Cara Menjadi Seorang Muslim yang Kaffah


Untuk menjadi seorang muslim yang kaffah, maka terlebih dulu seorang muslim harus menjadi seorang manusia. Apa jadinya jika seorang muslim hanya menjadi muslim tanpa menjadi manusia? Kiranya, nilai-nilai kemanusian yang padahal juga diajarkan oleh Islam akan mengalami keruntuhan.

Seorang muslim di era sekarang, era yang sangat begitu jauh dari era Nabi Muhammad SAW, terlalu banyak kehilangan kontrol atas tubuh kemanusiaannya, dan selanjutnya kehilangan rasa kemanusiaan itu sendiri. Gejala semacam pengkafiran terhadap non muslim atau bahkan terhadap sesama muslim tumbuh subur dalam iklim jihad di jalan Allah. Gejala pengkafiran semacam ini lantas menjadi bahan bakar sempurna untuk menyalakan api intoleransi terhadap perbedaan-perbedaan yang hakikatnya sudah niscaya.

Terlalu banyak seorang muslim yang dengan enteng menghina agama-agama yang padahal diakui di Indonesia. Terlalu banyak seorang muslim yang menghina sesama muslim lainnya hanya disebabkan lantaran memiliki pandangan berbeda terhadap Islam. Terlalu banyak seorang muslim yang mencaci-maki Ulama yang terus meneriakkan pentingnya persatuan di atas segala perbedaan. Dan, terlalu banyak seorang muslim yang saling mengklaim bahwa hanya Islam yang dianutnyalah yang benar.

Agus Ketring, kemarin diceramahi Pak Samsul–yang merupakan kepala sekolah Madrasah Aliyah di wilayahnya–mengenai kemenangan Jokowi di pos ronda. Ia masih tak terima dengan kemenangan Jokowi yang dianggapnya berbuat curang dalam perhelatan pilpres. Meski ia juga mengetahui fakta bahwa MK sudah memutuskan bahwa Prabowo yang ia dukung sudah kalah.

“Masalahnya bukan itu Gus, Jokowi itu anti Islam, dia itu Neo-PKI Gus!” Jelas Pak Samsul.

“Jadi Jokowi itu anti Islam atau PKI, pak?”

“Eh begitu saja tidak ngerti! Dia itu agen Yahudi Gus, dia itu jelmaan Dajjal, pengikut Dajjal!”

“Saya mah bingung pak. Jadi Jokowi teh sebenernya siapa, pak Sul?”

“Begini Gus, kamu tau kenapa Jokowi bisa menang pilpres?”

“Karena dipilih rakyat, pak Sul?”

“Ah ngaco kamu mah Gus. Jokowi bisa menang pilpres sabab didanai ku asing, ku Yahudi. Jadi nanti Gus, kebijakan-kebijakan Jokowi teh harus menguntungkan kelompok nu mendukung Jokowi. Lihat saja sekarang Gus, kebijakan-kebijakan Jokowi selalu berpihak ka asing, ancur Gus! Selain itu Gus, partai-partai jeung ormas-ormas yang mendukung Jokowi juga didanai asing Gus. Parah Gus, sudah kacau jaman Jokowi mah. Sagala kacau pokona mah Gus. Hutang makin banyak Gus, harga sembako mararahal Gus, tiket pesawat oge mahal Gus. Belum lagi Gus, sekarang ada gerakan Islam Nusantara. Gerakan Islam Nusantara itu Gus, itu gerakan liberalisasi Islam Gus. Jadi Islam akan dibikin liberal Gus di Indonesia teh. Naudzubillah pokona mah jaman Jokowi mah Gus. Terus Gus, sekarang juga ada gerakan berkebaya, tidak pakai jilbab, mau gimana Gus nasib Islam di Indonesia? Itu salah sahiji contoh liberalisasi Islam Gus. Aneh saya mah sebenernya Gus sama orang-orang atau ormas-ormas, atau partai-partai Islam yang ngadukung Jokowi, pikiran mereka di mana Gus? Sudah kalafir Gus, parah. Makanya Gus, saya mah gak bakal ngadukung pemerintahan Jokowi. Sebagai orang Islam, kamu juga harus gitu Gus, nolak Jokowi. Jangan bayar pajak Gus! Kita harusnya lawan itu pemerintahan zalim Gus. Terakhir Gus, satu-satunya cara supaya Indonesia menang, umat Islam menang, sistem pemerintahan harus diganti Gus. Pancasila kudu diganti Khilafah Gus. InsyaAllah Gus, khilafah itu akan membuat umat Islam jaya, umat Islam menang, Gus. Jadi begitu Gus sebenernya. Kacau pokonya Gus jaman Jokowi mah!”

“Waduh parah ya pak Sul. Berarti sekarang pak Sul sudah engga ngambil gaji dari pemerintah, ya pak?”

“Wah itu mah hak saya Gus, saya harus ambil. Kalau tidak saya ambil, saya mau makan apa Gus? Keluarga saya mau makan apa? Gitu aja kamu gak ngerti Gus.”

“Oh iya pak Sul. Iya... Iya…”

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Karang di Tubuh