Freddie Mercury Menjawab
Sebagaimana Kurt Cobain, Freddie Mercury juga dibuat kesal ketika Malaikat Munkar dan Nakir bertanya banyak hal kepada dirinya. Siapa Tuhanmu, siapa Nabimu, apa Agamamu, dan bla ... bla ... bla... Buatnya, kedua Malaikat itu begitu menjengkelkan. Karena menurutnya, pertanyaan tersebut tak lebih daripada gabungan pertanyaan formal-tak berguna yang tidak signifikan, dan hanya sekadar basa-basi belaka. Apalagi ketika duet Malaikat tersebut menyinggung dengan bertanya mengenai kehidupan pribadinya yang menurutnya sangat tidak sopan. Maka Freddie Mercury pun melayangkan protes keras.
“Mengapa kalian sebegitu terobsesi dan tidak sopannya berani bertanya mengenai kehidupan pribadiku? Itu begitu kasar dan menjengkelkan kalau kalian mau tahu. Sebab mengapa? Sebab, aku dididik dan hidup di tengah masyarakat yang begitu menghargai privasi orang lain. Sementara kalian yang langsung dididik dan dibimbing oleh Tuhan malah berani-beraninya bertanya dan ikut mencampuri kehidupan pribadiku. Begini Munkar dan Nakir, aku tak tahu mengapa diriku lebih menyukai lelaki daripada perempuan. Kalau kalian berdua kepengin tahu mengapa aku menjadi seorang gay, mestinya kalian bertanya pada Tuhan kalian mengapa aku dibikin menjadi seperti itu. Bukankah itu adalah masalah takdir yang berarti telah menjadi ketetapan Tuhanmu? Kalau aku dapat memilih, aku pun akan memilih untuk mencintai seorang perempuan, dan tentu menyetubuhi perempuan. Tapi apa lacur, aku tak bisa. Aku tak bisa memilih untuk menentukan apakah aku akan menyukai seorang lelaki atau perempuan. Hasrat itu muncul begitu saja dari dalam diri, seperti bisul atau jerawat yang kapanpun dapat mendadak muncul. Dan begini ya, kukasih tahu bahwa yang namanya ‘hasrat’ itu telah jauh tertanam di dalam diri sedari jauh-jauh hari. Aku tak punya kendali apalagi kuasa untuk mencegahnya meluncur ke permukaan. Hasrat juga adalah barang bawaan yang sudah terinstal bersamaan ketika kelahiranku ke dunia. Aku pun tak bisa memilih apalagi memilah perihal apa saja yang harus dan tidak harus terinstal dalam diriku ketika aku lahir. Itu semua berada dalam genggaman takdir. Itu semua adalah ketetapan ilahi, yang berarti adalah ketetapan Tuhanmu. Dengan demikian, sudah semestinyalah pertanyaan tersebut kalian lemparkan kepada Tuhanmu. Bukankah kata kalian berdua bahwa ialah Yang Maha Mengatur segalanya? Ia Sang Maha Pencipta yang menciptakan alam raya? Ia juga yang membikin dunia? Serta ia juga Sang Maha Segalanya yang berhak menghidup-matikan apa-apa yang ada dalam genggamannya? Bukankah begitu menurut kepercayaan kalian?”
Maka kedua Malaikat itu pun mengangguk.
“Nah, kalau memang kalian memercayai bahwa segalanya yang ada di alam raya ini berada dalam genggamannya, maka masuk akal kiranya kalau kalian mestinya bertanya kepada Tuhan kalian saja. Benar begitu, bukan? Sebab Tuhan kalianlah dalang yang menulis dan mengatur segala cerita di alam raya ini, yang berarti ia juga yang menulis sekaligus menakdirkan bahwa aku ketika lahir ke dunia mesti menjadi seorang pecinta sesama jenis dan tidak lawan jenis. Sampai sini cukup jelas? Sudah kalau begitu, aku harus kembali ke barzah untuk berlatih. Minggu depan aku ada konser kolaborasi lintas aliran. Kalian mau nonton apa tidak? Kalau mau, nanti kukirimkan kalian tiketnya. Gratis, tak usah bayar!”
Tanpa menunggu jawaban dari duet Malaikat Munkar-Nakir, Freddie Mercury pun berlalu. Di barzah sana, ternyata John Lennon telah duduk menanti dengan rokok nangkring di bibir. “Kau lama sekali,” damprat John.

Komentar
Posting Komentar