Seutas Takdir
Satu
Ini memang
sudah waktunya. Kalau bersandar pada hitungan kasar memang sudah jelas tak ada
waktu yang lebih baik untuk menikahkannya selain tahun ini. Katakanlah ini
adalah tradisi keluarga untuk menikahkan anak-anaknya terutama yang perempuan,
atau jika enggan menyebutnya begitu maka cukup sebut saja bahwa hal ini sudah
sejak lama menjadi kebiasaan keluarga. Saudara-saudarinya dinikahkan,
paman-bibinya dinikahkan, sepupu-sepupunya dinikahkan, ponakan-ponakannya
dinikahkan, bahkan ibu dan bapaknya pun dulu menikah sebab dijodohkan. Semua
pernikahan selalu berhasil, dan bertahan lama, dan melahirkan banyak anak-anak yang
dapat meneruskan tongkat estafet keluarga, dan yang terpenting mereka semua
terlihat bahagia dengan tidak ada yang pernah mengeluh lalu kemudian bercerai.
Semua baik-baik saja, dan akan tetap seperti itu.
Ibunya dalam seminggu terakhir secara
rutin melakukan shalat istiharah dalam upaya untuk meminta petunjuk pada Yang
Maha Kuasa perihal apakah benar lelaki yang datang bersama keluarganya ini
adalah memang ditakdirkan untuk menjadi suami dari anak perempuannya. Selain untuk
meminta petunjuk, upaya tersebut dilakukan dalam rangka pemenuhan atas
kewajibannya sebagai seorang ibu yang harus memilih calon suami terbaik bagi seorang
anak. Upaya tersebut jarang sekali untuk tidak membuahkan hasil. Di malam ketujuh
setelah melaksanakan shalat istiharah, ibunya memimpikan anak perempuannya
dipatuk ular, dan mimpi tersebut lazim ditafsirkan sebagai tanda sebuah keberuntungan. Ah memang benar, kalau sudah takdir memang tak ke mana, pikir ibunya.
Setelah
mendapat petunjuk melalui mimpi pada malam ketujuh setelah melakukan shalat istiharah,
esoknya ibunya langsung menelpon sepupu perempuan dari suaminya untuk
mengabarkan kabar gembira tersebut. Karena memang perkenalan ibunya dengan
lelaki yang datang bersama keluarganya itu dapat terwujud berkat campur tangan
sepupu perempuan dari suaminya itu.
Suatu hari di hari-hari biasa
seperti sediakala, sepupu perempuan suaminya tiba-tiba menelpon ibunya dan
bertanya apakah anak perempuannya sudah memiliki calon suami atau belum. Enteng
saja ibunya menjawab belum, meski pada kenyataannya ibunya tahu belaka kalau
anak perempuannya sudah menjalin hubungan dengan seorang pria, temannya saat di
Madrasah Aliyah. Ibunya tak harus merasa tidak enak dengan menjawab demikian,
dan benar memang anaknya sudah punya kekasih tapi bukan calon suami. Sebab, kadang
saat ibunya bertanya pada anak perempuannya mengenai apakah pasangannya itu
menunjukkan tanda-tanda serius untuk menikahinya, anaknya selalu menjawab belum
tahu karena katanya kekasihnya ingin fokus kuliah dahulu.
Sepupu perempuan dari suaminya itu lalu
menjelaskan maksudnya belaka mengapa ia menelpon. Ia menceritakan bahwa ada
salah satu teman yang bertanya pada dirinya perihal apakah ia punya kenalan
seorang perempuan lajang untuk dijadikan calon istri adik lelakinya. Ia kemudian
teringat Risna, “Umurnya sekarang sudah matang. Meski Risna masih kuliah dan
masih mengabdi di pondok, tapi apa salahnya untuk bertanya kemudian
mengenalkannya pada adik temannya itu?” Dan demikianlah selanjutnya, setelah
mendapat jawaban seperti itu dari ibunya Risna, sepupu perempuan tersebut
membawa dan lalu mengenalkan lelaki beserta keluarganya pada keluarga Risna.
