Mari Mati
Kalau dipikir-pikir hidup itu menakutkan. Tiap hari kudu makan sedang kerja belum tentu punya. Tiap hari kudu merokok dan ngopi sedang hidup sibuk menganggur. Tiap hari kudu biayai anak dan keluarga, istri dan suami, orang tua dan saudara sedang orang-orang yang mengelola negara bego semua. Benar-benar menakutkan. Mati pun rasanya jadi menggiurkan. Tampak menyenangkan. Daripada hidup penuh dengan ancaman. Bikin semuanya tak tenang. Sudah tiga puluh tahun hidup. Namun rasanya begini-begini saja. Kaya belum, kerja tetap. Terus melangkah dalam jalan proses. Terus, terus, dan terus. Mau bagaimana lagi. Itulah perintahnya. Itulah hakikatnya. Hakikatnya aku hanya kudu menjalani syariat yang ada. Dan syariat yang ada mewajibkanku untuk terus hidup di negara yang busuk ini. Busuk sebusuk-busuknya bangkai. Bahkan bangkai pun masih ada manfaatnya bagi anjing yang kelaparan. Tapi toh tetap saja si anjing akhirnya mati. Aku menggebuk kepalanya tiga kali sebelum menguburkannya sore hari . Aduh. ...