Seutas Takdir


Satu

Ini memang sudah waktunya. Kalau bersandar pada hitungan kasar memang sudah jelas tak ada waktu yang lebih baik untuk menikahkannya selain tahun ini. Katakanlah ini adalah tradisi keluarga untuk menikahkan anak-anaknya terutama yang perempuan, atau jika enggan menyebutnya begitu maka cukup sebut saja bahwa hal ini sudah sejak lama menjadi kebiasaan keluarga. Saudara-saudarinya dinikahkan, paman-bibinya dinikahkan, sepupu-sepupunya dinikahkan, ponakan-ponakannya dinikahkan, bahkan ibu dan bapaknya pun dulu menikah sebab dijodohkan. Semua pernikahan selalu berhasil, dan bertahan lama, dan melahirkan banyak anak-anak yang dapat meneruskan tongkat estafet keluarga, dan yang terpenting mereka semua terlihat bahagia dengan tidak ada yang pernah mengeluh lalu kemudian bercerai. Semua baik-baik saja, dan akan tetap seperti itu.

            Ibunya dalam seminggu terakhir secara rutin melakukan shalat istiharah dalam upaya untuk meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa perihal apakah benar lelaki yang datang bersama keluarganya ini adalah memang ditakdirkan untuk menjadi suami dari anak perempuannya. Selain untuk meminta petunjuk, upaya tersebut dilakukan dalam rangka pemenuhan atas kewajibannya sebagai seorang ibu yang harus memilih calon suami terbaik bagi seorang anak. Upaya tersebut jarang sekali untuk tidak membuahkan hasil. Di malam ketujuh setelah melaksanakan shalat istiharah, ibunya memimpikan anak perempuannya dipatuk ular, dan mimpi tersebut lazim ditafsirkan sebagai tanda sebuah keberuntungan. Ah memang benar, kalau sudah takdir memang tak ke mana, pikir ibunya.

Setelah mendapat petunjuk melalui mimpi pada malam ketujuh setelah melakukan shalat istiharah, esoknya ibunya langsung menelpon sepupu perempuan dari suaminya untuk mengabarkan kabar gembira tersebut. Karena memang perkenalan ibunya dengan lelaki yang datang bersama keluarganya itu dapat terwujud berkat campur tangan sepupu perempuan dari suaminya itu.
             
           Suatu hari di hari-hari biasa seperti sediakala, sepupu perempuan suaminya tiba-tiba menelpon ibunya dan bertanya apakah anak perempuannya sudah memiliki calon suami atau belum. Enteng saja ibunya menjawab belum, meski pada kenyataannya ibunya tahu belaka kalau anak perempuannya sudah menjalin hubungan dengan seorang pria, temannya saat di Madrasah Aliyah. Ibunya tak harus merasa tidak enak dengan menjawab demikian, dan benar memang anaknya sudah punya kekasih tapi bukan calon suami. Sebab, kadang saat ibunya bertanya pada anak perempuannya mengenai apakah pasangannya itu menunjukkan tanda-tanda serius untuk menikahinya, anaknya selalu menjawab belum tahu karena katanya kekasihnya ingin fokus kuliah dahulu.
        
        Sepupu perempuan dari suaminya itu lalu menjelaskan maksudnya belaka mengapa ia menelpon. Ia menceritakan bahwa ada salah satu teman yang bertanya pada dirinya perihal apakah ia punya kenalan seorang perempuan lajang untuk dijadikan calon istri adik lelakinya. Ia kemudian teringat Risna, “Umurnya sekarang sudah matang. Meski Risna masih kuliah dan masih mengabdi di pondok, tapi apa salahnya untuk bertanya kemudian mengenalkannya pada adik temannya itu?” Dan demikianlah selanjutnya, setelah mendapat jawaban seperti itu dari ibunya Risna, sepupu perempuan tersebut membawa dan lalu mengenalkan lelaki beserta keluarganya pada keluarga Risna.
           
