Untukmu Minke-ku, Surat-suratku.


Surat Pertama.
Kepada: Jelmaan Minke yang penuh unsur kebudayaan lokal, yang berjiwa tani seperti Annellies dan kepada kamu yang mengidolai Nyai Ontosoroh.

Hei, untuk kali ketiga aku tidak ditelpon Kompas lagi. Tapi entah Allah itu seakan Maha Tau dan dengan rapih Dia atur semuanya, atur untuk hadirkan kamu. Dia Maha Tau untuk hadirkan kamu. Dia hadirkan kamu saat ini, di saat aku kehilangan orang yang pernah menjanjikan masa depan. Dia hadirkan kamu dengan penuh kesederhanaan. Dia hadirkan kamu saat mimpiku belum menjadi aku. Seperti ada kebahagiaan yang ditebus atas keputusasaan. Aku baca buku yang kau baca. Aku selami makna seperti kau juga! Aku tidak akan malu untuk mengakui jika ini cinta. Tapi tolong jangan dekatkan ini dengan dosa, aku tidak ingin kehilangan, tapi jangan ikat aku dengan hubungan yang menjerumuskan. Hubungan yang semu yang sekedar bilang “Hei, aku cinta kamu, aku rindu. Ketemu yu?”

Surat Kedua.
Kepada: Yang sedang lapar.

Hei, apa aku seperti Annellies yang bisa membayang-bayangi Minke ketika jauh terhadapnya? Kadang aku seperti Minke, yang memikirkan sosok yang diimpi-impikan, mengingat-ngingat waktu berdua lalu tersenyum sendiri melihatku secara tiba-tiba. Tapi itu kadang-kadang saja, karena sepenuhnya fikiranku adalah milik Tuhan!

Surat Ketiga.
Kepada: Sosok yang tidak sepenuhnya Minke.

Hei, setiap kalimat yang kubaca dari Bumi Manusia membuat aku mengerti bagaimana manusia, dan bagaimana dirimu sendiri dengan sosok seorang Minke. Kau berbeda darinya, dari sosok Minke yang menyimpan banyak pengharapan dari orang-orang; dari Nyai Ontosoroh yang menginginkan Sinyo yang satu ini untuk jadi anak dan pahlawan untuk anaknya sendiri Annellies, dan Annelliesnya sendiri yang mengharapkan Minke menjadi kekasih hati yang abadi, belum lagi Ayahanda yang menginginkannya menjadi bupati, sosok terpelajar atas moral dan memegang teguh budaya Jawa, sosok Ibunda pula mengharapkan Minke menjadi yang jantan, meminang bunga kecantikan tanpa menurunkan harga seorang Hawa dengan harta. Berlari ke Magda Peters yang terus menginginkan muridnya memerdekakan tulisannya dengan sosok Max Tollenaar. Tidak sampai di situ pengharapan terhadap sosok seorang Minke, seperti yang kau tau. Bagaimana terobsesinya keluarga Herbert De La Croix terhadap Minke, yang menginginkan si junior ini tinggi derajatnya seperti bangsa Eropa. Apa jadinya jika kau diberikan pengharapan yang sama seperti Minke? Sosok yang tak pernah memberi janji dan tak ingin dijanjikan sama sekali, tentu pengharapanmu hanya satu dan tak ingin menambahkannya dulu. Kau hanya ingin bertanggung jawab atas kuliahmu terhadap ayah dan ibu. Sudah pasti harapanmu ingin cepat lulus dan diakui keilmuannya. Tapi apa boleh aku menempatkan satu harapan kepadamu? Satu pengharapan lagi, yang ini pun jatuh kepada sosok seorang Minke. 

Tentunya bukan pengharapan sosok seorang Annelies yang ingin kau jadi kekasih abadi. Melainkan pengharapan seorang Jean Marais terhadap Minke, yang di mana dia mengharapkan Minke untuk menjadi manusia, seutuhnya manusia di bumi manusianya. Maka jadilah kamu manusia seperti apa yang ada di dalam kemanusiaannya, hanya itu pengharapanku.

Surat Keempat.
Kepada: Sosokmu.

