Postingan

Di Sepanjang Hidup yang Pendek

  D ari mana asal? Aku lelaki yang lahir di Selatan. Lahir dari rahim laut. Ibuku gelombang sedangkan bapakku karang yang tangguh. Aku dibesarkan dalam kasih sayang layung yang membara. Setiap pagi kudapati sarapan menyantap langit. Setiap siang aku mengaso mengisi tenaga menenggak angin sepoi-sepoi di bawah deretan rindan g tangkal ketapang. Setiap sore aku bersemadi bersama gerombolan mega-mega yang digembalakan Jibril. Di Selatan tak perlu setelan. Sehari-hari aku hanya pakai kolor tanpa baju. Malah di waktu-waktu tertentu telanjang saja sudah biasa. Kala sedang membaca gulungan ombak yang berisi hikayat para nelayan, misalnya. Atau kala sedang menabur benih padi di bawah laut bersama arwah orang-orang yang mangkat dipanggil samudera. Banyak kalau disebutkan satu per satu. Satu lagi barangkali, juga kala memancing bersama Jibril di dekat muara Cipasarangan yang biasanya dilanjut botram sekalian. Aku senang jadi anak Selatan. Terutama karena kemampuan fisikku di atas rata...

Kita Tak Perlu

  SIANG-SIANG begini harusnya kamu tengah bersiap tidur setelah salat zuhur dan sedikit ngemil sambil mendengarkan lagu-lagu picisan serta membaca beberapa paragraf tulisan di sosmed, atau mungkin sambil membayangkan bagaimana jika kamu tertidur dan bangun-bangun ternyata sudah berada di depan Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Tapi siang ini kamu sedang berada di sebuah ruangan yang walau dikepung pendingin tapi rasanya tetap saja tubuhmu bergolak mendidih. Di hadapanmu kertas berlipat-lipat berisi soal-soal menunggu diisi. Kamu dikelilingi orang yang sama, orang-orang yang sedang menghadapi kertas berlipat-lipat berisi soal-soal yang kudu dikerjakan. Matamu kembali lagi, menatap tajam lipatan kertas di hadapanmu. Tanganmu terlatih membuka lipatan-lipatan kertas. Perlahan sembari mengamati maksud dari semua itu. “Apa-apaan ini?” Keringat tergelincir dari keningmu, menabrak meja. Padahal selama nyaris empat bulan kamu sudah mempersiapkan diri untuk hari ini. Kamu sudah banyak...

Belajar Berhitung

Kamu tersesat di hutan, dan aku adalah ular yang menemanimu. Layung itu indah, katamu. Terasa hangat di musim yang mulai dingin. Semakin benderang di tengah sore yang perlahan dipeluk malam. Kamu tak jadi melangkahkan kaki. Kita berdua mematung sejenak. Memandangi layung itu. Seolah-olah hendak mengucapkan terima kasih karena telah menutup hari dengan magis. Meski tak saling berkata tapi kita sama-sama tahu. Sebenarnya kalau bisa, kamu dan aku masih ingin menghabiskan separuh usia di sana. Kamu dan aku masih ingin membaringkan diri di atas sore yang hangat sampai kata-kata dan kalimat habis dicerna. Namun itulah indahnya hidup. Karena terbatas, maka segalanya jadi indah. Hal yang sesaatlah yang akan dipenuhi makna. Kesementaraanlah yang akan membuatnya berarti. Tak heran mengapa kita akan selalu jatuh cinta kepada yang fana. Lantas kamu mengeluarkan hapemu. Ingin mencoba mengabadikan keindahan yang sesaat itu. Hendak menangkap kesementaraan itu. Tapi bahkan hape cerdasmu itu tak ...

Catatan Pementasan

Sandiwara Akan Berakhir Tiga Episode. Si badut melangkah setengah berlari. Sambil sesekali menabrak dinding dan bebatuan. Ia sering terbentur. Merasa kesakitan. Kesakitan yang membuatnya terjebak dalam dua dimensi; dirinya dan orang lain. Kadang ia sadar dan bisa membedakan dengan baik kedua dimensi itu. Tapi seringnya hal itu membuat dirinya kesulitan menemukan dan menapaki realitasnya sendiri. Ia terombang-ambing di antara realitas dirinya dan orang lain. Begitulah hidupnya. Itulah dunia yang dihadapinya. Dunia yang membuatnya berpikir, “Lama-lama kok pusing juga ya…” Kedai Kopi. Demikianlah lakon sandiwara monolog dibuka. Sebuah sandiwara yang barangkali bisa dikatakan mahiwal . Karena tak sebagaimana biasa, sandiwara ini dipentaskan di sebuah kedai kopi. Tentu bukan tanpa alasan. Dalam obrolan santai, Baharzah Martin yang bertindak sebagai Eksekutif Produser berkata begini: “Sekarang orang kan mengenal teater sebagai kesenian yang eksklusif. Selalu dipentaskan di gedung-gedun...

