Kopral Maryono
“Tugas kita sekarang sudah bukan lagi hanya menyambut kemerdekaan, tapi
mengisinya. Heran saya, orang kok banyak yang terjebak.”
“Memang bedanya apa, pak?”
“Loh?”
“Beda ya, pak?”
“Jelas, Gus. Kalau menyambut kan kaya upacara bendera, cuma seremonial.
Kaya kamu nyambut tamu aja gimana kira-kira.”
“Kalau mengi…”
“Kalau mengisi, kan tamu yang kita sambut tadi sudah di dalam rumah.
Terus selayaknya kita perlakukan dengan baik. Kasih makanan terbaik, sediakan
kamar yang bersih, pokonya kasih apa yang bisa dan mampu menurut kemampuan dirimu.”
Di televisi, dalam sebuah acara berita diberitakan bahwa di beberapa
daerah para anggota TNI sedang gencar merazia buku-buku kiri. Meski padahal,
semua tak pernah jelas dan tak pernah sepakat mengenai pemaknaan bahwa apa
sebenarnya yang dimaksud dengan buku kiri itu. Sementara satu anggota TNI yang
sedang diwawancarai menjawab pertanyaan pewarta bahwa yang dimaksud dengan buku
kiri adalah buku-buku yang dianggap mengandung ajaran-ajaran Komunis. Aparat
khawatir PKI bangkit lagi, yang sebenarnya jika dipikir dengan cermat terlalu
mengada-ngada. Hal semacam ini bisa dijadikan sebuah ukuran untuk menilai bahwa
masih banyak dari masyarakat Indonesia, termasuk aparat, yang masih parno saat
mendengar kata “komunis”. Bagaimana pun komunis belum tentu PKI, meski memang,
PKI sudah pasti adalah komunis.
“Oh gitu, ya pak. Menurut pak Maryono apa Indonesia memang sudah
merdeka?”
“Contohnya, pak?”
“Merdeka untuk membaca.”
Buku-buku merah-kiri-membara dikumpulkan dari toko-toko atau lapak-lapak
penjual buku demi alasan keamanan, tentu supaya PKI gagal untuk bangkit.
Terkadang, saking membabi butanya ketakutan terhadap buku-buku kiri, tak jelas
lagi apakah yang ditakutkan bangkit itu PKI atau Komunisme. Setelah diamankan,
entah perlakuan seperti apa yang akan diterima buku-buku kiri dari aparat yang
merazianya. Dan sepertinya satu hal yang mungkin, mereka akan dimusnahkan.
Hanya saja, bagi orang-orang yang tidak alergi dan terbiasa untuk membaca buku-buku
akan punya pendapat yang sama: bahwa sebuah buku takkan bisa dibakar atau
diberedel senapan, sebab ia bukan hanya kumpulan kertas dan aksara. Namun, ia
adalah sebuah naluri untuk bergerak, untuk bertahan hidup, untuk bertarung
melawan ketidakadilan, yang jauh tertanam di dalam orang-orang yang terbuka
hati serta pikirannya. Ia akan abadi.
“Maksudnya, gimana pak?”
“Kan sekarang banyak tuh buku-buku yang dirazia, terutama buku-buku yang
biasa disebut kiri. Dalihnya sih demi alasan keamanan, tapi kok rasanya sungguh
tidak nyambung. Padahal kan, yang dimaksud dengan paham kiri itu kan banyak,
bukan hanya komunis. Kan ada Sosialisme, Marxisme, Bolshevisme, Leninisme,
Trotskyisme, Shagmantisme, Cliffisme atau Luxemburgisme. Ada juga
Demokrasi-Sosial, Stalinisme, Maoisme, Marxisme-Feminisme, Kruschevisme,
Hoxhaisme, Titoisme, Guevaraisme, Castroisme, Bordigisme dan Komunisme Kiri.
Selain itu kan ada juga Sosialisme Ekologis, New Left atau Gerakan Kiri Baru, Neo-Marxisme,
Post-Marxisme, Pemikiran Ho Chi Minh, Marxisme-Otonomis, Sosialisme-Relijius,
Marhaenisme, Soekarnoisme serta Murbaisme atau yang biasa dikenal sebagai
ajaran Tan Malaka. Tololnya, aparat menganggap semua paham itu sama dan
kemudian dengan enteng menyebutnya PKI. Lucu, kan Gus?”
“Waduh, segitu banyaknya ya pak?”
“Loh, iya Gus. Padahal mah kan biar saja orang-orang belajar paham-paham
kiri itu dengan bebas, biar jadinya cerdas-cerdas. Toh Indonesia juga
sebenernya tak butuh-butuh amat paham-paham itu, Indonesia kan sudah punya
Pancasila. Jadi engga usah takut kalau PKI bangkit, nanti juga ujung-ujungnya
bakalan kalah sama Pancasila.”
Setelah membayar kopi dan rokok, kemudian Kopral Maryono bangkit dari
duduknya seraya menghampiri motornya. Selagi ia duduk di atas motor, sebelum mengengkolnya, ia berpesan
“Besok ikut upacara, Gus!”
Komentar
Posting Komentar