Seekor Anjing Bernama Sarah


            Sarah benar-benar tak dapat menemukan satu alasan pun kenapa dirinya tiba-tiba berubah menjadi seekor anjing. Ia baru sadar dirinya berubah saat terbangun subuh-subuh untuk menunaikan ibadah solat subuh. Tentu dirinya kaget bukan main saat menemukan dirinya berubah menjadi seekor anjing, perasaan jijik kemudian menggerayang saat dirinya bercermin. Pernah sekali memang ia memikirkannya, memikirkan untuk menjadi seekor binatang. Ia pernah memimpikan untuk menjadi seekor ikan, apapun jenisnya. Sederhana saja, ikan bukan binatang najis seperti anjing, pikirnya. Tubuhnya bisa dimasak dengan bermacam cara, digoreng, dibakar, dipepes, singkatnya mau dimasak dengan cara apapun tetap tak akan mengurangi kenikmatannya. Setidaknya menjadi seekor ikan pasti lebih bermanfaat daripada menjadi seekor anjing. Ia pun pernah membayangkan kalau dirinya rela menjadi binatang apa saja asalkan bukan menjadi anjing. Bahkan ia pernah mewanti-wanti dirinya sendiri, jika tak cukup banyak pilihan untuk menjadi seekor binatang, ia akan memilih untuk menjadi seorang manusia saja.
            
          Sehari sebelum dirinya berubah menjadi seekor anjing, ia menjalani hari sebagaimana biasanya. Pagi hari sekitar jam enam Sarah lari mengelilingi lapangan di dekat kosnya sepuluh putaran, kemudian dilanjutkan dengan melakukan gerakan-gerakan aerobik sederhana. Setibanya di kos sehabis lari, ia langsung mandi sembari mencuci pakaian kotornya yang sudah direndamnya sebelum berangkat lari. Mandi dan mencuci pun sudah ditunaikan, lalu dirinya duduk di depan cermin untuk merias diri. Sarah memulai dari memakai krim, membalur mukanya dengan sedikit bedak bayi, menebalkan bulu mata dengan maskara, memulas bibir dengan lipstik, dan mengecat seluruh tubuhnya dengan lotion. Setelah semua ritual sakral tersebut selesai ditunaikan ia meluncur menuju kampus, dan kemudian sore hari sekitar pukul empat ia sudah pulang. Kemudian sehabis mandi dan solat magrib ia bersiap untuk nongkrong dengan kawanannya. Pada malam itu, Sarah dan teman-temannya pergi ke bioskop demi menonton film Captain Marvel. Tak ada yang aneh pada malam itu, semua hal berjalan sesuai hukum manusia. Bahkan saat dirinya kencing di toilet bioskop, Sarah masih kencing sembari berjongkok dan tidak mengangkan seperti seekor anjing.

            Sekarang di depan cermin, ia memerhatikan seluruh tubuhnya yang dipenuhi bulu-bulu berwarna hitam dengan sedikit corak putih di sela kelopak matanya. Ia masih tak habis pikir mengapa dirinya sekarang bisa berubah menjadi seekor anjing hitam begini. Lamunannya melayang-layang jauh. Mungkin sekarang dirinya sedang dihukum untuk menjadi seekor anjing. Bukan ia tak mau dihukum atas apa yang mungkin dilakukannya secara tak sadar. Namun, kalau pun ia harus menerima sebuah hukuman, Sarah lebih memiih untuk menjadi seorang pelacur saja daripada menjadi seekor anjing. Menjadi pelacur memang tak mudah, tapi lebih menyusahkan untuk menjadi seekor anjing. Kalau dirinya menjadi pelacur, setidaknya ia dapat merasakan berbagai jenis kontol. Mulai dari kontol besar-kecil, panjang-pendek, bengkok-lurus, yang impoten, atau pun yang tegak lurus seperti tiang bendera. Selain itu, lubang kemaluannya bisa merasakan kenikmatan disetubuhi dengan beragam cara.

Seorang pelacur mungkin dianggap sampah masyarakat oleh kaum bergamis dan bersorban. Dirinya juga mungkin memperoleh siksa yang amat pedih sebagai balasan perbuatannya, dan mungkin akan kekal di kerak neraka. Tapi tak apalah, semua itu lebih masuk akal daripada harus hidup sebagai seekor anjing. Eh tunggu sebentar, bukankah ada cerita tentang seorang pelacur yang masuk surga sebab memberi minum seekor anjing?  Siapa tahu dirinya termasuk pelacur yang demikian, menjadi ahli surga sebagai pelacur. Tapi, lihatlah dirinya sekarang! Hanya menjadi binatang tak berguna seperti ini, tak bisa bekerja demi menafkahi diri serta ibu dan bapaknya. Setiap hari hanya menunggu belas kasih tuannya agar bisa makan untuk menjalani kehidupan sialan ini.

Dan sekarang di depan cermin, Sarah memikirkan sebuah pertanyaan besar tentang apakah dirinya seekor anjing jantan atau seekor anjing betina.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Surga yang Entah