           Kedua keluarga dari kedua belah pihak kemudian bertemu pada suatu siang yang lembab. Perkenalan ini kebanyakan didominasi oleh obrolan para orang tua perihal latar belakang keluarga masing-masing, menanyakan keadaan anak-anak masing-masing, dan tak lupa untuk bermaaf-maafan sebab suasana idul fitri masih terasa. Kue-kue lebaran masih lumayan terisi penuh ditemani oleh botol-botol sirup, cat rumah pun masih terlihat segar. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya secara langsung, keluarga dari pihak lelaki bertanya apa pernikahan ini bisa dilaksanakan sesegara mungkin, demi mengurangi tindakan membuang waktu. Dan setelah ibunya Risna menjelaskan bahwa sebenarnya Risna masih kuliah dan masih mengabdi di pondok, ibunya setuju bahwa memang sebaiknya pernikahan ini harus disegerakan “sebab tidak baik kalau menunda niat baik” ucapnya.

            Kemudian tepat di tiga minggu setelah pertemuan pertama, proses lamaran pun dilaksanakan di rumah Risna. Cincin emas 5 gram diberikan sebagai tanda jadi mengikat, lalu dipasangkan di jari Risna. Tanggal dan bulan pernikahan kemudian langsung disepakati begitu saja. Karena memang pada pertemuan sebelumnya hal itu sudah dipastikan bersama. Semua orang senang, semua orang bahagia, semua orang baik-baik saja, dan semua orang mendoakan supaya pernikahan pada bulan depan lancar tanpa hambatan. Semua orang, kecuali Risna yang masih merasakan gejolak.

        Risna merasakan panas bercampur sesak menghancurkan hatinya. Malam ini, setelah pertunangan tadi, ia tak ke mana-mana kecuali hanya di kamar. Tisu bekas air mata dan ingusnya berserakan tak karuan, ia hanya terbaring lemas kebingungan, tak tahu bagaimana caranya harus menyampaikan kabar pertunangan ini pada kekasihnya. Semalaman ia menangis, mengenang hubungannya dengan lelaki yang sudah menjadi kekasihnya selama tujuh tahun itu.

Masih jelas terbayang di benaknya saat pertama kali lelaki itu mendekatinya, saat pertama kali mereka mengobrol berdua, saat mereka kemudian jadian dan itu adalah peristiwa terbaik sepanjang perjalanan hidupnya. Kemudian saat lulus Aliyah, meski mereka berdua berkuliah di dua kota berbeda yang mengharuskan mereka menjalani hubungan jarak jauh, itu tak pernah mengurangi keromantisan di antara mereka sedikit pun. Kekasihnya dalam sebulan sekali pasti akan selalu meluangkan waktu dan menyempatkan untuk datang ke Jogja menemui Risna, menghabiskan malam di lesehan dekat tugu Jogja sembari menikmati hangatnya wedang ronde, terutama menikmati hangatnya rindu. Sesibuk apa pun, kekasihnya selalu memberi kabar meski hanya sekedar berupa pesan singkat atau telpon singkat. Risna pun demikian, selalu berusaha untuk menjadi kekasih yang baik untuk lelaki yang sangat dicintainya itu. Ia selalu memberi kekasihnya itu perhatian-perhatian kecil yang mungkin bagi kebanyakan pasangan merupakan hal remeh temeh, tapi tidak untuk mereka. Saling berbagi perhatian dalam api cinta dan bara rindu merupakan sesuatu yang teramat berharga untuk dilewatkan, sekecil apa pun itu.