Kedua keluarga dari kedua belah
pihak kemudian bertemu pada suatu siang yang lembab. Perkenalan ini kebanyakan
didominasi oleh obrolan para orang tua perihal latar belakang keluarga
masing-masing, menanyakan keadaan anak-anak masing-masing, dan tak lupa untuk
bermaaf-maafan sebab suasana idul fitri masih terasa. Kue-kue lebaran masih
lumayan terisi penuh ditemani oleh botol-botol sirup, cat rumah pun masih
terlihat segar. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya secara langsung,
keluarga dari pihak lelaki bertanya apa pernikahan ini bisa dilaksanakan
sesegara mungkin, demi mengurangi tindakan membuang waktu. Dan setelah ibunya
Risna menjelaskan bahwa sebenarnya Risna masih kuliah dan masih mengabdi di
pondok, ibunya setuju bahwa memang sebaiknya pernikahan ini harus disegerakan
“sebab tidak baik kalau menunda niat baik” ucapnya.
Kemudian tepat di tiga minggu
setelah pertemuan pertama, proses lamaran pun dilaksanakan di rumah Risna.
Cincin emas 5 gram diberikan sebagai tanda jadi mengikat, lalu dipasangkan di
jari Risna. Tanggal dan bulan pernikahan kemudian langsung disepakati begitu
saja. Karena memang pada pertemuan sebelumnya hal itu sudah dipastikan bersama.
Semua orang senang, semua orang bahagia, semua orang baik-baik saja, dan semua
orang mendoakan supaya pernikahan pada bulan depan lancar tanpa hambatan. Semua
orang, kecuali Risna yang masih merasakan gejolak.
Risna merasakan panas bercampur
sesak menghancurkan hatinya. Malam ini, setelah pertunangan tadi, ia tak ke
mana-mana kecuali hanya di kamar. Tisu bekas air mata dan ingusnya berserakan
tak karuan, ia hanya terbaring lemas kebingungan, tak tahu bagaimana caranya
harus menyampaikan kabar pertunangan ini pada kekasihnya. Semalaman ia
menangis, mengenang hubungannya dengan lelaki yang sudah menjadi kekasihnya
selama tujuh tahun itu.
Masih jelas
terbayang di benaknya saat pertama kali lelaki itu mendekatinya, saat pertama
kali mereka mengobrol berdua, saat mereka kemudian jadian dan itu adalah
peristiwa terbaik sepanjang perjalanan hidupnya. Kemudian saat lulus Aliyah,
meski mereka berdua berkuliah di dua kota berbeda yang mengharuskan mereka
menjalani hubungan jarak jauh, itu tak pernah mengurangi keromantisan di antara
mereka sedikit pun. Kekasihnya dalam sebulan sekali pasti akan selalu
meluangkan waktu dan menyempatkan untuk datang ke Jogja menemui Risna,
menghabiskan malam di lesehan dekat tugu Jogja sembari menikmati hangatnya
wedang ronde, terutama menikmati hangatnya rindu. Sesibuk apa pun, kekasihnya
selalu memberi kabar meski hanya sekedar berupa pesan singkat atau telpon
singkat. Risna pun demikian, selalu berusaha untuk menjadi kekasih yang baik
untuk lelaki yang sangat dicintainya itu. Ia selalu memberi kekasihnya itu
perhatian-perhatian kecil yang mungkin bagi kebanyakan pasangan merupakan hal
remeh temeh, tapi tidak untuk mereka. Saling berbagi perhatian dalam api cinta
dan bara rindu merupakan sesuatu yang teramat berharga untuk dilewatkan,
sekecil apa pun itu.
