Postingan

Perang, Gula, dan Manisnya Anggur.

  Palestina dan Israel semakin memanas. Perang berkobar. Dunia berkoar. Orang-orang berdebar. Seorang zionis dibunuh. Puluhan muslimin dibunuh. Ratusan zionis dibunuh. Ratusan ribu muslimin dibunuh. Jutaan anak-anak, perempuan, dan manula dibunuh. Sehar i-hari sarapan tangis. Orang yang puasa berbuka dengan jeritan. Kurma diaduk dengan air mata… . Tuan dan Nyonya, belajar logika sudah sampai mana?* Di atas kertas, perang memang mematikan sekaligus bikin melarat. Tapi, meski begitu. Katanya, justru gulalah dan bukan perang yang paling lihai soal ihwal membunuh. Setiap tahunnya, korban gula lebih banyak daripada korban perang. Perang memang ada di mana-mana. Ada di setiap benua, terjadi di setiap negara, melintasi segala gunung dan samudera. Namun begitu pun gula. Ia juga ada di mana-mana. Ada di setiap benua, tersebar ke segala negara, mengepung setiap penjuru mata angin. Bahkan, ia bisa merasuk ke dalam skala kehidupan paling kecil. Lagi, saking canggihnya, ia bisa merasuk ke...

Boa Hancock dan Proses Menghapus Trauma

“Tidak peduli ada jutaan orang menyalahkanmu, aku tetap percaya pada air mata wanita!” –Kuro ashi no Sanji. Di dunia bajak laut, barangkali Boa Hancock merupakan satu-satunya perempuan yang paling digdaya sekalligus cantik. Tak bisa dipungkiri. Terdapat banyak perempuan cantik yang bermunculan dan berpetualang di lautan. Entah itu di Grand Line atau di Dunia Baru. Sebut saja yang pertama adalah Makino, pemilik-pelayan Bar Partys tempat Akagami no Shanks dan kru berlabuh. Kemudian tentu saja ada kru Mugiwara no Ichimi atau Bajak Laut Topi Jerami, yakni Nami dan Nico Robin— Nami-swannnn… Robin-cwannnn…. Lalu ada Nefertari Vivi putri Kerajaan Alabasta, Kozuki Hiyori anaknya Kozuki Oden, Jewelry Bonney, cinta pertama Roronoa Zoro yakni Shimotsuki Kuina, Charlotte Puding anak dari Yonkou Charlotte Linlin atau Big Mom. Di Angkatan Laut ada Tashigi dan Hina. Ada juga Monet dan Baby 5 anak buah Donquixote Doflaminggo alis Joker. Atau Koala, salah satu dari pasukan revolusioner yang kucu...

September Sebelum Sirna

“Apakah kamu menikah karena cinta yang penuh gairah atau tanpa cinta sama sekali—apakah itu penting?” 3 Tahun–Anton Chekhov. Aneh. Mendadak wajahmu mengepung setiap hendak tidur. Minggu-minggu ini. Sebenarnya sudah lama tapi baru kusadari akhir-akhir ini. Semua tiba-tiba. Kejadian banyak yang tak terduga. Namun bukankah hidup memang begitu? Selalu tak bisa ditebak. Mesti penuh kejutan. Selalu menyuguhkan hal-hal tak terduga. Termasuk wajahmu itu. Padahal belum lama mengenalmu tapi rasanya sudah begini. Aku merasa kita sudah saling mengenal sejak sedari lama. Sudah seperti anggrek yang lengket di pohon mangga; sulit dipisahkan dan kalaupun bisa, salah satunya akan meranggas. Padahal, padahal kita tak pernah menghabiskan waktu bersama kecuali pada sore itu. Sore yang—kalau dipikir-pikir—lucu juga. Tentang hal-hal yang belum selesai. Aku mengerti. Sangat, sangat mengerti. Bukan hal mudah melupakan pengalaman-pengalaman pahit, kenangan-kenangan manis, dan mimpi-mimpi yang sudah dir...

Tapi...