Air matanya kembali bercucuran tak karuan, ingusnya pun juga sama bercucurannya. Risna bingung, dengan cara seperti apa ia harus menyampaikan berita pertunangan ini. Ia ingin menjelaskan dengan sejujur mungkin kalau pertunangan ini bukan kemauan dirinya, ia ingin kekasihnya mengerti bahwa Risna juga berada dalam posisi sulit. Ia ingin bilang kalau dirinya masih mencintai keksihnya, bahwa hanya kekasihnya itulah sebenar-benarnya lelaki yang ia idamkan untuk menemaninya sampai maut menjemput. Ia ingin menyampaikan semuanya secara halus, tanpa membuat kekasihnya merasa buruk, tanpa melukai hatinya. Ia ingin menjelaskan semuanya semasuk akal mungkin, sesederhana mungkin. Ah tapi ia kembali berpikir, penjelasan seperti apa pun akan terasa tetap saja salah bagi seorang lelaki yang hatinya sudah patah. Risna sadar, sebentar lagi ia akan mematahkan hati seorang lelaki, bahkan mungkin menghancurkan hidupnya.

Air mata tak pernah berhenti malam itu, begitu juga ingus.

Dua

            Memang benar Risna masih kuliah, dan benar juga bahwa untuk satu tahun ke depan dirinya masih akan mengabdi di pondok. Ia masih berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri Islam di Yogyakarta, mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Meski perihal kuliah, sebenarnya ia sudah memasuki masa tenang karena sudah terbebas dari semua beban teori yang dibebankan kampus. Pada semester sepuluh ini, ia hanya tinggal mengerjakan skripsi, dan ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kegiatan mengajar di pondok. Empat bulan sebelum lebaran idul fitri Risna merampungkan ujian akhir pondok, dan Alhamdulillah ia lulus. Tak ada kemenangan setelah lulus, sebab dirinya harus mengikuti program pengabdian dalam bentuk mengajar di pondoknya selama satu tahun. Dan begitulah keadaannya saat dirinya ditelpon oleh ibunya mengenai kabar mengejutkan itu.

            Risna sedang rebahan saja di kamar sembari menonton drama korea dari laptop saat ibunya tiba-tiba menelpon siang itu. Ia tentu tak memikirkan hal aneh sebelum mengangkat telpon, apalagi pikiran akan dinikahkan, hanya terbesit “mungkin mau ngasih tau kalau uang sudah ditransfer.” Setelah saling menanyakan kabar sekaligus saling menjawab bahwa keadaan baik-bak saja, benar juga bahwa ia baru saja ditransfer, ibunya menjelaskan ingin menyampaikan sesuatu hal. Lalu nada bicara beralih ke nada serius.

            “Memang mau bilang apa, buk?”

“Begini, jadi dua minggu yang lalu ibu ditelpon Mbak Santi, sepupu perempuan bapakmu. Ia bilang ada lelaki adik teman Mbak Santi sedang nyari calon istri.”

Risna diam tak merespon.

“Terus Mbak Santi nanya ke ibu, apa Risna sudah punya calon atau belum. Kalau belum mau dikenalkan ke kamu katanya. Ya ibu bilang memang belum ada.”

“Kenapa bilang belum, buk?”

“Lha memang belum ada, kan?”

Risna tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Risna tahu kalau dirinya menjawab mesti pada akhirnya ia akan kalah, ia tahu itu. Sebab perdebatan soal lelaki yang sudah menjadi kekasihnya selama tujuh tahun itu bukanlah persoalan baru, terutama perdebatan mengenai apakah benar lelaki tersebut memang serius padanya.

Sudah sejak lama memang, terutama beberapa bulan belakangan ibunya selalu kembali menyinggung menanyakan keseriusan lelaki yang sudah dipacarinya selama tujuh tahun itu. Risna sangat memahami kekhawatiran ibunya. Memang tak baik atau tak akan pernah baik menjalin hubungan selama itu tanpa tujuan yang jelas menuju ke arah pernikahan. Risna selalu bilang pada ibunya kalau ia sangat mencintai lelaki tersebut, lelaki tersebut pun juga sangat mencintai dirinya, dan itu sudah cukup baginya. Namun hal itu jelas tidak cukup meyakinkan ibunya, sebab ibunya selalu bilang kalau memang lelaki yang sudah dipacarinya selama tujuh tahun itu benar-benar serius padanya, lelaki itu harusnya berani melamar demi mengikatnya supaya tidak jatuh ke tangan orang lain sebelum kemudian tentu menikahinya. Ibunya juga selalu menambahkan sekaligus mengingatkan bahwa sekarang dirinya sudah memasuki waktu yang matang untuk menikah, untuk berumah tangga. “Itu pun kalau lelaki itu serius. Buktinya? Sekarang kamu realistis saja, jangan menunggu yang tidak jelas” pesan ibunya selalu.