Air matanya
kembali bercucuran tak karuan, ingusnya pun juga sama bercucurannya. Risna
bingung, dengan cara seperti apa ia harus menyampaikan berita pertunangan ini. Ia
ingin menjelaskan dengan sejujur mungkin kalau pertunangan ini bukan kemauan
dirinya, ia ingin kekasihnya mengerti bahwa Risna juga berada dalam posisi
sulit. Ia ingin bilang kalau dirinya masih mencintai keksihnya, bahwa hanya
kekasihnya itulah sebenar-benarnya lelaki yang ia idamkan untuk menemaninya
sampai maut menjemput. Ia ingin menyampaikan semuanya secara halus, tanpa
membuat kekasihnya merasa buruk, tanpa melukai hatinya. Ia ingin menjelaskan
semuanya semasuk akal mungkin, sesederhana mungkin. Ah tapi ia kembali
berpikir, penjelasan seperti apa pun akan terasa tetap saja salah bagi seorang
lelaki yang hatinya sudah patah. Risna sadar, sebentar lagi ia akan mematahkan
hati seorang lelaki, bahkan mungkin menghancurkan hidupnya.
Air mata
tak pernah berhenti malam itu, begitu juga ingus.
Dua
Memang benar Risna masih kuliah, dan
benar juga bahwa untuk satu tahun ke depan dirinya masih akan mengabdi di
pondok. Ia masih berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri Islam di
Yogyakarta, mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Meski perihal kuliah,
sebenarnya ia sudah memasuki masa tenang karena sudah terbebas dari semua beban
teori yang dibebankan kampus. Pada semester sepuluh ini, ia hanya tinggal
mengerjakan skripsi, dan ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kegiatan
mengajar di pondok. Empat bulan sebelum lebaran idul fitri Risna merampungkan
ujian akhir pondok, dan Alhamdulillah ia lulus. Tak ada kemenangan setelah
lulus, sebab dirinya harus mengikuti program pengabdian dalam bentuk mengajar di
pondoknya selama satu tahun. Dan begitulah keadaannya saat dirinya ditelpon
oleh ibunya mengenai kabar mengejutkan itu.
Risna sedang rebahan saja di kamar
sembari menonton drama korea dari laptop saat ibunya tiba-tiba menelpon siang
itu. Ia tentu tak memikirkan hal aneh sebelum mengangkat telpon, apalagi
pikiran akan dinikahkan, hanya terbesit “mungkin mau ngasih tau kalau uang
sudah ditransfer.” Setelah saling menanyakan kabar sekaligus saling menjawab
bahwa keadaan baik-bak saja, benar juga bahwa ia baru saja ditransfer, ibunya
menjelaskan ingin menyampaikan sesuatu hal. Lalu nada bicara beralih ke nada
serius.
“Memang mau bilang apa, buk?”
“Begini,
jadi dua minggu yang lalu ibu ditelpon Mbak Santi, sepupu perempuan bapakmu. Ia
bilang ada lelaki adik teman Mbak Santi sedang nyari calon istri.”
Risna diam
tak merespon.
“Terus Mbak
Santi nanya ke ibu, apa Risna sudah punya calon atau belum. Kalau belum mau
dikenalkan ke kamu katanya. Ya ibu bilang memang belum ada.”
“Kenapa
bilang belum, buk?”
“Lha memang
belum ada, kan?”
Risna tak
bisa menjawab pertanyaan tersebut. Risna tahu kalau dirinya menjawab mesti pada
akhirnya ia akan kalah, ia tahu itu. Sebab perdebatan soal lelaki yang sudah
menjadi kekasihnya selama tujuh tahun itu bukanlah persoalan baru, terutama
perdebatan mengenai apakah benar lelaki tersebut memang serius padanya.