(Bukan) Khotbah Nik—ah

  Ijab-Qobul Ini sudah entah keberapa kalinya aku datang ke sebuah pernikahan seorang diri. Kedua puluh atau ketiga puluh kali, mungkin? Entahlah. Dan setiap kali aku mendatangi pernikahan selalu muncul ketakutan: takut ditanya, “Kapan nyusul?” Seolah-olah dunia hanya berputar soal pernikahan, berkembang biak, dan soal menjaga keturunan. Tapi itu dulu. Sebelum aku sadar kalau pertanyaan semacam itu tak perlu diseriusi jawabannya dan tak perlu dipikirkan bagaimana cara menghadapinya. Maka ketika kemarin beberapa ibu-ibu dan nenek-nenek melemparkan pertanyaan “kapan nyusul”, aku kalem menjawab, “Doanya saja.” Dan itu begitu mujarab. Tak ada pertanyaan lanjutan. Tak ada nasihat yang tak perlu. Setiap pernikahan selalu memberiku perasaan sakral dan rawan. Sakral karena itu hanya akan bermakna jika dilakukan sekali seumur hidup, dan rawan karena aku mengerti menjalani hidup dengan pasangan yang sama sampai almarhum butuh energi dan mentalitas jempolan. Oleh karena itu aku selalu e...

Perang, Gula, dan Manisnya Anggur.

  Palestina dan Israel semakin memanas. Perang berkobar. Dunia berkoar. Orang-orang berdebar. Seorang zionis dibunuh. Puluhan muslimin dibunuh. Ratusan zionis dibunuh. Ratusan ribu muslimin dibunuh. Jutaan anak-anak, perempuan, dan manula dibunuh. Sehar i-hari sarapan tangis. Orang yang puasa berbuka dengan jeritan. Kurma diaduk dengan air mata… . Tuan dan Nyonya, belajar logika sudah sampai mana?* Di atas kertas, perang memang mematikan sekaligus bikin melarat. Tapi, meski begitu. Katanya, justru gulalah dan bukan perang yang paling lihai soal ihwal membunuh. Setiap tahunnya, korban gula lebih banyak daripada korban perang. Perang memang ada di mana-mana. Ada di setiap benua, terjadi di setiap negara, melintasi segala gunung dan samudera. Namun begitu pun gula. Ia juga ada di mana-mana. Ada di setiap benua, tersebar ke segala negara, mengepung setiap penjuru mata angin. Bahkan, ia bisa merasuk ke dalam skala kehidupan paling kecil. Lagi, saking canggihnya, ia bisa merasuk ke...

Boa Hancock dan Proses Menghapus Trauma

“Tidak peduli ada jutaan orang menyalahkanmu, aku tetap percaya pada air mata wanita!” –Kuro ashi no Sanji. Di dunia bajak laut, barangkali Boa Hancock merupakan satu-satunya perempuan yang paling digdaya sekalligus cantik. Tak bisa dipungkiri. Terdapat banyak perempuan cantik yang bermunculan dan berpetualang di lautan. Entah itu di Grand Line atau di Dunia Baru. Sebut saja yang pertama adalah Makino, pemilik-pelayan Bar Partys tempat Akagami no Shanks dan kru berlabuh. Kemudian tentu saja ada kru Mugiwara no Ichimi atau Bajak Laut Topi Jerami, yakni Nami dan Nico Robin— Nami-swannnn… Robin-cwannnn…. Lalu ada Nefertari Vivi putri Kerajaan Alabasta, Kozuki Hiyori anaknya Kozuki Oden, Jewelry Bonney, cinta pertama Roronoa Zoro yakni Shimotsuki Kuina, Charlotte Puding anak dari Yonkou Charlotte Linlin atau Big Mom. Di Angkatan Laut ada Tashigi dan Hina. Ada juga Monet dan Baby 5 anak buah Donquixote Doflaminggo alis Joker. Atau Koala, salah satu dari pasukan revolusioner yang kucu...