Cerita Malam Seribu Bulan: Tiga Kemenangan Haji Ahmadun
Pukul satu dini hari. Haji Ahmadun keluar dari rumah. Menuju pancilingan di atas kolam ikannya. Mulutnya pelan mengucap niat. Tangannya terbuka siap menyambut air yang sedari tadi mengalir. Haji Ahmadun membungkuk hendak mengambil abdas.
Air itu mengalir jauh dari girang. Delapan kilometer jauhnya. Sebagian banyak mengalir menjadi sungai, menjadi leuwi, menjadi muara, sebelum akhirnya menjadi laut. Sebagiannya lagi mengalir menjadi selokan; membelah luasnya sawah-sawah, menyusuri kebun-kebun, hingga berkelok memasuki perkampungan; mengairi kolam-kolam, mengairi tempat abdas masjid, dan kemudian bergabung lagi dengan selokan di lebak sana; menuju sungai, menuju muara, menuju lautan. Melalui sebatang bambu yang dibelah, air itu jatuh ke tangan Haji Ahmadun. Currr! Betapa menyegarkan. Kantuk mampus. Malas sirna. Jika diri dalam keadaan junub, barangkali Haji Ahmadun akan sekalian saja bersuci di situ. Tapi kemarau teramat panjang, dan dingin begitu keparatnya.
“Bismillahirrohmaanirrohim,” ucapnya hampir berbisik. Air di lempar ke dalam mulutnya. Haji Ahmadun berkumur. Berkali-kali mengulang, sambil sesekali jari telunjuknya menggosok-gosok giginya. Air dihisap memenuhi hidungnya. Haji Ahmadun mengguyur setan di dalam sana. Air dilempar sebanyak tiga kali; masing-masing ke wajah, kedua tangan, kepala, telinga, dan kedua kakinya. Haji Ahmadun mengucap doa penutup, dan berucap kepada dirinya sendiri, “Tunggu aku, Jibril!” Haji Ahmadun melangkah, meniti cukang bambu, dan ... terpeleset. Haji Ahmadun kecemplung kolam ikan.
___
Pukul satu lima belas dini hari. Haji Ahmadun basah kuyup berhias lumpur. Menuju rumahnya, guna membersihkan diri dan mengganti pakaian. Rumah dikunci, tapi Haji Ahmadun membawa kunci cadangan. Haji Ahmadun merogoh saku kemejanya. Keparat! Kunci itu entah jatuh di mana. Barangkali tenggelam di kolam ikan. Haji Ahmadun mengetuk pintu rumahnya pelan. Tak ada jawaban. Mengetuknya lagi dengan agak sedikit bertenaga. Tak ada jawaban. Mengetuknya lagi dengan agak sedikit keras. Tak ada jawaban. Mengetuknya lagi dengan lebih keras. Tak ada jawaban. Rungsing. Haji Ahmadun menggedor pintunya.
Bu Haji Weny mengintip lewat jendela samping. Bu Haji Weny memasukkan anak kunci, memutarnya, membuka pintu. “Bukannya sudah bawa kunci cadangan?” tanyanya genok. Haji Ahmadun hanya mengangkat alis dan bahunya. Bu Haji Weni kembali ke kamar, membantingkan dirinya ke kasur. Kembali melanjutkan tidurnya.
Haji Ahmadun telah selesai membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi Haji Ahmadun telanjang. Haji Ahmadun hendak menuju lemari di seberang ranjang. Sesaat Haji Ahmadun melirik Bu Haji Weny. Bu Haji Weny tidur menyamping. Haji Ahmadun memandangi rambut Bu Haji Weny yang terurai tak beraturan. Haji Ahmadun mengamati tengkuk Bu Haji Weny dengan bulu-bulu halusnya. Di bahu Bu Haji Weny, Haji Ahmadun mendapati tali kutang putih. Haji Ahmadun terus menelusuri lekuk tubuh Bu Haji Weny hingga ke bawah. Di punggungnya, kutang itu tercetak jelas. Di pinggulnya, celana dalam itu tercetak jelas. Paha Bu Haji Weny terbuka setengah. Sedangkan betis Bu Haji Weny terbuka lebar. Bu Haji Weny hanya mengenakan daster pendek. “Ah sekalian saja, biar ada alasan buat mandi,” Haji Ahmadun menyeringai.