  Aku bingung. Apa yang harus kukatakan. Tak terpikir. Apa yang harus kutuliskan. Tak terbayang. Soalnya kejadiannya teramat mendadak. Hanya ada angin, tak ada hujan. Tahu-tahu kejadian. Tahu-tahu terjadi. Malam yang teramat dingin. Jiwa yang teramat sunyi. Ke manakah aku kudu berlari? Padahal sudah enak rasanya. Hati tenang jiwa tentram. Nyaris dua tahun aku merasakannya. Lahan yang tak lagi tandus. Kehidupan yang perlahan hijau. Betapa. Betapa aku begitu menikmatinya. Tak ada sedikit pun penyesalan. Yang ada hanya tubuh yang mekar dengan bunga-bunga. Hanya ada kebahagiaan. Kehidupan yang selama ini ada di dalam kepalaku. Tapi bukan hidup namanya kalau tak menghidangkan kejutan di meja makan. Tiba-tiba saja kau mengakuinya. Tiba-tiba saja kau menceritakannya. Tiba-tiba saja kau mengeluarkan segalanya. Menyodorkannya ke hadapanku sebagai hidangan musim kering. Menyajikannya ke depan mataku sebagai perjamuan musim hening. Segalanya serba tiba-tiba. Mendadak. Tapi mungkin sekalig...

Ngising

  Aku benci saat terpaksa kudu ngising di wc umum. Aku benci sekali. Menyebalkan rasanya. Tapi yang namanya sudah terpaksa, mau tak mau aku kudu menuruti kemauan pencernaanku. Karena kalau tidak bisa-bisa repot urusan. Nanti malah kentut di mana saja. Paling buruk, kentut di dalam bis ekonomi dengan penumpang berjejalan bercampur bau keringat dan bau ketiak dan bau mulut dan bau asap rokok. Ampun! Berak di wc umum, sekali lagi, rasanya menyebalkan. Pertama karena keadaan wc umum selalu begitu, kumuh. Seperti tak pernah diurus. Coretan sembarang di sana-sini, sampah tisu dan plastik bergoler sekehendaknya. Belum lagi kalau ada pembalut yang masih menyisakan bekas darah. Mending darahnya sudah kering tapi kalau masih basah? Waduh, keterlaluan rasanya. Melihatnya bikin enek. Dan sekarang aku terpaksa kudu berak di wc umum, lagi-lagi. Aku baru saja turun dari bis, di terminal yang sesak oleh selain kendaraan juga calo dan pedagang asongan. Beberapa terminal bis memang sudah agak ...

Kalimat-kalimat Pagi Hari

  Pagi-pagi begini aku tak tahu apa yang kudu kulakukan. Apa, ya? Soalnya ngajar tak setiap hari. Hanya hari Jumat. Maksudnya ngajar pagi. Siang pun juga sama saja sih. Tak setiap hari. Tapi harusnya itu bukan alasan. Kudunya setiap pagi aku punya kegiatan. Biar bawaannya tak mengantuk. Biar setidaknya, bisalah dikatakan produktif. Seenggaknya ada sesuatu yang bisa jadi rutin untuk dikerjakan. Apa saja tak masalah. Aku sih inginnya, kalau ada tanaman, pagi-pagi ya menyiram tanaman. Ada sih tanaman di sini, tapi sudah disiram masing-masing oleh yang punya. Kalau beli tak ada uang. Sayang juga daripada dipakai beli tanaman atau kembang mending dipakai beli rokok atau sarapan. Tapi kalau sengaja menabung beli tanaman pun sebenarnya bisa. Jadi setiap hari kelak aku akan menyiramnya di pagi hari. Lantas, setelah itu apa? Pagi kan panjang? Celaka. Celaka. Kalau mencuci. Tak mungkin juga setiap hari aku mencuci. Lagi pula jadwal mencuciku juga sudah ada. Setiap sehabis latihan otot ...

Air Seni

  Apa yang jadi masalah kemudian tak pernah benar-benar terselesaikan. Sebenarnya, apa yang jadi permasalahan juga belum ketemu apa. Memangnya apa masalahnya? Apa persoalannya? Mengapa kesenian bisa serumit ini? Mengapa karya tak pernah benar-benar bisa bebas dari motif-motif si pengkarya? Waduh… Sudah cuaca dingin, kering, kudu lanjut melamunkan hal semacam ini. Hal yang barangkali tak perlu-perlu benar dipikirkan walau penting. Apa hal penting memungkinkan untuk tidak benar-benar dipikirkan? Sepertinya seru juga kalau dicoba. Memutuskan segala hal penting tanpa banyak pertimbangan. Soalnya, timbangan kadang ngaco, apalagi jika gratisan. Kalau memang mau benar-benar menimbang, dengan kadar dan takaran yang tepat, sepertinya kudu meminjam timbangan ke malaikat di akhirat sana. Kupikir hanya itu satu-satunya cara, satu-satunya jalan yang bisa ditempuh. Masalah, masalah. Lari ke mana pun kau akan dikejarnya. Makanya daripada lari sudah bagus berdiri saja meski babak belur. Hada...