Sudah sejak
lama memang, terutama beberapa bulan belakangan ibunya selalu kembali
menyinggung menanyakan keseriusan lelaki yang sudah dipacarinya selama tujuh
tahun itu. Risna sangat memahami kekhawatiran ibunya. Memang tak baik atau tak
akan pernah baik menjalin hubungan selama itu tanpa tujuan yang jelas menuju ke
arah pernikahan. Risna selalu bilang pada ibunya kalau ia sangat mencintai
lelaki tersebut, lelaki tersebut pun juga sangat mencintai dirinya, dan itu
sudah cukup baginya. Namun hal itu jelas tidak cukup meyakinkan ibunya, sebab
ibunya selalu bilang kalau memang lelaki yang sudah dipacarinya selama tujuh
tahun itu benar-benar serius padanya, lelaki itu harusnya berani melamar demi
mengikatnya supaya tidak jatuh ke tangan orang lain sebelum kemudian tentu
menikahinya. Ibunya juga selalu menambahkan sekaligus mengingatkan bahwa
sekarang dirinya sudah memasuki waktu yang matang untuk menikah, untuk berumah
tangga. “Itu pun kalau lelaki itu serius. Buktinya? Sekarang kamu realistis
saja, jangan menunggu yang tidak jelas” pesan ibunya selalu.
Perkataan
ibunya tersebut sangat masuk akal, bahkan terlalu masuk akal untuk tidak
dipikirkan. Bukannya Risna tak pernah bertanya pada kekasihnya perihal
pernikahan, tapi setiap kali Risna bertanya mengenai hal tersebut kekasihnya
selalu menjawab kalau dirinya belum siap. Kekasihnya selalu bilang kalau
dirinya masih butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya. Ia ingin menyiapkan
segala sesuatunya sebelum menikahi Risna supaya nantinya pernikahan mereka
tidak prematur, tidak layu sebelum tumbuh. Kekasihnya ingin mengasah mentalnya
dulu, ia ingin belajar mencari uang dulu, ia ingin menjajal hidup dari uang
hasil keringatnya dulu, terlebih ia sangat ingin mandiri secara finansial dulu,
dan yang terpenting ia harus menyelesaikan kuliahnya dulu. Kekasihnya pun
selalu bilang hidup setelah menikah itu seperti berlayar di tengah samudera.
Memang tampak tenang dan indah tapi sekaligus mematikan. Kita tak pernah tahu
bencana apa yang mungkin mengintai bahtera rumah tangga, hal terburuk pun tak
akan pernah bisa kita bayangkan, katanya. Untuk itu kekasihnya selalu bilang,
sebelum menikah ia ingin membekali dirinya dengan perbekalan yang cukup,
terutama dengan ilmu yang cukup. “Hanya lelaki goblok yang turun ke medan
perang tanpa senjata!” Itu selalu menjadi kalimat penutupnya.
Risna juga
sebenarnya sepakat dengan apa yang sering dikatakan kekasihnya itu. Ia juga
sangat ngeri membayangkan kalau nantinya ia akan menjadi seorang ibu. Ia kadang
sering berpikir apa benar sekarang memang saat yang tepat bagi perempuan
seumurnya untuk menikah. Masak saja ia belum bisa, kelakuannya pun masih tolol,
masih senang main-main ke mall,
nongkrong-nongkrong dengan teman, menghabiskan waktu melalui laku rebahan di
kamar sembari menonton drama korea, atau sekadar leyeh-leyeh tak ada ujung
sembari menonton youtube.
Kadang ia
ragu untuk percaya pada perkataan ibunya bahwa dirinya memang sudah siap untuk
menikah. Masalahnya ia malah merasa sebaliknya, merasa belum siap sama sekali.
Namun untuk melawan ibunya jelas ia tak punya daya, ia tak punya keberanian. Hanya
anak haram jadah keparat kurang pendidikan tak punya otak tak tahu diri yang akan
berani melawan seorang ibu, dan Risna jelas bukan seorang anak haram jadah
keparat kurang pendidikan tak punya otak tak tahu diri itu. Maka saat ibunya
bertanya apakah dirinya bersedia untuk menemui lelaki tersebut, untuk sekadar
saling mengenal secara langsung, siapa tahu lelaki tersebut cocok untuknya, dan
kebetulan minggu depan lelaki itu akan meluangkan waktunya untuk ke Jogja
menemuinya, Risna hanya menjawab “iya buk, nanti aku temui.”