Hei, sosok yang tidak bisa diberi banyak pengharapan. Ya yang memang sebenarnya berbeda sekali dengan Minke. Tapi aku lebih suka terhadapmu karena kamu bisa menembangkan budayamu sedang Minke tidak, sedang kamu bisa mengemudikan sepeda motor sedang Minke tidak. Ya pada dasarnya sedang kamu nyata, Minke hanya tokoh fiksi semata. Terimakasih atas saran untuk membaca buku Bumi Manusia yang bisa menyarankan aku untuk tetap memanusiakan manusia, untuk tetap menjadikan diri sepenuhnya manusia dan tidak menjadi sosok yang memiliki sifat hewani. Untuk kamu setiap kataku ini, sosok yang koleris. Yang tidak gemar diperintah, yang lebih memilih diberi pilihan daripada instruksi suruhan, dan semoga setiap kebersamaan kita terlahir dari atas kehendakmu sendiri yang bukan perintah seorang aku.

Surat Kelima.
Kepada: Sosok yang bukan Minke tapi sosok yang selalu aku rasakan keberadaannya dalam setiap kata di buku Bumi Manusia.

Kamar kost, sore hari.

Aku ingin seperti Ibundanya Minke, tutur yang baik dalam berkata, bijak dalam menjawab problema dan bisa untuk menerima beda meski sudah tidak terlalu Jawa. Aku menulis ini di atas kertas yang berlogokan “BWP” Best Western Premier. Hotel mewah yang mencirikan budaya Barat, ya meski ini bukan Eropa tapi keeksklusifitasannya sama. Lalu hampir saja aku seperti mereka, mengadopsi tindak-tanduknya, hampir saja menjadi pelajar yang tidak terpelajar, bisa-bisanya aku untuk mengajakmu check-in di tempat ini. Mengharapkan bisa melewati hari sampai ke pagi, denganmu. Dengan pria kuajak masuk ke kamar yang sama. Naudzubillah yah? Haha.

Sungguh tidak tau malu aku akan itu, untung saja kau tidak mengindahkan keinginan sahaya dan menjadikan sahaya untuk merasa malu. Memang bahwasannya benar kalo Hawa memang penggoda atas dosa. Terima kasih atas penolakan terhadap sahaya.

Surat Keenam.
Kepada: Seorang Pemuda

Hei, aku baru berada di halaman 200. Memang sangat lambat untukku membaca. Namun setidaknya aku sudah melewatkan kisah yang tanpa perlawanan dan memilih kematian. Kisah meninggalnya seorang Annellies yang membuaat duka namun juga dibuat kesal aku atasnya. Bagaimana bisa sosok Nyai Ontosoroh memiliki keturunan dengan mental serapuh itu? Padahal tidak seorang Annellies dididik manja. Dia hanya kurang terbuka, terlalu naif, kurang jauh mainnya. Andai saja dia satu pergaulan dengan sosok seperti Kartini pasti tidak akan seperti ini. Dikubur entah di mana bahkan sampai dianggap tidak ada oleh keluarga, maka biarlah dia menjadi “Bunga Penutup Abad” yang tercantik yang sudah terpetik, yang layu karena terlalu memupuk rindu. Sudahlah biar dia yang menutup atas deritanya. Biar kaum Hawa mendatang tidak hidup karena cinta, tapi hidup untuk menghidupinya. Bagiku tidak akan pernah mencintai lawan jenisnya seperti Annellies mencintai Minke. Cinta hanya perantara dan membuatnya buta. Karena cintalah yang membuat semuanya jadi lebih, lebih bahagia, lebih hidup karenanya. Sehingga membuat kita sulit untuk alakadarnya. Namun pada sejatinya hidup sendiri datang atas kuasa-Nya yang Maha tidak kehabisan cara untuk membuat hambanya bahagia, meski sedang dicinta.

Kembali seperti mengulang sejarah. Memang sudah menjadi adat keturunan Sanikem, untuk menggundikkan anaknya sendiri. Malangnya Surati. Andai saja Sastro Kassier bermimpi sepertimu untuk hidup menjadi seorang tani mungkin Surati tidak akan menafkahi Plikemboh secara birahi.

Begini sejarah atas bangsa? Yang memiliki jabatan bisa mencari pelampiasan dan memiliki peliharaan? Maka tetaplah jaga mimpimu hanya untuk menjadi tani dan memerdekakan bangsamu sendiri. Pilihlah satu bu tani yang menarik dan cerdik, agar bisa menjagamu secara birahi dan tidak terlalu hewani. Kurasanya tidak keren juga jika tani bergundik.

Surat Ketujuh.

Kepada: Sosok yang belum mandi tapi kulitnya selalu terlihat lebih glowy.

