Menyoal Bumi Manusia
Menyoal novel Bumi Manusia yang filmnya sekarang
sedang ramai dibicarakan oleh remaja, dan oleh–termasuk–mahasiswa-mahasiswi
baru atau pun lama yang malas membaca, serta terutama bagi orang-orang yang
gagap terhadap sebuah buku. Betapa di media sosial semacam instagram, twitter
dan facebook, terutama golongan perempuan-perempuan malas baca, baru menuju
beranjak dewasa, dan perempuan-perempuan golongan labil yang merasa gatal untuk
tidak update barang sedetik di sosial
media, dan termasuk laki-laki golongan gemulai, bucin, yang haus perhatian, pada
membikin status yang mencatut kutipan-kutipan dialog setelah menonton filmnya. Itu
salah satu tanda kegagapan yang termaksud tadi.
Ya, saat ini novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta
Toer–salah satu penulis legendaris pasca-kolonial–diangkat ke dalam media film
yang disutradarai Hanung Bramantyo yang konon katanya merupakan salah satu
sutradara terbaik di Indonesia. Raden Mas Minke sebagai tokoh utama di dalam
novel diperankan oleh Iqbal Ramadhan, mantan anggota boyband kimcil yang sudah aqil baligh menuju dewasa. Tentu hal ini
menjadi kontroversi jika enggan mengatakan merendahkan, bagi orang-orang yang
sudah bolak-balik membaca dan mengkaji Tetralogi
Buru; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa,
Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Dari bermacam segi sungguh sangat tidak
sesuai, kecuali segi berdagang.
Entah seperti apa proses untuk memilih serta
menentukan aktor yang akan memerankan Raden Mas Minke. Dari kualitas aktor yang
terpilih, dapat disimpulkan bahwa proses untuk menuju keputusan menentukan
aktor yang akan dipilih adalah benar-benar serampangan. Seperti ada kesan
Sutradara yang menyutradarai flm ini belum membaca novel Bumi Manusia. Terlihat
dari ketidakmampuannya mendeskripsikan tokoh utama, misalnya. Atau mungkin
sudah, hanya saja yang dibaca hanya novel Bumi Manusia, tiga sisanya tidak. Tak
tahu juga apakah produser yang membiayai film ini mempertimbangkan aktor yang
dipilih oleh sutradara dengan seksama. Dan untuk apa juga sebenarnya seorang
produser memikirkan hal ini? Sebab baginya, yang penting adalah filmnya dapat meledak
laku di pasaran.
Dalam membuat sebuah film, tentu sah-sah saja untuk
menjadikan Iqbal Ramadhan sebagai pemeran Raden Mas Minke. Mau memilih
gelandangan pun untuk dijadikan pemeran di dalam film ini tentu bukan hal yang
susah. Toh kebanyakan di Indonesia, sebuah film tak benar-benar punya kualitas
untuk memunculkan gagasan-gagasan demi membuat orang-orang yang menontonnya
berpikir dan merenungkan perihal apa yang telah mereka tonton. Semua hanya demi
bagaimana bisa membuat orang-orang dari golongan yang telah tersebut bisa mengantre
di bioskop untuk menonton. Semua hanya demi keuntungan.
Alih wahana dari satu media sastra ke media sastra lainnya–dalam
konteks ini dari novel ke film–adalah sebuah hal yang sangat biasa, dan
bukan sebuah dosa laknat. Bahkan kadang si penulis novel pun tak sedikit yang memuji
betapa ceritanya bisa sangat menjadi lebih menarik ketika menjadi sebuah film. Beberapa
umpama novel legendaris yang diangkat ke film diantaranya Trilogi The Lord of The Rings; The Fellowship of The
Ring, The Two Towers, dan The Return
of The King karya J.R.R. Tolkien, Of
Mice and Men karya John Steinbeck, Tess
of the d’Urbervilles karya Thomas Hardy, The Da Vinci Code karya Dan Brown, The Shawshank Redemption karya Stephen King, dan tujuh seri novel fantasi Harry Potter karya J.K. Rowling, kesemuanya sukses ketika menjadi sebuah film. Meski memang
tetap saja pembaca dan penonton punya perasaan serta penilaian yang berbeda
baik saat mereka membaca novel atau pun menonton film.
Yang perlu diperhatikan dari kesuksesan film-film
tersebut adalah bagaimana film yang diangkat dari novel tetap memerhatikan
detail sekecil apapun, tentu termasuk memilih aktor atau aktris yang akan
memerankan tokoh-tokoh dalam novel. Tidak hanya demi keuntungan semata. Sebab, ketika
seseorang menulis sebuah novel tentu penulisnya ingin pembaca paham apa yang ia
tulis. Celakanya, bagaimana orang akan paham mengenai apa yang ia tonton di
film jika banyak detail yang dihilangkan? Bagaimana orang akan menikmati
filmnya dengan nikmat jika yang memerankan peran-peran penting adalah aktor
atau aktris yang amatiran yang mereka dimainkan hanyalah karena followers-nya banyak dan bisa untuk
dimanfaatkan? Atau hanya karena Iqbal dianggap sukses memerankan tokoh gombal
Dilan yang begitu banyak membuat perempuan teredan-edan, dan dianggap juga akan
bisa sukses memerankan Minke, padahal Raden Mas Minke itu sejatinya adalah
Raden T.A.S. yang jelas-jelas hidup di dunia nyata?
Semoga dunia film Indonesia berkualitas, tidak seperti
‘Bumi Manusia’ ini. Semoga orang-orang yang menonton filmnya tanpa membaca
bukunya mengetahui bahwa novel ini pernah dilarang. Bahwa novel ini ditulis di
tempat pembuangan yang terasing. Bahwa sebagian pembacanya harus mendekam di
balik jeruji besi bertahun-tahun. Bahwa pengarang yang menulis novel ini pernah
ditahan belasan tahun tanpa sebuah proses pengadilan. Bahwa sejatinya
pemerintah tak pernah meminta maaf apalagi mengganti kerugian yang selama ini
ditanggung oleh penulis dan keluarganya. Semoga. Ironisnya, novel ini sekarang malah
menjadi sebuah komoditas. Dan semoga, setelah menonton filmnya orang-orang pada
pergi ke toko buku, mengantre berdesak-desakan, rela menunggu berbulan-bulan
jika novelnya habis, mengeluarkan uangnya, untuk membeli dan menikmati, dan
untuk merenungi Tetralogi Buru ini dengan utuh.
Semoga, setelah IAN dipecat dari PBU, orang-orang pada pergi ke WH untuk merekrut IAN baru yang lebih berkualitas daripada IAN lama.
BalasHapus