Di Rumah Kakek dan Nenek
Sore tadi aku bertemu Kakek dan Nenek. Mereka baik-baik saja, tapi awalnya tampak terguncang menyadari kehadiranku yang mendadak. Nenekmu bahkan sempat pangling, hingga butuh waktu lama buatnya untuk mengenaliku. Tentu aku mencium mereka, memeluknya, dan kupersembahkan juga salam darimu untuknya.
Kakek dan Nenek memang dalam keadaan sehat, tapi tampak begitu ringkih. Usia memang tak dapat diajak kompromi. Wajah kakek yang dulu biasanya klimis kini tampak udzur. Kumisnya tebal dan panjang, berwarna putih. Pun pada jenggot dan kedua alisnya serta rambut di kepalanya, seluruhnya telah berubah menjadi putih. Nenek juga sama. Keriput yang tadinya hanya sedikit, kini telak ada di mana-mana. Di pipi, di bawah kelopak mata, pada keningnya, dan meliputi juga kedua tangan dan kakinya. Meski begitu, sebagian besar rambut Nenek masihlah belum memutih, hitamnya masih terjaga.
Aku begitu terkejut, mendapati kakek dan Nenekmu secara fisik telah begitu cepatnya berubah. Padahal baru setahun aku tak bertemu dengan mereka, tapi perubahannya telah begitu sejauh ini. Kakek masih seperti dulu, tetap merokok dengan segelas kopi hitam di meja. Hanya saja kali ini bukan rokok pabrikan yang dihisapnya, tapi tembakau yang dilintingnya sendiri. Kakek pun masih bertutur dengan cara khasnya. Tenang, tak buru-buru, dan kalimatnya tersusun rapi. Hanya volumenya saja yang terdengar berkurang. Sementara Nenek begitu kentara kehilangan kecergasannya. Nenek tak segesit dulu. Geraknya menjadi lamban, dan langkah kakinya tampak begitu berat. Nenek pun tampak menjadi lebih gemuk dan kurasa, itulah sebabnya mengapa Nenek tak secekatan dulu. Namun, yang terpenting adalah bahwa kakek dan Nenek masihlah dalam keadaan sehat.
Kakek dan Nenek masih ramah kepadaku. Rasanya sikapnya masihlah sama seperti apa yang mereka tampilkan selama dua tahun belakangan. Tak ada yang berubah. Kakek tetap hangat, dan Nenek pun tentulah lebih daripada kakek. Kakek dan Nenek bertanya banyak hal, mulai dari kesehatan, keadaan di rumah, perihal bagaimana sekarang kerjaan, dan tentu bertanya mengenai mengapa aku mendadak bisa berada di kota ini. Kukisahkan pada mereka bahwa betapa setahun belakangan aku seperti tak dapat menikmati hidup di kota baru, selalu saja terpikir untuk kembali, hingga pada akhirnya aku memang kembali setelah seorang teman meyakinkanku untuk kembali ke kota ini. Kakek dan Nenek khusuk mendengarkan, tak sedikit pun menyela apalagi bertanya. Kadang responnya hanya berupa seucap “oh,” atau paling seringnya malah bergumam.
Sebelum aku sempat bertanya, Kakek dan Nenek malah berinisiatif untuk duluan menceritakan keadaannya. Kakek tak begitu banyak mengalami gangguan kesehatan, meski ia mengakui bahwa pandemi yang tak kelar-kelar ini begitu menyiksa pikirannya. Nenek berbeda. Katanya sekarang menjadi semakin gampang untuk kemasukan angin, dan kalau sudah begitu solusinya hanya satu, kerokan. Selain ya, pikiran Nenek pun juga sama tersiksanya oleh pandemi. Segala hal menjadi susah. Gerak susah, ketemu orang sulit, makan pun jadi kegiatan yang tak lagi mudah. Kakek dan Nenek sangat terpukul oleh keadaan sekarang. Bingung mesti bagaimana apalagi berbuat apa. Itulah ternyata sebabnya mengapa sekarang Kakek dan Nenek tampak menjadi begitu ringkih. Begitu berat beban pikiran yang ditanggung oleh Kakek dan Nenek.
Tadi sore aku hampir saja menangis demi mendengar cerita Kakek dan Nenek. Aku begitu sedih, dan merasakan juga bagaimana terpukulnya Kakek dan Nenek. Aku sebenarnya ingin menangis, tapi kutahan kuat-kuat keinginanku itu. Entah demi apa aku menahannya, tapi kupikir tak baik kalau cerita sedih Kakek dan Nenek malah kutangisi. Kupikir justru dalam keadaan sedih, aku sebisa mungkin harus bersikap seakan semuanya akan baik-baik saja dan kembali menjadi sebagaimana sediakala. Tentu butuh tenaga ekstra untuk berpura-pura, apalagi untuk berpura-pura optimis. Namun tetap saja kulakukan, demi Kakek dan Nenek.
Nyaris saja aku lupa. Tadi aku juga bertemu dengan bibimu. Bibi ternyata masih terus bertambah tinggi, tubuhnya berisi, dan tak lama lagi akan mekar sebagai seorang gadis. Bibi tetap saja cantik, kulitnya tetap seputih dulu dan terlihat lebih terawat. Dalam menghadapiku, sekarang Bibi tak secanggung dulu. Ia sudah bisa menguasai diri, dan pandai menempatkan segalanya pada tempatnya. Terlebih, Bibi mulai mengerti bagaimana harus menjalankan perannya. Bibi menjadi cekatan dalam memasak, menyediakan makan dan minum, atau untuk sekadar membikinkanku segelas kopi. Segala hal menjadi rapi dan teratur di tangannya. Tentu saja kusampaikan juga salammu pada Bibi.
Magrib datang, aku pun pulang. Sungguh aku tak sanggup berlama-lama di rumah Kakek dan Nenek. Sebab, begitu banyak kenangan manis bersemayam di sana. Sebelum aku pulang Nenek sempat berpesan, “Sering-seringlah datang, Nak!”
Aku hanya tersenyum padanya, berbalik, menutup kaca helm, dan pergi sembari menangis.
.png)
Komentar
Posting Komentar