Happy Erection Day!


            “Happy Erection Day!”

            “Apa katamu?”

            “Happy Erection Day!”

            “Apa?!”

            Idang kesal dengan satu temannya ini yang berlagak sok idealis dengan menjelaskan apa bedanya golput dan tidak memilih. Baginya, golput dan tidak memilih itu sama saja, sebuah persekongkolan jahat melawan demokrasi di negeri tercinta. Temannya itu terlalu terjebak dengan nilai-nilai luhur filosofis yang entah didapatnya dari membaca buku karangan siapa. Bahwa sebuah demokrasi itu seharusnya membawa kita kepada kemakmuran, kesejahteraan, serta kebahagiaan dalam menjalani sisa umur. Temannya lupa satu hal, ia lupa akan betapa pentingnya untuk menggunakan hak pilih dalam iklim demokrasi. Ia kesal saat temannya berkata begini:

            “Buat apa milih? Mau nomer satu atau dua yang menang, hidupku tetap susah. Mau pengusaha, ulama, atau mantan jendral yang menang, hidupku tetap susah. Mau pribumi atau asing yang menang, hidupku tetap susah. Mau mayoritas atau minoritas yang menang, hidupku tetap susah. Mau Islam, Kristen, Hindu, Buda, Konghucu, atau lima agama itu digabung sekaligus yang menang, hidupku tetap susah. Mau Jokowi atau Prabowo yang menang, hidupku tetap susah. Mau siapapun yang menang, orang sepertiku akan tetap kalah. Rakyat tak pernah menang, tak akan! Omong kosong jika mereka menjanjikan perubahan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Mereka, calon-calon presiden itu,  tak akan pernah bisa membuat hidupku menjadi tiba-tiba baik. Tetap saja, pilihan paling rasional untuk membuat hidupku jadi baik adalah memilih diri sendiri. Hanya diri sendiri yang bisa membawa perubahan itu, bukan mereka.”

            Naif sekali temannya yang satu ini. Ia tak sadar, selama ini dirinya makan dari mana, bisa hidup damai nan tenang berkat siapa, bisa bekerja tanpa hambatan, menjalankan ibadah sesuka hati, dan apapun yang diinginkan akan mudah untuk dicapai. Ini semua berkat pemerintah yang susah payah mengatur dan juga selalu memikirkan jalan keluar dari setiap permasalahan di negeri ini. Kurang baik apa pemerintah selama ini? Apa-apa sudah disediakan. Infrastruktur penunjang perekonomian semisal jalan, pelabuhan, bandara, rel kereta api, MRT, dan macam lainnya sudah dibangun. Perizinan untuk membuka usaha jadi sangat dipermudah, tidak pabaliut seperti dulu. Masjid-masjid juga dibangun, Gereja-gereja didirikan, Kuil-kuil dan Wihara-wihara disempurnakan, itu semua demi memfasilitasi kebutuhan kita untuk beribadah. Apa-apa sudah dimudahkan, apa-apa sudah disediakan. 

            “Itu semua hasil kerja keras pemerintah. Disediakan untuk kita ini, untuk rakyat!”

            “Tetap saja orang sepertiku akan tetap kalah.”

            “Harus optimis! Kita harus kerja, kerja, kerja.”

“Aku tak mau menghabiskan hidupku hanya untuk kerja, kerja, kerja. Menurutmu orang sepertiku tak butuh liburan?”

            “Ya intinya kau harus kerja, berusaha, tetap optimis.”

            “Happy Erection Day!”

            “ELECTION, bukan ERECTION!”

“Tegang, tegangan, dan keteganganlah yang membikin peradaban. Kalau kita semua tidak dalam keadaan tegang, maka hancurlah peradaban. Bukan Election yang melahirkan peradaban, tapi Erection.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wates

Di Akhir Khawatir

Karang di Tubuh