Aku membaca bagian di mana Annellies terpuruk sakit. Di bagian ini aku melihat seorang hawa yang kehilangan separuhnya. Rasa kehilangan yang penuh siksa terhadap raga, di mana Minke pun jatuh sakit, akibat kekhawatirannya terhadap ancaman yang membuat fikirannya sempit. Ancaman yang datang karena kenyamanan yang Minke dapatkan dari seorang Nyai dan segala isi huniannya. Kenyamanan yang berubah menjadi ancaman kematian sehingga satu sama lain antara Minke dan Annellies harus sama-sama menjauhkan diri dan menjadi sakit sampai tiada berarti. Karena keduanya pun tak tau sampai di mana kekuatan saling ingin memiliki satu sama lain dan terus bermain entah menunggangi kuda atau pun pergi ke ladang. Asal mereka tetap sama-sama sayang, lalu bagaimana aku dengan kamu? Maksudku, atas hal tentangmu yang belum aku sepenuhnya tau. Yang kau bilang jika aku tau, aku bahkan sampai tak akan kembali rindu dan tak ingin lagi menginginkan temu. Sejahat itukah aku? Atau seburuk itukah kamu?

Surat Kedelapan.
To: ‘Yang’ Side.

“HItam dan Putih yang berdampingan dan saling mengisi di dalam lingkaran keseimbangan”

Ini konsep ‘Yin-Yang’ yang diambil dari ajaran Taoisme. Sudah lama usianya dan selalu relevan untuk ditarik ke setiap zamannya. Kita memang oposisi binner, bukan perkara hitam putih tapi dasarnya kita ini laki-laki dan perempuan.

‘Yin’ sendiri lambang yang hitam yang ada titik putihnya dan ini melambangkan wanita sedang ‘Yang’ sebaliknya. Yang hitam untukku, yang putih untuk melambangkannmu. Bisa pas gitu ya? Haha. Tapi ini bukan persoalan warna kulit, banyak makna di balik itu.

Katanya ‘Yin’ ini dingin dan lemah, seperti wanita, malam, air atau pun angin, yang gampang terbawa dan larut. Sedang ‘Yang’ bersifat panas dan kuat di balik warna putihnya. Ini seperti kamu seorang pria, panas, api dan semua unsur yang kuat.

Minke, ‘Yin-Yang’ menyimbolkan keadilan, berpasangan dan keseimbangan bahkan sampai ke ketidaksempurnaan. Allah adil Minke, dengan memasang-masangkan oposisi biner. Kamu tidak terlalu banyak bicara sedang aku iya. Kamu tidak suka pedas sama sekali sedang aku sangat suka. Kamu sosok yang logis sedang aku begitu perasa. Untuk kesamaan aku denganmu kita hanya sama-sama terlalu menyukai malam.

Kau yang putih aku yang hitam. Jika ini adalah roda kau yang menggerakkan aku yang memberi dorongan, aku mengikuti sama seperti kepatuhan seorang istri nanti. Ada titik putih padaku dan kau punya seluruhnya, dan ada titik hitam padamu dan aku punya seluruhnya, betapa tidak sempurnanya kita atas dunia.

Ada yang bilang ‘Yin-Yang’ ini keseimbangan yang berkelanjutan. Sebuah ilustrasi menjelaskan bahwa pengadilan atas hidup pria saja dan wanita saja. Ini adalah kedua aspek realitas yang sebenarnya berdiri sendiri, saling berlawanan tapi saling mencari keseimbangan. Jika sedang berdiri sendiri pria saja dan wanita saja, ras ini akan punah dalam satu generasi. Namun, pria dan wanita menciptakan generasi baru yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup. Interaksi keduanya dapat melahirkan ide-ide baru. ‘Yin’ dan ‘Yang’ mengubah satu sama lain seperti arus di dalam laut. Setiap yang hidup akan mati, benih akan tumbuh dan kemudian mati.

Apa sebenarnya aku yang menjadi ‘Yin’-mu dan kamu yang menjadi ‘Yang’-ku? Pada dasarnya kita sama-sama ‘Yang’, yang sayang haha. Betapa ditentangnya LGBT di sini maupun di Al Qur’an. Mereka yang menghancurkan keseimbangan dan lalu memusnahkan ras dalam satu generasi. Minke, bawa aku ke dalam lingkaran keseimbanganmu.