Haji Ahmadun naik ke atas ranjang. Haji Ahmadun menjejeri Bu Haji Weny dari belakang. Haji Ahmadun memeluknya. Haji Ahmadun menciumi tengkuknya. Haji Ahmadun meraba-raba payudaranya. Haji Ahmadun menggesek-gesekkan falusnya; ke bokong dan ke pahanya. Berahinya mulai naik. Falusnya menegang dan mulai basah. Haji Ahmadun kembali mengulang gerakan-gerakan tadi. Tapi kali ini tangan kirinya mulai lincah, menggerayang menelusuri lekuk tubuh Bu Haji Weny. Tangan kanannya mengerti; meluncur menuju ujung daster Bu Haji Weny, menaikannya perlahan ... perlahan ... perlahan ... hingga mencapai pinggangnya. Falus Haji Ahmadun berubah mengeras. Tangan kirinya beraksi lagi. Masuk ke balik kutang, menjamah payudara Bu Haji Weny. Berputar-putar di sana, mengelusnya, memainkan putingnya. Bu Haji Weny mulai mendesah, tapi ia kepalang ngantuk. Tangan kiri Haji Ahmadun dilempar keluar dari sana.
Haji Ahmadun panjang akal. Tangan kirinya kini menyusuri perut Bu Haji Weny. Berputar-putar di sana sebentar, mengelusnya, sebelum meluncur terus ke bawah, memasuki celana dalam Bu Haji Weny. Tangannya menyentuh sesuatu yang menggunduk, hangat. Jari-jari Haji Ahmadun mulai berputar di sana. Bermain-main, ke sana ke mari, menelusuri setiap bagian, hingga sampai ke celah basah. Haji Ahmadun tersenyum. Berahinya mulai bergolak. Haji Ahmadun membimbing telunjuknya memasuki celah tersebut perlahan. Hati-hati. Dengan kecepatan teratur. Dengan ketelatenan seorang ahli. Menggeseknya. Mencoba menerobosnya. Menggeseknya lagi. Mencoba menerobosnya lagi. Menggeseknya lagi. Mencoba menerobosnya lagi. Terus berulang-ulang hingga Bu Haji Weny mendesah lagi. Tapi Bu Haji Weny kepalang ngantuk. Tangan kiri Haji Ahmadun dibetot keluar dari sana.
Haji Ahmadun tak pendek sumbu. Kali ini tangan kirinya, dengan perlahan, memelorotkan celana dalam Bu Haji Weny. Pelan ... pelan ... pelan ... hingga sampailah celana dalam tersebut menggantung di betis Bu Haji Weny. Tangan kanan Haji Ahmadun membetulkan posisi falusnya yang kian keras seperti batu. Falusnya semakin basah. Berahinya telah sampai ke puncak. Tangan kanan Haji Ahmadun mengocok falusnya. Pelan ... perlahan ... kocok lagi ... pelan ... perlahan ... kocok lagi ... pelan ... perlahan ... dan mulai menuntunnya memasuki celah basah yang terbuka. Haji Ahmadun menurunkan sedikit posisi tubuhnya, biar falusnya bisa mencapai sempurna celah basah tersebut dari posisi samping. Falusnya mencium permukaan celah basah tersebut. Hangat rasanya. Becek. Basah. Bu Haji Weny mulai mengerang merasai nikmat. Kali ini Bu Haji Weny tak melawan. Bu Haji Weny memajukan posisi kaki kirinya agak ke depan. Celah basah tersebut semakin terbuka lebar. Haji Ahmadun tersenyum menikmati ikhtiarnya. Falusnya mulai merangsek perlahan. Kepalanya mulai tenggelam. Bu Haji Weny mengerang semakin keras. Kepalanya terus melaju. Bu Haji Weny semakin keras mengerang. Hingga kemudian falus Haji Ahmadun tenggelam sempurna di sana. Bu Haji Weny mengerang keenakan. Haji Ahmadun sumringah meraih kemenangan. “Tunggu aku, Jibril!” katanya di dalam hati.
___
Pukul satu tiga puluh dini hari. Haji Ahmadun telah mencapai junub. Haji Ahmadun telah memenuhi syarat untuk mandi. Haji Ahmadun bersegera ke kamar mandi, hendak membersihkan dirinya di sana. Haji Ahmadun membuka keran. Lantas menunggu bak penuh terisi. Sambil menunggu, Haji Ahmadun menentang cermin lebar di hadapannya. Haji Ahmadun memandangi tubuhnya yang telanjang. Memandangi setiap lekuk. Memandanginya dengan teliti. Matanya mencapai falusnya yang sedikit masih tegang. Di hadapan cermin, tangan kanannya meraih falusnya. Mencoba membangunkannya. Tangannya mengocok perlahan ... perlahan ... perlahan ... tapi falusnya kentara masih kelelahan. Tiba-tiba pikiran ini menyergap: akan segar rasanya jika mandi di pancilingan. Haji Ahmadun tak perlu capek mengangkat gayung, dan kantun menubrukan dirinya ke air yang mengucur.
