Postingan

Akhir Nirmala

Gambar
  Aku pernah membunuh seseorang. Aku membunuhnya saat ia masih dalam kandungan. Kamu tak salah membaca. Aku membunuhnya saat ia masih dalam kandungan. Seseorang itu adalah bayiku. Seseorang itu adalah anakku. Darah dagingku sendiri. Seseorang yang tercipta dari nafsu dan cinta. Seseorang yang dikandung perempuan yang begitu kupuja. Aku membunuhnya karena takut. Takut keluargaku malu. Malu dengan kelakuanku. Malu pada anaknya sendiri. Malu karena telah membiarkan seorang lacur sepertiku hidup berkeliaran. Merusak anak orang. Menghancurkan masa depannya. Menghamilinya. Aku membunuhnya karena tak punya nyali. Nyali untuk menghadapi kepahitan. Kepahitan yang menuntun pada kesengsaraan. Kesengsaraan yang nyata. Senyata ketika pagi itu aku tahu perempuan yang kucintai mengandung. Mengandung anak kami. Mengandung anak yang lalu kubunuh. Aku membunuhnya karena pengecut. Pengecut untuk ambil resiko. Resiko untuk hidup dalam cibiran orang-orang. Orang-orang yang akan mencatat sejarah...

Mendaki Masa Silam

Gambar
  Hari-hari terasa lambat. Sore hari. Tak ada jam di kamar ini, tapi aku tahu sekarang jam berapa. Magrib akan segera datang. Jadi kira-kira, sekarang jam setengah enam. Di luar hujan. Bukan hujan yang deras, tapi tak kecil juga. Sedari pagi hanya seperti itu. Monoton. Bagai orang-orang resah menarik nafas.             Tiga bulan berlalu. Aku merasa hidupku telah terpisah sebegitu jauhnya dari kenyataan dan apalagi harapan. Aku kadang bangun subuh. Berangkat ke masjid. Salat. Mengingat Allah. Mengangkat tangan. Berdoa. Kepada-Nya aku tak banyak berharap. Padahal Ajenganku sering berkata untuk meminta sebanyak-banyaknya ketika sedang berdoa, sebab itulah yang disenangi-Nya. Tapi aku tak banyak meminta. Bukan karena tak percaya pada perkataan Ajenganku. Aku percaya. Sungguh percaya pada segala apa yang pernah dinasihatkannya. Aku sangat-sangat percaya bahwa Allah akan senang mendengar keluh kesahku. Aku tak pernah meminta b...

Cerita Malam Seribu Bulan: Memanjat Yggdrasil

Gambar
  Sepuluh tahun sebelum Haji Ahmadun menginjakkan kakinya di pegunungan JÓ§tunheim, di hari ke dua puluh enam malam ke dua puluh tujuh ramadan sekira-kira pukul setengah tiga dini hari ketika tengah beritikaf di masjid dengan maksud untuk menjemput malam lailatulkadar, pada kalimat tahlil yang ke seribu enam ratus empat puluh tiga, ia tiba-tiba saja tergelincir ke dalam tidur dalam posisi bersila. ­­___ Seekor kijang menghampiri dirinya dan menyerahkan sebuah kotak kayu. “Ini untuk Haji,” ia memulai, lalu melanjutkan memberi penjelasan bahwa kotak kayu tersebut adalah, “hadiah dari Yang Mulia Heidrun dan Eikthyrnir,” dan menegaskan, “atas kerja keras dan ketekunan Haji.”             “Atas kerja keras dan ketekunanku?”             “Atas kerja keras dan ketekunan Haji.”             Haji Ahmadun tentu terkejut, ...