Terlepas dari itu semua, aku agak sedikit kecewa atas kita, di malam terakhir kita bertemu, di mana aku merasakan sentuhanmu yang lebih, di mana kita bukan hitam-putih lagi, tapi hitam sepenuhnya. Aku melihat ke arahmu malam itu, kau gelap, matamu berubah, senyummu tak seperti biasanya. Itu bukan kamu yang aku mau, bukan kamu yang seperti biasanya, yang banyak berbicara soal manusia dan kita yang harus memanusiakan manusia. Malam itu bukan kamu yang pernah menceramahiku di saat aku sering ‘menoyor’ kepalamu.

Aku kaum yang sama dengan Ibu juga adik dan tetehmu, lalu mengapa kau beri penghargaan yang berbeda atas aku? Penghormatan yang tidak sama dengan mereka padahal kita sama-sama wanita.
Aku cinta terhadapmu, tapi tidak untuk malam itu.

Surat Kesembilan.
Kepada: Kamu

Dua malam di akhir minggu denganmu.

Aneh rasanya, aku benar-benar tidak bisa memprediksi apa yang selanjutnya antara aku dan kamu nanti. Kamu yang seperti rollercoaster, yang dengan cepat bisa membuat aku naik dan turun, membuat deg-degan seketika, lalu membuat aku tiba-tiba takut yang sampai tidak berani melihat ke lutut.

Entah athmosphere apa yang kau buat di malam minggu, aku rasa itu malam terbaikku denganmu. Kau sangat begitu hangat, memeluk dengan setiap kata yang kau ucap. Kau begitu menggoda dengan setiap sentuhanmu yang terasa sampai ke dada. Padahal hanya tangan yang kau sentuh tapi malah dada yang bergemuruh, lalu kau iringi malamku dengan kata-kata cinta, yang membuat rasanya kita akan terus berdua sampai menjadi tua. Yang seakan-akan aku sudah menjadi yang kau punya tanpa kau pinta, lalu bagaimana untuk tidak membuatku buta? Buta akan kebahagiaan semu yang nantinya hanya terbalut rindu.

Setting berubah, dengan lakon yang istiqomah, tetap dengan aku dan kamu, dengan aku yang terbangun di hari minggu, yang masih membayangkan indahnya malam minggu, dengan kamu yang terus mengulur-ngulur waktu untuk bertemu! Padahal aku sudah tercuri rindu, taukah kamu? Rinduku kini sudah terlalu cepat melesat, jika diibaratkan mungkin sinyal rinduku ini sudah 4G, cepat tersambung dan ingin segera menghubung. Malam senin ternyata tidak menjadi malam yang kuingin, tiba-tiba atmosphere-nya berubah. Dengan kemarin yang kusangka kita akan terus berdua dengan aku yang seakan-akan sudah menjadi yang kau punya, ternyata malam itu kita bukan apa-apa, aku sepenuhnya diriku dan kamu yang sepenuhnya dirimu. Seperti sama sekali tidak ada yang menjadi satu antara aku dan kamu. Kau banyak memberi ancaman untuk pergi dengan aku yang tidak boleh melakukan ini itu. Dengan aku yang masih harus mendengarkan sosok masa lalumu yang masih saja kau bisa bertemu, meski hanya untuk memberitahu bahwa kontrak sudah tidak berlaku. Jika kau ingin tau sudah sampai di mana titik cemburuku? Sudah sampai di mana aku bisa saja tak inginkan kamu lagi. Sudah semaumu saja ingin bagaimana. Aku sudah tidak ingin ada. Dengan sebenarnya bukan aku sosok wanita yang kau ingin, dengan kamu yang masih mengharapkan perhatian dari wanita lain, Sarah mungkin.

Sudahlah, dengan mungkin kamu menganggap aku cemburu, tentu dengan mudah aku bisa menghapusmu. Kejarlah apa yang kamu inginkan bukan yang kamu butuhkan. Karena yang kau butuhkan akan ada tanpa kau pinta, cobalah menjadi butuh karena cinta bukan menjadi cinta karena butuh. Jangan terlalu memaksakan untuk suka terhadapku. Jika memang bukan aku, ya silakan. Karena malam senin yang kemarin, aku sedikit tau bahwa aku bukan sosok yang kau ingin. Dari wujud sampai ke sikap.

Seperti kau tidak bisa berdamai atas aku, tingkah lakuku bahkan sampai ke duniaku. Sekarang ada syarat jika aku lupa lalu kelepasan aku akan kehilangan. Semudah itu? Oke. Baru kemarin aku rasa kita akan terus berdua, lalu besoknya aku rasa kita bukan apa-apa. Yang soal berdua itu hanya cerita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Karang di Tubuh