Haji Ahmadun telah telanjang. Air di depannya mengucur. Berkecipak menubruk bambu di bawahnya. Terjun bebas ke kolam ikan dengan nada merdu. Haji Ahmadun berjongkok. Bersiap menyerahkan kepalanya ke air mengucur. Cur ... serrr ... tubuhnya merasai dingin. Segar dan nikmat. Haji Ahmadun menggosok-gosok badannya dengan tangan. Menggosok seluruh bagian. Berputar-putar, menggosok-gosok, berputar lagi, dan menggosok lagi hingga mencapai selangkangannya. Haji Ahmadun sumringah mendapati falusnya segar kembali. Kini tangan kirinya meraihnya. Menggosoknya perlahan ... berputar-putar ... menggosoknya lagi ... berputar-putar ... mulai naik turun ... naik turun ... naik turun ... naik turun ... naik ... turun ... naik ... turun ... naik ... ahh ... Haji Ahmadun mendesah. Sekali lagi rasanya nikmat. Biar ngantuk benar-benar hilang. Haji Ahmadun mengocok falusnya di bawah guyuran air mancur. Falusnya mengerang memuntahkan isinya. Haji Ahmadun puas. Haji Ahmadun meraih kemenangan kedua. “Tunggu aku, Jibril!”
___
Pukul satu empat puluh dini hari. Haji Ahmadun telah mencapai kamar. Haji Ahmadun hendak mengganti pakaiannya. Haji Ahmadun menuju lemari. Memilih baju, kolor, dan sarung di sana. Haji Ahmadun menuju cermin di samping ranjang. Melepas pakaian bekasnya satu per satu hingga telanjang. Sejenak, Haji Ahmadun memandangi tubuh telanjangnya. Haji Ahmadun tersenyum. Malam ini, dua kemenangan telah diraihnya.
Di sampingnya, di atas ranjang, Bu Haji Weny mendengkur halus. Haji Ahmadun memandang wajah istrinya. Haji Ahmadun tersenyum. Puas dan bangga. Betapa Haji Ahmadun begitu mencintai Bu Haji Weny. Haji Ahmadun mengusap kepalanya. Haji Ahmadun kemudian mencium keningnya. “Aku mencintaimu, bu haji,” ucapnya lirih. Haji Ahmadun merasa itu belum cukup. Haji Ahmadun lalu mencium keningnya sekali lagi. Itu juga belum cukup. Haji Ahmadun lalu kembali mencium keningnya. Ah masih belum cukup juga. Haji Ahmadun lalu mencium pipinya. Itu juga belum cukup. Haji Ahmadun lalu mencium batang hidungnya. Itu juga belum cukup. Haji Ahmadun lalu mengecup bibirnya. Ah ini lumayan. Haji Ahmadun kembali mengecup bibirnya. Ah aku tak salah: ini lumayan. Haji Ahmadun kembali mengecup bibirnya. Kali ini agak lama, bertahan di sana, memagutnya pelan.
Sudah, katanya ke diri sendiri. Aku kudu segera ke masjid. Haji Ahmadun kembali menghadap cermin, memandangi tubuh telanjangnya. Haji Ahmadun kaget ketika melihat falusnya perlahan bangkit. Tangannya meraihnya. Mengusapinya perlahan. Memutar-mutarnya. Haji Ahmadun terus mengusap kepala falusnya. Haji Ahmadun lalu bertanya padanya:
“Kamu ingin lagi?”
Si falus menegang perlahan.
“Tapi kan sudah dua kali?”
Si falus semakin menegang.
“Tapi habis ini sudah ya?”
Si falus menjadi keras.
Haji Ahmadun tersenyum mengusapi falusnya. Kamu memang tangguh, katanya memuji. Haji Ahmadun melirik istrinya yang telentang. Di balik selimut itu, Haji Ahmadun tahu Bu Haji Weny bugil.
