Postingan

Seutas Takdir

Satu Ini memang sudah waktunya. Kalau bersandar pada hitungan kasar memang sudah jelas tak ada waktu yang lebih baik untuk menikahkannya selain tahun ini. Katakanlah ini adalah tradisi keluarga untuk menikahkan anak-anaknya terutama yang perempuan, atau jika enggan menyebutnya begitu maka cukup sebut saja bahwa hal ini sudah sejak lama menjadi kebiasaan keluarga. Saudara-saudarinya dinikahkan, paman-bibinya dinikahkan, sepupu-sepupunya dinikahkan, ponakan-ponakannya dinikahkan, bahkan ibu dan bapaknya pun dulu menikah sebab dijodohkan. Semua pernikahan selalu berhasil, dan bertahan lama, dan melahirkan banyak anak-anak yang dapat meneruskan tongkat estafet keluarga, dan yang terpenting mereka semua terlihat bahagia dengan tidak ada yang pernah mengeluh lalu kemudian bercerai. Semua baik-baik saja, dan akan tetap seperti itu.             Ibunya dalam seminggu terakhir secara rutin melakukan shalat istiharah dalam upaya un...

Untukmu Minke-ku, Surat-suratku.

Surat Pertama. Kepada: Jelmaan Minke yang penuh unsur kebudayaan lokal, yang berjiwa tani seperti Annellies dan kepada kamu yang mengidolai Nyai Ontosoroh. Hei, untuk kali ketiga aku tidak ditelpon Kompas lagi. Tapi entah Allah itu seakan Maha Tau dan dengan rapih Dia atur semuanya, atur untuk hadirkan kamu. Dia Maha Tau untuk hadirkan kamu. Dia hadirkan kamu saat ini, di saat aku kehilangan orang yang pernah menjanjikan masa depan. Dia hadirkan kamu dengan penuh kesederhanaan. Dia hadirkan kamu saat mimpiku belum menjadi aku. Seperti ada kebahagiaan yang ditebus atas keputusasaan. Aku baca buku yang kau baca. Aku selami makna seperti kau juga! Aku tidak akan malu untuk mengakui jika ini cinta. Tapi tolong jangan dekatkan ini dengan dosa, aku tidak ingin kehilangan, tapi jangan ikat aku dengan hubungan yang menjerumuskan. Hubungan yang semu yang sekedar bilang “Hei, aku cinta kamu, aku rindu. Ketemu yu?” Surat Kedua. Kepada: Yang sedang lapar. Hei, apa aku seperti A...