Perkataan ibunya tersebut sangat masuk akal, bahkan terlalu masuk akal untuk tidak dipikirkan. Bukannya Risna tak pernah bertanya pada kekasihnya perihal pernikahan, tapi setiap kali Risna bertanya mengenai hal tersebut kekasihnya selalu menjawab kalau dirinya belum siap. Kekasihnya selalu bilang kalau dirinya masih butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya. Ia ingin menyiapkan segala sesuatunya sebelum menikahi Risna supaya nantinya pernikahan mereka tidak prematur, tidak layu sebelum tumbuh. Kekasihnya ingin mengasah mentalnya dulu, ia ingin belajar mencari uang dulu, ia ingin menjajal hidup dari uang hasil keringatnya dulu, terlebih ia sangat ingin mandiri secara finansial dulu, dan yang terpenting ia harus menyelesaikan kuliahnya dulu. Kekasihnya pun selalu bilang hidup setelah menikah itu seperti berlayar di tengah samudera. Memang tampak tenang dan indah tapi sekaligus mematikan. Kita tak pernah tahu bencana apa yang mungkin mengintai bahtera rumah tangga, hal terburuk pun tak akan pernah bisa kita bayangkan, katanya. Untuk itu kekasihnya selalu bilang, sebelum menikah ia ingin membekali dirinya dengan perbekalan yang cukup, terutama dengan ilmu yang cukup. “Hanya lelaki goblok yang turun ke medan perang tanpa senjata!” Itu selalu menjadi kalimat penutupnya.

Risna juga sebenarnya sepakat dengan apa yang sering dikatakan kekasihnya itu. Ia juga sangat ngeri membayangkan kalau nantinya ia akan menjadi seorang ibu. Ia kadang sering berpikir apa benar sekarang memang saat yang tepat bagi perempuan seumurnya untuk menikah. Masak saja ia belum bisa, kelakuannya pun masih tolol, masih senang main-main ke mall, nongkrong-nongkrong dengan teman, menghabiskan waktu melalui laku rebahan di kamar sembari menonton drama korea, atau sekadar leyeh-leyeh tak ada ujung sembari menonton youtube.

Kadang ia ragu untuk percaya pada perkataan ibunya bahwa dirinya memang sudah siap untuk menikah. Masalahnya ia malah merasa sebaliknya, merasa belum siap sama sekali. Namun untuk melawan ibunya jelas ia tak punya daya, ia tak punya keberanian. Hanya anak haram jadah keparat kurang pendidikan tak punya otak tak tahu diri yang akan berani melawan seorang ibu, dan Risna jelas bukan seorang anak haram jadah keparat kurang pendidikan tak punya otak tak tahu diri itu. Maka saat ibunya bertanya apakah dirinya bersedia untuk menemui lelaki tersebut, untuk sekadar saling mengenal secara langsung, siapa tahu lelaki tersebut cocok untuknya, dan kebetulan minggu depan lelaki itu akan meluangkan waktunya untuk ke Jogja menemuinya, Risna hanya menjawab “iya buk, nanti aku temui.”