Haji Ahmadun naik ke atas ranjang. Menciumi Bu Haji Weny dari atas hingga bawah. Bu Haji Weny mendesah. Bu Haji Weny mengerang. Bu Haji Weny membuka mata. Haji Ahmadun tersenyum. Haji Ahmadun naik ke atas tubuh Bu Haji Weny. Menindihnya perlahan, sambil berucap, “Tunggu aku, Jibril!”
___
Pukul dua dini hari. Aaaaaaahhhhhhh!!! Haji Ahmadun mengerang. Nafasnya tersengal. Tubuhnya banjir keringat. Senyumnya merekah. Begitupun dengan Bu Haji Weny. Bu Haji Weny memeluk Haji Ahmadun. Menciuminya, menjilati wajahnya, mengocok-ngocok falus Haji Ahmadun. Ngantuk telah kepalang hilang. Bu Haji Weny masih kepengin. Haji Ahmadun hanya diam. Mengatur nafas. Mengatur strategi.
Bu Haji Weny kini menaiki tubuh Haji Ahmadun. Menjilatinya dari atas hingga bawah. Terus menjilatinya dengan berahi membara. Haji Ahmadun kelabakan. Haji Ahmadun tak mampu mengimbanginya. Bu Haji Weny menggelosor ke bawah. Kini wajahnya berhadapan langsung dengan falus Haji Ahmadun. Sejenak Bu Haji Weny memandanginya. “Kamu harus menanggung akibatnya, sebab telah menganggu tidurku,” desisnya mengomeli. Bu Haji Weny menelan falus Haji Ahmadun. Bu Haji Weny mengulum falus Haji Ahmadun. Keluar-masuk-keluar-masuk-keluar-masuk dalam tempo cepat. Haji Ahmadun merem melek keenakan. Tapi Haji Ahmadun tak berdaya. Falusnya kini menyerah, tak lagi dapat melawan. Bu Haji Weny kecewa. Membantingkan dirinya ke samping Haji Ahmadun. Haji Ahmadun memeluk Bu Haji Weny seraya berbisik, “Kita lanjut nanti, sebelum sahur. Aku harus segera ke masjid.” Mereka berciuman panjang.
Haji Ahmadun beringsut. Beranjak menuju kamar mandi. Haji Ahmadun langsung membanjur dirinya tanpa basa-basi. Haji Ahmadun bergegas menuju lemari. Mengambil pakaian. Mengenakan celana dalam. Memasang kolor. Membelit tubuhnya dengan sarung. Memungkasinya dengan baju koko. Peci tak ketinggalan. Haji Ahmadun telah siap. Sebelum Haji Ahmadun berangkat, ia menyempatkan bercermin. Haji Ahmadun tersenyum puas pada dirinya. Bangga. Haji Ahmadun pamit mencium kening Bu Haji Weny. Ah belum afdol. Haji Ahmadun mengecup bibir Bu Haji Weny. Terasa masih basah. Haji Ahmadun kemudian menatap istrinya. Menatapnya lekat-lekat. “Betapa cantik begini istriku,” gumamnya. Haji Ahmadun kembali mengecup bibirnya. Terasa nikmat. Haji Ahmadun kembali memandangi Bu Haji Weny, lekat-lekat. Mendadak di pikirannya tumbuh perasaan ganjil yang mengganjal. Haji Ahmadun tak tega meninggalkan Bu Haji Weny. Haji Ahmadun tak tega meninggalkan istri cantik tercintanya. Haji Ahmadun berpikir sejenak, sebelum berucap “Ah lagi pula ini baru malam dua puluh satu. Masih banyak sisanya.”
Haji Ahmadun kembali menanggalkan seluruh pakaiannya. Haji Ahmadun menyusup ke dalam selimut. Tenggelam di sana hingga waktu sahur tiba.
___
Pukul tiga dini hari. Di teras masjid, Malaikat Jibril sedang mengepulkan asap rokok ketujuhnya. Malaikat Jibril melirik jam, dan mendapati waktu sudah pukul tiga. Malaikat Jibril mengisap rokok terakhirnya dalam-dalam, mengembuskan asapnya panjang, dan lalu membantingnya ke tanah sembari beranjak dari duduk. Kepada seribu malaikat yang ikut bersamanya, Malaikat Jibril berkata:
“Kita pulang sekarang!”
“Mengapa?” tanya salah satu malaikat.
“Lagi pula, malam ini, Haji Ahmadun telah meraih tiga kemenangan.”
Malaikat-malaikat itu pun melesat menuju langit. Menyisakan bulan seorang diri.
.png)
Komentar
Posting Komentar