Seminggu
setelahnya, setelah persitiwa di telpon itu, Risna resah menunggu di bangku
sebuah café. Barang sepuluh menit berselang, lelaki yang dikatakan ibunya pun
datang. Ia kaget, sebab ternyata ia tidak datang sendiri. Lelaki tersebut
datang bersama dengan kakak perempuannya (beserta anak-anaknya), bapaknya, dan
yang membikin ia lebih kaget adalah ternyata Mbak Santi juga hadir di dalam
rombongan. Ia cepat-cepat mengatasi kekagetannya dengan memberi seutas senyum
dan beberapa pertanyaan basa-basi pada rombongan. Mbak Santi kemudian
menjelaskan kenapa lelaki tersebut datang bersama dengan keluarganya, dan tentu
menjelaskan kenapa pula dirinya ikut bersama rombongan. Mbak Santi merasa
menjadi orang yang punya tanggung jawab untuk menjembatani niat baik ini, sebab
dirinyalah orang pertama yang memulai semua ini. Sementara bapak dan kakak
perempuan si lelaki ikut dengan alasan ingin melihat dan mengenal Risna secara
langsung, dan sekaligus untuk sekadar berlibur menikmati Jogja. Beberapa menit
setelah percakapan tak jelas mengenai apa, Mbak Santi, kakak perempuan lelaki
itu dan bapaknya pamit undur diri untuk meninggalkan mereka berdua.
Keadaan lalu
menjadi canggung, menyisakan hanya Risna dengan lelaki itu. Perlahan Risna
mengamati lelaki di depannya ini. Kelihatannya ia lelaki baik-baik, tak banyak
tingkah, tak banyak omong, bahkan terkesan pemalu. Lelaki yang kemudian
mengenalkan dirinya ini sebagai Lukman juga tak jelek-jelek amat, lumayan
ganteng malahan. Kulitnya sawo matang khas anak daerah pesisir, ia punya wajah
teduh (mungkin ia sering tahajud?), dan pembawaannya lumayan dewasa. Lukman
kemudian mengenalkan dirinya lebih dalam, dan Risna pun demikian. Dinding es
pembatas yang membuat mereka beku perlahan mencair, rasa canggung berkurang,
dan obrolan kemudian didominasi oleh candaan yang dipaksakan Lukman. Tapi tak
apa, setidaknya Lukman sudah berusaha mencairkan dinding es pembatas itu. Lukman
juga beberapa kali dengan tidak melebih-lebihkan memuji kecantikan Risna.
Ternyata kamu memang cantik ucapnya, sama persis seperti foto yang dikirim
ibunya Risna padanya. Percakapan mereka pun hanya setengah jam lamanya, dengan
alasan ingin menyusul bapak dan kakaknya Lukman kemudian pamit, sebelum meninggalkan
Risna ia berkata “aku memang lelaki beruntung.”
“Ya, kau
memang lelaki beruntung!” ucap Risna dalam hati.
Maka
setelah melewati pertemuan tersebut, pada malam harinya Risna kembali ditelpon
ibunya. Pembicaraan itu tak sehangat seperti biasanya, isinya hanya
pemberitahuan bahwa lelaki yang ditemuinya tadi sore menelpon ibunya dan
menyatakan kesediaannya untuk menikahi Risna. Ibunya memberi tahu kalau lelaki
yang bernama Lukman tersebut memang ditakdirkan untuk menjadi suaminya, lelaki
itulah jodohnya, ibunya sudah melihatnya dalam mimpi. Lantas, esok hari Risna
harus pulang, sebab pertunangan akan segera dilaksanakan minggu depan.
Tiga
Sesudah pertemuan siang tadi dengan
Risna, sekarang Zaki hanya duduk di kamar kost temannya, membayangkan persitiwa
tragis yang baru saja menimpanya.