Seminggu setelahnya, setelah persitiwa di telpon itu, Risna resah menunggu di bangku sebuah café. Barang sepuluh menit berselang, lelaki yang dikatakan ibunya pun datang. Ia kaget, sebab ternyata ia tidak datang sendiri. Lelaki tersebut datang bersama dengan kakak perempuannya (beserta anak-anaknya), bapaknya, dan yang membikin ia lebih kaget adalah ternyata Mbak Santi juga hadir di dalam rombongan. Ia cepat-cepat mengatasi kekagetannya dengan memberi seutas senyum dan beberapa pertanyaan basa-basi pada rombongan. Mbak Santi kemudian menjelaskan kenapa lelaki tersebut datang bersama dengan keluarganya, dan tentu menjelaskan kenapa pula dirinya ikut bersama rombongan. Mbak Santi merasa menjadi orang yang punya tanggung jawab untuk menjembatani niat baik ini, sebab dirinyalah orang pertama yang memulai semua ini. Sementara bapak dan kakak perempuan si lelaki ikut dengan alasan ingin melihat dan mengenal Risna secara langsung, dan sekaligus untuk sekadar berlibur menikmati Jogja. Beberapa menit setelah percakapan tak jelas mengenai apa, Mbak Santi, kakak perempuan lelaki itu dan bapaknya pamit undur diri untuk meninggalkan mereka berdua.

Keadaan lalu menjadi canggung, menyisakan hanya Risna dengan lelaki itu. Perlahan Risna mengamati lelaki di depannya ini. Kelihatannya ia lelaki baik-baik, tak banyak tingkah, tak banyak omong, bahkan terkesan pemalu. Lelaki yang kemudian mengenalkan dirinya ini sebagai Lukman juga tak jelek-jelek amat, lumayan ganteng malahan. Kulitnya sawo matang khas anak daerah pesisir, ia punya wajah teduh (mungkin ia sering tahajud?), dan pembawaannya lumayan dewasa. Lukman kemudian mengenalkan dirinya lebih dalam, dan Risna pun demikian. Dinding es pembatas yang membuat mereka beku perlahan mencair, rasa canggung berkurang, dan obrolan kemudian didominasi oleh candaan yang dipaksakan Lukman. Tapi tak apa, setidaknya Lukman sudah berusaha mencairkan dinding es pembatas itu. Lukman juga beberapa kali dengan tidak melebih-lebihkan memuji kecantikan Risna. Ternyata kamu memang cantik ucapnya, sama persis seperti foto yang dikirim ibunya Risna padanya. Percakapan mereka pun hanya setengah jam lamanya, dengan alasan ingin menyusul bapak dan kakaknya Lukman kemudian pamit, sebelum meninggalkan Risna ia berkata “aku memang lelaki beruntung.”

“Ya, kau memang lelaki beruntung!” ucap Risna dalam hati.

Maka setelah melewati pertemuan tersebut, pada malam harinya Risna kembali ditelpon ibunya. Pembicaraan itu tak sehangat seperti biasanya, isinya hanya pemberitahuan bahwa lelaki yang ditemuinya tadi sore menelpon ibunya dan menyatakan kesediaannya untuk menikahi Risna. Ibunya memberi tahu kalau lelaki yang bernama Lukman tersebut memang ditakdirkan untuk menjadi suaminya, lelaki itulah jodohnya, ibunya sudah melihatnya dalam mimpi. Lantas, esok hari Risna harus pulang, sebab pertunangan akan segera dilaksanakan minggu depan.

Tiga

            Sesudah pertemuan siang tadi dengan Risna, sekarang Zaki hanya duduk di kamar kost temannya, membayangkan persitiwa tragis yang baru saja menimpanya.

            Ia tak pernah menyangka dirinya akan mengalami peristiwa cinta setragis ini, meski sebenarnya klise. Sebab, perkara perempuan meninggalkan seorang lelaki dan menikah dengan lelaki lain adalah hal lumrah yang sering ia dengar, bahkan beberapa teman mengalaminya. Meski sering terjadi, hal itu ternyata bukan perkara biasa yang dapat dianggap angin lalu, terlebih jika ia merasakannya langsung. Sekarang Zaki merasakan seperti apa rasanya diputuskan secara tiba-tiba, bagaimana mimpi-mimpinya dihancurkan, dan merasakan bagaimana rasanya ditinggal kawin oleh perempuan yang begitu dicintainya. Ia kalah, ia merasa seperti seorang pecundang.

