Mengeja
Apakah ada cinta tanpa tapi? Mungkinkah ada rindu tanpa tepi? Dan adakah kebahagiaan tanpa tempik? Nyatanya tempik tetaplah tempik konat ngaceng mana mempan dikasih puisi. Kemarin aku bertemu dan berbincang dengan kembang kamboja berwarna kuning. Bersamanya, aku mempercakapkan kehidupan setelah kematian. Apa benar Munkar-Nakir akan sebegitu keponya pada kehidupan kami. Apa mungkin tanah di dalam kubur akan menjepit seorang berlumuran dosa seperti kami. Apa iya bacaan quran kami akan mengalahkan terangnya lampu philips atau akan seredup electra lima watt. Dengannya, aku juga memperbincangkan, benarkah seorang pezina seperti kami akan mampus dihabisi Suja’ul Aqro. Bagaimana aku bisa mampus padahal diriku sendiri telah mampus? Bagaimana bisa aku dihabisi ular mengerikan itu padahal diriku sendiri telah habis? Apa siksa kubur memang semengerikan itu? Si kembang kamboja berwarna kuning tak betul-betul memercayai semua itu. Katanya, itu semua hanya cerita akal-akalan yang dikarang ...