Postingan

Selangkah Demi Selangkah

  Dunia ini jungkir balik, jumpalitan, gonjang-ganjing. Sebentar reda, sebentar berguncang. Tak ada yang pasti, yang ada hanya mesti. Aku mesti mengikutinya saja karena kalau tidak, bisa-bisa malah celaka. Meski sebenarnya aku sudah tak peduli. Mau celaka, tak apa. Mau nyuksruk, sudah biasa. Tapi yah, namanya manusia, hidup, tetap perlu diperjuangkan walau dengan patah-patah. Selangkah demi selangkah. Inginnya sih menyerah. Menyerahkan diri pada takdir, merelakan nasib pada angin. Tapi lagi-lagi, aku tetaplah manusia. Perasaan tetap bergolak menolak. Malam itu semuanya runtuh. Hancur berkeping-keping. Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa. Sepanjang malam hanya melamun, meratapi kisah hidup yang getir. Bukan karena tak punya uang atau karena belum dapat kerjaan baru. Tapi karena aku telah mengecewakan seorang perempuan. Perempuan yang teramat kusayangi. Tak adil baginya untuk merasakan semua itu. Terlebih, aku yang melakukannya, tanganku yang menyuguhkan jamuan cerita di atas m...

Kereta Malam

  Setiap perjalanan membawa kisah. Setiap kisah menyajikan pengalaman, dan setiap pengalaman memberi pelajaran-pelajaran baru. Itulah mengapa manusia fanatik sering kali disebut manusia yang “kurang jauh mainnya”. Manusia yang hidupnya tak bertambah baik walau sejengkal pun. Orang yang tak ke mana-mana hidupnya pun tak akan ke mana-mana. Di sepanjang hidup yang pendek ini, usahakanlah untuk melakukan perjalanan. Upayakan untuk terus melangkah, berjalan. Guna menyusuri tempat-tempat baru, agar bisa merasakan suasana-suasana magis. Tempat baru selalu diisi orang baru. Begitupun suasana magis, tak mungkin kita merasakannya di tempat biasa menghabiskan hidup. Hidup yang tak ke mana-mana membuat diri tak luwes, tak tanggap, tak cekatan. Hidup semacam itu hanya akan bikin tumpul kemampuan improvisasi. Sebab itulah melakukan sebuah perjalanan teramat penting. Karena hidup sering kali tak bisa dijalani dengan datar dan lempeng saja. Sering kali hidup kudu dijalani dengan penuh improvis...

Antara Jazz, Parfum, dan Insiden

  Setiap membaca kembali novel Jazz, Parfum, dan Insiden karya Seno Gumira Ajidarma. Aku seperti benar-benar menjadi “Aku” dalam cerita. Entah karena ceritanya teramat memikat atau karena ceritanya seperti menceritakan kisah hidupku, aku tak tahu kenapa. Yang jelas perasaan itu selalu ada, terlebih nyata. Aku yang membaca, Aku yang merenung, Aku yang hidupnya awut-awutan. Kerap aku merasa buku ini bukanlah novel. Melainkan semacam buku kiat-kiat bagaimana caranya sukses menjalani hidup. Soalnya setiap kali membaca, sesering itu pula aku merasa bisa dan mampu memperbaiki diri. Menambal yang bolong-bolong, menjahit yang sobek-sobek, dan mengompres yang demam-demam. Hidup, kehidupan, apalah artinya? Jazz Hidup sering tak terduga. Kejadian-kejadian bermunculan, peristiwa-peristiwa berkelebatan. Kadang cepat, kadang pelan, kadang keras, kadang sunyi, kadang …. Kadang aku perlu begini dalam hidup. Kadang aku kudu mengubah rencana. Kadang aku kudu pandai membaca perasaan tukang bata...