            Ingatannya kemudian kembali pada siang tadi, terutama pada saat Risna menyampaikan sekaligus menjelaskan perihal pertunangan tersebut. Risna memulai menjelaskan bagaimana pertunangan itu dapat terjadi. Risna bilang, awalnya ia tak tahu menahu soal bahwa dirinya akan ditunangkan oleh orang tuanya dengan seorang lelaki, bahkan ia baru mendapat kabar bahwa dirinya akan ditunangkan dua minggu sebelum pertunangan. Semua serba mendadak, tiba-tiba saja Mbak Santi (sepupu perempuan bapaknya) menelpon ibunya untuk menanyakan apakah Risna sudah punya calon atau belum yang kemudian dijawab belum dengan serta merta oleh ibunya.

Setelah Mbak Santi mengantongi jawaban, lantas ia memberi tahu keluarga temannya kalau keponakannya itu memang belum memiliki calon, dan kalau memang lelaki tersebut (yang kemudian kita kenal sebagai Lukman) berniat serius untuk menikahinya, pintu akan selalu terbuka. Maka bergegaslah keluarga lelaki tersebut tanpa membuang waktu menemui keluarga Risna, menyampaikan maksud dan tujuan kedatangaannya. Orang tuanya pun setuju, dan menjelaskan sedikit tentang Risna pada keluarga lelaki tersebut. Bahwa sebenarnya Risna masih kuliah, dan masih harus mengabdi mengajar di pondok selama satu tahun. Kemudian keluarga lelaki tersebut menanggapinya, bahwa tidak mengapa jika Risna masih kuliah dan masih harus mengabdi di pondok. Keluarga lelaki tersebut tak keberatan, dan setuju bahwa Risna memang harus menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu. Namun semua itu bisa diselesaikan setelah Risna menikah, yang penting halal dulu, supaya tak ada kebaikan yang tertunda.

            Risna bilang kemudian ibunya sepakat dan setuju dengan apa yang disampaikan oleh keluarga lelaki tersebut. Ibunya kemudian menyarankan agar lelaki tersebut berkenalan dengan Risna, dan kalau bisa menemuinya secara langsung. Jangan sampai kejadian seperti membeli kucing dalam karung terjadi. Lelaki tersebut kemudian mengiyakan dan berjanji bahwa dalam waktu secepatnya dirinya akan berangkat ke Jogja untuk menemui Risna. Begitulah keadaan Risna saat bertunangan dengan lelaki tersebut, ia bertunangan dalam keadaan buta. Ia tak tahu apa-apa mengenai lelaki tersebut. Ia tak tahu bagaimana sifat aslinya, ia tak tahu apakah lelaki itu sesabar Zaki atau tidak, ia tak tahu apakah lelaki itu seperhatian Zaki atau tidak, ia tak tahu apakah lelaki itu bisa menerima kekurangannya seperti Zaki atau tidak, ia tak tahu apa pun mengenai lelaki itu, tak secuil pun.

         Bagi Risna pertunangan ini awalnya sangat berat. Ia harus memulai semuanya dari awal, memulai mengenal seseorang yang baru. Memulai belajar kembali mengerti, kembali memahami, kembali belajar bersabar menghadapi seorang lelaki. Terlebih memulai mencoba menerima segala kekurangan Lukman. Namun setelah dijalani, meski baru dalam waktu singkat, ia mulai bisa menerima semuanya. Ia mulai berpikir realistis mengikuti saran dari ibunya. Mencoba melepaskan segalanya, dan menerima semua hal baru yang datang padanya. Ia belajar menerima Lukman, dan mencintainya. Barangkali pertunangan ini memang sudah takdirnya.

“Jadi kau tak berusaha untuk menolak semua ini?” sela Zaki.