Ia tak pernah menyangka dirinya akan
mengalami peristiwa cinta setragis ini, meski sebenarnya klise. Sebab, perkara
perempuan meninggalkan seorang lelaki dan menikah dengan lelaki lain adalah hal
lumrah yang sering ia dengar, bahkan beberapa teman mengalaminya. Meski sering
terjadi, hal itu ternyata bukan perkara biasa yang dapat dianggap angin lalu,
terlebih jika ia merasakannya langsung. Sekarang Zaki merasakan seperti apa
rasanya diputuskan secara tiba-tiba, bagaimana mimpi-mimpinya dihancurkan, dan
merasakan bagaimana rasanya ditinggal kawin oleh perempuan yang begitu dicintainya.
Ia kalah, ia merasa seperti seorang pecundang.
Ingatannya kemudian kembali pada siang
tadi, terutama pada saat Risna menyampaikan sekaligus menjelaskan perihal
pertunangan tersebut. Risna memulai menjelaskan bagaimana pertunangan itu dapat
terjadi. Risna bilang, awalnya ia tak tahu menahu soal bahwa dirinya akan ditunangkan
oleh orang tuanya dengan seorang lelaki, bahkan ia baru mendapat kabar bahwa
dirinya akan ditunangkan dua minggu sebelum pertunangan. Semua serba mendadak,
tiba-tiba saja Mbak Santi (sepupu perempuan bapaknya) menelpon ibunya untuk
menanyakan apakah Risna sudah punya calon atau belum yang kemudian dijawab
belum dengan serta merta oleh ibunya.
Setelah Mbak
Santi mengantongi jawaban, lantas ia memberi tahu keluarga temannya kalau
keponakannya itu memang belum memiliki calon, dan kalau memang lelaki tersebut
(yang kemudian kita kenal sebagai Lukman) berniat serius untuk menikahinya,
pintu akan selalu terbuka. Maka bergegaslah keluarga lelaki tersebut tanpa
membuang waktu menemui keluarga Risna, menyampaikan maksud dan tujuan
kedatangaannya. Orang tuanya pun setuju, dan menjelaskan sedikit tentang Risna
pada keluarga lelaki tersebut. Bahwa sebenarnya Risna masih kuliah, dan masih
harus mengabdi mengajar di pondok selama satu tahun. Kemudian keluarga lelaki
tersebut menanggapinya, bahwa tidak mengapa jika Risna masih kuliah dan masih
harus mengabdi di pondok. Keluarga lelaki tersebut tak keberatan, dan setuju
bahwa Risna memang harus menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu. Namun
semua itu bisa diselesaikan setelah Risna menikah, yang penting halal dulu,
supaya tak ada kebaikan yang tertunda.
Risna bilang kemudian ibunya sepakat
dan setuju dengan apa yang disampaikan oleh keluarga lelaki tersebut. Ibunya
kemudian menyarankan agar lelaki tersebut berkenalan dengan Risna, dan kalau
bisa menemuinya secara langsung. Jangan sampai kejadian seperti membeli kucing
dalam karung terjadi. Lelaki tersebut kemudian mengiyakan dan berjanji bahwa
dalam waktu secepatnya dirinya akan berangkat ke Jogja untuk menemui Risna.
Begitulah keadaan Risna saat bertunangan dengan lelaki tersebut, ia bertunangan
dalam keadaan buta. Ia tak tahu apa-apa mengenai lelaki tersebut. Ia tak tahu
bagaimana sifat aslinya, ia tak tahu apakah lelaki itu sesabar Zaki atau tidak,
ia tak tahu apakah lelaki itu seperhatian Zaki atau tidak, ia tak tahu apakah
lelaki itu bisa menerima kekurangannya seperti Zaki atau tidak, ia tak tahu apa
pun mengenai lelaki itu, tak secuil pun.