Ruang Tunggu

Malam itu hujan. Tak besar tapi cukup intens. Aku sudah sampai di stasiun dua jam sebelum kamu muncul di parkiran dengan setengah basah kuyup karena jas hujan yang tak kompeten. Aku duduk di bangku, di depan warung yang sudah tutup. Maklum. Meski waktu baru jam sembilan, tapi hujan yang kepala batu membuatnya terasa seperti setengah tiga pagi. Aku duduk dan merokok. Sendiri. Mengamati Kang Parkir dan Kang Wedang Ronde mengobrol. Tak terlalu jelas aku mendengarnya. Hanya kadang-kadang mereka begitu bersemangat dan tertawa-tawa berdua. Aku menebak mereka sedang membicarakan pengalaman mancing masing-masing. Kupikir, apalagi yang bisa bikin dua orang dewasa bersemangat dan tertawa seperti itu kalau bukan soal memancing. Apa hidup sebenarnya seperti memancing? Hanya orang-orang tekun dan sabar yang dapat bertahan untuk memancing. Orang tanpa dua hal tadi tak mungkin mampu. Orang yang mentalnya tak jempolan dan grasak-grusuk tak mungkin bertahan. Maka hanya merekalah orang-orang tekun y...

Sang Juru Selamat

  Alangkah konyolnya kehidupan. Orang mengaku beriman tapi tak iman pada akal sehat. Padahal syarat utama beriman adalah berakal sehat. Tanpa akal sehat, mengapa juga malaikat kudu repot mencatat apa yang dilakukannya? Dilirik saja tidak apalagi dicatat. Banyak orang mengaku beriman. Salat selalu tepat waktu. Di masjid tak pernah kelewat. Tapi sering kali kelakuannya kelewat batas seperti orang yang tak beriman. Barangkali mereka memang tidak beriman, sebenarnya. Hanya pura-pura. Biar terlihat mentereng di hadapan mertua. Agar tampak saleh di mata anak-anaknya. Supaya seperti orang-orang yang sudah mendapat jaminan surga tindak-tanduknya. Orang-orang yang mengaku beriman itu mengkhianati akal sehatnya. Atau mungkin, sebetulnya akalnya memang tak pernah sehat dan sakit-sakitan. Makanya mereka berani main belakang. Soalnya, mana ada orang akalnya sehat tapi kelakuannya mahiwal. Seperti cerita yang datang dari sebuah tanah. Tanah yang jauh dari pantai tapi yang dekat dari gunung. Te...

Tak Perlu Gamang

  Gelombang Dalam hidup akan selalu ada; gelombang. Besar atau kecil, riak-riak atau menggebu-gebu, pelan atau meraung-raung. Ia akan selalu ada. Di sana. Menantang setiap manusia. Menguji keyakinan setiap orang. Dengan cara paling ganas. Gelombang akan selalu di sana. Tapi tak hanya menantang dan menguji kerjanya. Ia ada di sana juga merupakan diri sebagai wadah. Yang punya hati luas. Yang punya perasaan lega. Yang punya kebaikan tak berujung dan mampu menampung apa pun. Sedih, bahagia, susah, gembira, sulit, senang. Apa pun akan ditampungnya. Apa pun ia wadahi. Tak akan pilih kasih. Malah akan selalu memberi kasih. Hidup tanpa gelombang. Kamu hanya akan diam. Tak akan ke mana-mana. Akan jalan di tempat. Tak pernah jauh. Tak mungkin sampai menjelajah. Gelombang akan mendorongmu maju. Untuk selalu bergerak. Untuk senantiasa berlayar. Untuk tak pernah takut mengarungi kehidupan. Ada kemungkinan kamu akan tenggelam—memang. Tapi itu justru membuktikan kalau langkahmu maju. Baha...

Di Sepanjang Hidup yang Pendek

  D ari mana asal? Aku lelaki yang lahir di Selatan. Lahir dari rahim laut. Ibuku gelombang sedangkan bapakku karang yang tangguh. Aku dibesarkan dalam kasih sayang layung yang membara. Setiap pagi kudapati sarapan menyantap langit. Setiap siang aku mengaso mengisi tenaga menenggak angin sepoi-sepoi di bawah deretan rindan g tangkal ketapang. Setiap sore aku bersemadi bersama gerombolan mega-mega yang digembalakan Jibril. Di Selatan tak perlu setelan. Sehari-hari aku hanya pakai kolor tanpa baju. Malah di waktu-waktu tertentu telanjang saja sudah biasa. Kala sedang membaca gulungan ombak yang berisi hikayat para nelayan, misalnya. Atau kala sedang menabur benih padi di bawah laut bersama arwah orang-orang yang mangkat dipanggil samudera. Banyak kalau disebutkan satu per satu. Satu lagi barangkali, juga kala memancing bersama Jibril di dekat muara Cipasarangan yang biasanya dilanjut botram sekalian. Aku senang jadi anak Selatan. Terutama karena kemampuan fisikku di atas rata...