            Demi mendengar pertanyaan itu, Risna tak dapat menahan tangisnya. Zaki pun kemudian merasa kasihan melihat kekasihnya seperti ini. Namun lalu Zaki berpikir, kalau memang Risna merasa sedih karena terpaksa, harusnya ia bilang, jangan diam saja. Ia harusnya memberi perlawanan pada orang tuanya, ia harusnya berani beradu argumen dengan orang tuanya, ia harusnya marah saat orang tuanya memperlakukan dirinya seenaknya seperti itu. Akan seperti apa jadinya sebuah pernikahan tanpa cinta, pikir Zaki. Semua itu hanya akan membuat Risna tersiksa, ia mungkin bisa menikah, tapi ia tak akan pernah bahagia. Ia tak akan mendapatkan kebahagiaan, sebab kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan cinta. Tak ada kebahagiaan tanpa cinta.
 
            Zaki masih tak habis pikir kenapa bisa-bisanya Risna tidak melawan. Bayangkan saja, apa kau mau hidup berbagi ranjang sampai mati dengan lelaki yang tak pernah benar-benar kau cintai, tanya Zaki. Kenapa kau tidak melawan, dan bilang kalau kau tak mau menikah dengan lelaki asal-asalan itu karena kau sudah punya kekasih, yaitu aku. Mungkin kau segan dan tak akan pernah mau untuk membantah orang tuamu. Tapi kau harus ingat, yang hidup menjalani semuanya sampai mati itu adalah kamu Risna, bukan orang tuamu. Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa menerima semua ini. Meski kau tadi bilang kalau semua ini sudah takdir, aku tak percaya. Takdir bajingan! Jangan kau bersembunyi di balik takdir. Takdir itu tak akan terjadi kalau kau berani untuk menolak, berani untuk memperjuangkan hidupmu sendiri.

          Selama tujuh tahun aku menemanimu, menjadi kekasihmu. Apa semua sebegitu tidak berartinya untukmu Risna, kekasihku? Kenapa kau tak menolak lelaki keparat itu? Kenapa kau malah memilihnya, bukannya aku? Bukannya kau tak tahu apa-apa mengenai lelaki itu? Kenapa kau memilhnya, bukannya aku? Apa karena aku belum lulus kuliah, hah? Atau karena apa? Bilang padaku kenapa?!

         Mata Zaki kembali basah demi mengingat peristiwa siang tadi. Ia masih tak dapat membayangkan bahwa bulan depan Risna akan menikah dengan lelaki lain, dan bersetubuh dengan lelaki keparat itu. Ingatan itu terus menerus menggarami luka di hatinya. Ia hanya menangis, menangis, dan menangis. Kepalanya berat, ia benar-benar masih tak percaya hal ini terjadi padanya. Ia masih tak percaya dirinya ditinggalkan begitu saja oleh kekasihnya. Ia masih tak percaya bahwa Risna–kekasih yang sangat dicintainya itu–sekarang sudah bertunangan dengan lelaki keparat yang bahkan tak pernah melakukan apa pun apalagi berkorban untuk mendapatkannya. Dasar lelaki keparat! Lelaki keparat beruntung. Asu!

            Kemudian Zaki merenungi segala sesuatunya, bahwa segala macam hal yang manusia angankan akan selalu berdasar pada keyakinan bahwa manusia bisa mewujudkannya. Hal semacam itu tak akan pula nampak indah jika manusia tak pernah mempercayainya. Sehingga akibatnya, banyak hal yang harus dipercayai oleh manusia di dunia ini. Jika tidak, manusia tersebut tak akan pernah bisa meraih apapun, apa pun! Hanya saja, terkadang bagi sebagian orang dan termasuk bagi dirinya, kepercayaan terhadap sesuatu terkadang malah menjadi senjata makan tuan yang tajam sekaligus mematikan. Seiring dengan semakin kuatnya seorang manusia meyakini sesuatu hal, maka sekuat itu pula keyakinan tadi akan membunuhnya.

Zaki sudah merasakannya. Zaki sudah mati. Zaki dengan anggun dibunuh oleh takdir yang menjelma mewujud Risna. Takdir keparat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah