turunlah kemari. Contohkan padaku bagaimana caranya berwudhu. Aku enggan kembali ke akhirat dengan banyak beban apalagi ditambah dosa baru karena tak mengumandangkan adzan tepat waktu. Sialan. Orang-orang juga ke mana belum pada datang.

            Lima menit lagi menjelang masuk waktu adzan, dan Kurt, telah kehilangan kesabarannya. Sudahlah peduli amat, yang penting aku berniat untuk berwudhu meski tak tahu caranya. Tuhan, aku berniat untuk wudhu, tapi tak tahu caranya, batin Kurt. Ia lalu memutar keran yang kemudian mulai mengucurkan air perlahan. Sejenak Kurt pandangi air yang mengalir dari keran, sebelum kemudian membuka seluruh pakaiannya. Kurt sekarang telanjang, dan berjongkok, dan lalu menempatkan tubuhnya pada air yang mengucur. Akhirnya Kurt membasahi seluruh tubuhnya, sembari sesekali menggosoknya menggunakan telapak tangan. Dengan melakukan hal demikian Kurt merasa aman, karena jika berwudhu hanya menyaratkan beberapa bagian dari tubuh, sekarang malah seluruh tubuhnya telah basah. Bukankah itu lebih baik sebagai tindakan antisipasi? Perihal nanti wudhunya diterima atau tidak, yang terpenting bagi Kurt adalah dirinya telah berniat untuk berusaha mencoba berwudhu. Kurt yakin, Tuhan adalah seorang Yang Maha Memahami.

            Wudhu ala Kurt kelar. Ia bergegas masuk masjid, lalu bertahrim, sebelum kemudian bersiap mengumandangkan adzan bernada minor. Kurt menarik nafas panjang sebelum memulai, dan sebelum mengeluarkan suaranya tiba-tiba saja terpikir olehnya: kalau begitu, apa bedanya wudhu dengan mandi? Allahu Akbar Allahu Akbar ....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Karang di Tubuh