Bagi Risna pertunangan ini awalnya
sangat berat. Ia harus memulai semuanya dari awal, memulai mengenal seseorang
yang baru. Memulai belajar kembali mengerti, kembali memahami, kembali belajar
bersabar menghadapi seorang lelaki. Terlebih memulai mencoba menerima segala
kekurangan Lukman. Namun setelah dijalani, meski baru dalam waktu singkat, ia
mulai bisa menerima semuanya. Ia mulai berpikir realistis mengikuti saran dari
ibunya. Mencoba melepaskan segalanya, dan menerima semua hal baru yang datang
padanya. Ia belajar menerima Lukman, dan mencintainya. Barangkali pertunangan
ini memang sudah takdirnya.
“Jadi kau
tak berusaha untuk menolak semua ini?” sela Zaki.
Zaki masih tak habis pikir kenapa
bisa-bisanya Risna tidak melawan. Bayangkan saja, apa kau mau hidup berbagi
ranjang sampai mati dengan lelaki yang tak pernah benar-benar kau cintai, tanya
Zaki. Kenapa kau tidak melawan, dan bilang kalau kau tak mau menikah dengan
lelaki asal-asalan itu karena kau sudah punya kekasih, yaitu aku. Mungkin kau
segan dan tak akan pernah mau untuk membantah orang tuamu. Tapi kau harus
ingat, yang hidup menjalani semuanya sampai mati itu adalah kamu Risna, bukan
orang tuamu. Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa menerima semua ini.
Meski kau tadi bilang kalau semua ini sudah takdir, aku tak percaya. Takdir
bajingan! Jangan kau bersembunyi di balik takdir. Takdir itu tak akan terjadi
kalau kau berani untuk menolak, berani untuk memperjuangkan hidupmu sendiri.
Selama tujuh tahun aku menemanimu,
menjadi kekasihmu. Apa semua sebegitu tidak berartinya untukmu Risna,
kekasihku? Kenapa kau tak menolak lelaki keparat itu? Kenapa kau malah
memilihnya, bukannya aku? Bukannya kau tak tahu apa-apa mengenai lelaki itu?
Kenapa kau memilhnya, bukannya aku? Apa karena aku belum lulus kuliah, hah?
Atau karena apa? Bilang padaku kenapa?!
Mata Zaki kembali basah demi
mengingat peristiwa siang tadi. Ia masih tak dapat membayangkan bahwa bulan
depan Risna akan menikah dengan lelaki lain, dan bersetubuh dengan lelaki
keparat itu. Ingatan itu terus menerus menggarami luka di hatinya. Ia hanya
menangis, menangis, dan menangis. Kepalanya berat, ia benar-benar masih tak
percaya hal ini terjadi padanya. Ia masih tak percaya dirinya ditinggalkan
begitu saja oleh kekasihnya. Ia masih tak percaya bahwa Risna–kekasih yang
sangat dicintainya itu–sekarang sudah bertunangan dengan lelaki keparat yang
bahkan tak pernah melakukan apa pun apalagi berkorban untuk mendapatkannya.
Dasar lelaki keparat! Lelaki keparat beruntung. Asu!
Kemudian Zaki merenungi segala
sesuatunya, bahwa segala macam hal yang manusia angankan akan selalu berdasar
pada keyakinan bahwa manusia bisa mewujudkannya. Hal semacam itu tak akan pula
nampak indah jika manusia tak pernah mempercayainya. Sehingga akibatnya, banyak
hal yang harus dipercayai oleh manusia di dunia ini. Jika tidak, manusia
tersebut tak akan pernah bisa meraih apapun, apa pun! Hanya saja, terkadang
bagi sebagian orang dan termasuk bagi dirinya, kepercayaan terhadap sesuatu
terkadang malah menjadi senjata makan tuan yang tajam sekaligus mematikan.
Seiring dengan semakin kuatnya seorang manusia meyakini sesuatu hal, maka
sekuat itu pula keyakinan tadi akan membunuhnya.
Zaki sudah
merasakannya. Zaki sudah mati. Zaki dengan anggun dibunuh oleh takdir yang
menjelma mewujud Risna. Takdir keparat!
Komentar
Posting Komentar