Kisah Kobong: Sutarja dan Sulastri
“Ia telah menciumku sebelum diseret ke ruang eksekusi. Padahal Ia cuma bersaksi bahwa agama dan senjata telah menjarah perempuan lemah ini.” *Penggalan puisi Joko Pinurbo; Minggu Pagi di Sebuah Puisi. Celana: 67. ___ “Kamu sudah akil balig. Rasanya sudah saatnya aku bercerita,” ucap Madsahdi kepada anjingnya di suatu sore. ___ Sesungguhnya, jika puluhan tahun sebelumnya orang-orang–yang kemudian menjadi leluhur Haji Elon–tak merampas hak milik Madsahdi, maksudku, hak milik keluarga Madsahdi, barangkali Madsahdi tak akan menjadi buruh serba bisa seperti sekarang. Madsahdi menceritakan kepadaku, dahulu bapaknya adalah seorang yang hidup enak, berkecukupan, dan hidup dalam kebahagiaan paripurna. Bapaknya bapak Madsahdi, yang berarti adalak kakeknya Madsahdi, yakni Sutarja, adalah seorang yang dikaruniai kekayaan melimpah, yang kekayaannya itu tak akan habis dibagi walaupun kepada seluruh penduduk di kecamatan selama tujuh turunan. Di kampung, Sutarja dikenal seba...