Seorang Anjing Solehah


            Demikianlah Mumad bingung jadinya. Ia bingung, mengapa perempuan di hadapannya ini malah terus-terusan membela binatang seperti anjing. Ia sangat tak bisa memahami mengapa perempuan yang nampaknya solehah ini malah rela masuk neraka demi binatang seperti anjing. Lihat bajunya! Perempuan ini menutup daerah auratnya dengan sangat tertib, setertib polisi berperut buncit kala mereka melaksanakan apel pagi. Tubuhnya diliputi gamis, kepalanya ditutup jilbab yang menjuntai melebihi susunya, dan tentu kemana pun dirinya pergi, ia tak pernah lupa untuk selalu menggunakan kaos kaki serta manset.

            Mumad merasa sudah menjelaskan seterperinci mungkin bahwa tidak baik untuk menjadikan anjing sebagai binatang peliharaan. Kalau mau, baiknya memelihara kucing saja. Sebab kucing adalah binatang kesayangan Nabi.

“Apa kau sudah kehilangan akalmu? Anjing itu binatang najis. Perempuan sepertimu tak pantas untuk memelihara seekor anjing.”

“Perempuan sepertiku?”

“Ya, perempuan sepertimu.”

“Memangnya kenapa dengan perempuan sepertiku?”

“Kau ini perempuan baik-baik. Ibumu guru Bahasa Indonesia, dan bapakmu adalah seorang guru Fisika. Kau...”

“Hubungannya?” Wiwit menyela.

“Kau ini perempuan baik-baik. Kau jilbaban, tak pernah lupa pakai manset, selalu pakai kaos kaki, dan kau juga bergamis.”

“Hubungannya, Mad?”

“Dengar Wit! Kau ini perempuan baik-baik, dan seharusnya, juga demi kebaikanmu, perempuan baik-baik sepertimu tak usahlah memelihara binatang najis macam anjing.”

“Memangnya  kenapa?”

“Sudah kubilang anjing itu binatang najis, dan kau seorang perempuan baik-baik.”

“Bukannya yang najis itu air liurnya?”

“Ya, memang. Tapi anjing tak bisa kalau tidak menjilati seluruh tubuhnya, kan?”

“Benar.”

“Kalau begitu, maka anjing itu binatang najis. Seluruh tubuh anjing itu najis. NAJIS!”

“Lalu kenapa?”

“Nanti kau tak bisa solat, kalau pun mau nanti bakalan susah. Kau harus mencuci tubuhmu terlebih dahulu pake air dan tanah tujuh kali.”

“Tinggal cuci pake sabun.” Timpal Wiwit enteng.

“Kau ini bagaimana? Ya tidak bisa seperti itu! Tetap harus pakai tanah.”

“Yasudah, aku tetap pake sabun.”

“Kau ini! Jangan seenaknya menggampangkan agama. Kau harusnya...”

“Bukankah agama memang selalu memudahkan segala hal?” Potong Wiwit sengit.

“Tidak bisa begitu. Agama itu selalu tentang kepastian, dan beragama adalah memastikan diri kita menaati kepastian itu. Kau tak bisa merubahnya demi kepentinganmu saja.” Darahnya mulai bergolak.

“Tetap saja aku bakalan pake sabun.”

“Kau ini! Banyak hadis yang melarang kita untuk memelihara anjing. Malaikat juga tak akan mau masuk rumahmu nanti.”

“Untung saja aku masih tinggal dengan orang tua.” Wiwit menimpali sekenanya.

“Astagfirullah! Kau ini kenapa Wit?”

“Kenapa memang?”

“Astagfirullahal’adzim!” Mumad geleng-geleng kepala. Kemudian ia meneruskan “Kau tak pernah menonton youtube? Di youtube ada Kyai yang bilang kalau anjing itu simbol setan, laknat. Kalau kau tetap memelihara anjingmu, itu sama saja kau bersekutu dengan setan. Kau tak akan masuk surga. Kau tidak bisa masuk surga!”

“Bukannya ada seorang pelacur yang masuk surga hanya karena dirinya menolong anjing yang sedang kehausan? Itu juga dari hadis Mad.”

“Astagfirullah! Astagfirullahal’adzim! Eling Wit, eling! Kau ini bukan pelacur. Kau anak guru Bahasa Indonesia dan fisika. Pokoknya kau tak akan masuk surga selagi masih teguh dengan keyakinanmu memelihara anjing.”

“Yasudah kalau begitu.”

“Yasudah apa, Wit?”

“Aku akan tetap memelihara anjing.”

“Astagfirullah Wit! Kau benar-benar tak ingin masuk surga?” Kali ini Mumad mengelus-ngelus dadanya.

“Mau bagaimana lagi?” Tanya Wiwit datar.

“Makanya jangan pelihara anjing!”

“Yasudah kalau begitu. Tetap saja aku tak bisa kalau tidak memelihara anjing. Lagi pula imanku tak setipis orang-orang bergamis, bersorban, berjenggot, dan bercadar yang selalu taat beribadah hanya karena takut masuk neraka.”

“Innalillahi Wiwit. Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullahal’adzim Wiwit. Eling Wit, eling! Ibumu itu guru bahasa Indonesia, dan bapakmu guru fisika. Eling, Ya Allah. Wiwit, astagfirullah.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah