Postingan

Segala Puji Hanya

  Asbak di atas meja. Penuh punt u ng dan daun kelapa bekas bugis. Kertas berjejal juga di perutnya. Seakan mau muntah tapi tanggung sebentar lagi . Tisu mengamatinya. Santai saja sedari jauh. Tak bereaksi kecuali hanya mengamati. Tak hanya asbak yang diamatinya. Tapi juga g elas yang mengandung kopi setengah. Termos air yang isinya tandas. Kue bolu dan kaleng bekas susu tujuh kurma. Apa itu gambaran sempurna dari lebaran? Di depan rumah orang-orang banyak hawu menyala. Ada yang sedang memasak air. Ada yang sedang merebus sayur-sayuran. Ada yang sedang memasak berbagai camilan. Asap membubung ke udara. Bercampur panas matahari yang perlahan menyengat. Untung saja banyak pohon ditanam di depan rumah. Lumayanlah efeknya agak bisa dikurangi. Tidak panas tapi teduh masih jauh. Di kursi depan rumah. Orang-orang berkumpul. Sembari menyesap teh atau kopi. Sambil menghisap rokok kalau yang nongkrong bapak-bapak atau seorang pemuda. Nyaris rata. Mereka semua pasti merokok sigaret kre...

Untuk Fitri

  Puji puji dikumandangkan. Suara-suara berhamburan. Cahaya berpendaran. Luhur tak terkejar. Pada keyakinan yang ragu. Ada lorong menuju ruang. Pengampunan. Penyucian. Semua mengantre menunggu giliran. Untuk ditanya; apa sudah anjing-anjingnya diberi makan, apa sudah tanaman-tanamannya disiram, apa sudah kewajiban-kewajibannya ditunaikan. Zakat fitrah bagaimana? Angpau sudah disiapkan? Sudahkah nyali ditimba buat besok membasuh kaki orang tua? Malam merangkak pekat, tentu. Hening menusuk udara, sudah biasa. Apa masih ada dari kita yang lantang menegakkan ego? Atau, sudahkah kita eling dan menuntun kaki-kaki untuk menjemput kebesaran di seberang sana? Kulihat anjing-anjingku sedang gegoleran sambil menikmati tulang sisa opor . Wajahnya ceria. Hatinya bungah. Gerak-geriknya semringah. Ada pendar dari mata mereka. Apa kami juga berhak menjemput kebesaran di seberang sana? Mereka mengerti. Sebenarnya juga mafhum. Segala makhluk punya hak. Kewajiban juga menempel dal...

Lailatul Kopdar

  Haji Ahmadun masih rajin saja itikaf di masjid. Masih istiqomah. Masih getol. Saat ditanya kenapa, “Jibiril dan ribuan malaikat masih belum datang, Jang!” jawabnya. Di masjid tindak-tanduknya memanglah jempolan. Setiap malam sehabis tarawih selepas menenggak bergelas-gelas teh tawar dan mengunyah berjuz-juz al-qur’an, Haji Ahmadun sigap membereskan membersihkan masjid. Piring-piring bekas jajabur dicuci dibereskan dirapikan ditata rapi di tempat penyimpanan piring. Gelas-gelas bekas berliter-liter teh tawar dicuci dibereskan dirapikan ditata rapi di tempat penyimpanan gelas. Sampah plastik, daun pisang, sedotan, dibererskan dibuang dibakar di tempat sampah. Karpet disapu dari debu. Lantai dipel dari kotoran. Kalau sudah beres Haji Ahmadun pulang ke rumah sebentar. Biasanya jam sembilan. Guna menunaikan kewajiban di ranjang. Jika tidak begitu, semalaman kepalanya akan migrain dan bawaannya selalu rungsing. Sejam berlalu dan ia kembali suci. Mandi besar tuntas. Haji Ahmadun...

Resi

  Kecuali jika aku mati barangkali mimpi-mimpi tentang dia barulah benar-benar mati. Meski sebenarnya aku pun masih meragukannya. Diam-diam dia menyelinap ke dalam tidur yang dingin. Perlahan tubuhku yang dibebat selimut ditanggalkannya satu per satu. Aku telanjang akhirnya. Dan sunyi memasukiku sebagai angin kesepian. Bagaimanapun aku tak berontak. Malah sejujurnya tak menggerakan sedikit pun tubuhku. Aku hanya diam menikmatinya. Menikmati siksaan itu lagi. Menerima segalanya hingga selesai. Aku datang ke sebuah rumah. Menemukan seorang nenek tengah terkapar seperti sekarat. Ternyata nenek itu bukan seperti sekarat, tapi memang benar-benar sedang sekarat. Setelah kutanya pada si pemilik rumah, ternyata si nenek sekarat akibat suatu penyakit. Aku pun tak tahu persis penyakitnya itu. Penjelasan dari si pemilik rumah tak begitu aku mengerti. Aku tak sendiri datang ke situ. Ada seseorang menemaniku yang aku lupa siapa. Mungkin kawan dekat dari masa depan? Atau keluarga yang kebe...

Malam yang Lain

  Apa kamu sehat? Baik-baik saja di sana? Tak kurang suatu apa, kan? Kamu pasti sudah tahu, gubernur yang dulu dipuji kini lebih sering dicaci. Bukan karena orang-orang sepaneng dan menjadi jahat. Tapi karena dia memang layak mendapatkannya. Aku pikir sudah hilang cergas dan bijaksananya. Dalam dirinya yang rentan, rawan, kini tertanam banyak ranjau jebakan. Banyak kere jadi korban. Banyak gembel dibuatnya makin susah. Banyak orang kecil dipaksa menelan janji-janjinya yang sepahit buah maja. Aku tak munafik. Dulu sempat suka pada dirinya. Dengan legegnya yang luwes. Dengan pembawaannya yang seperti landak bisa masuk ke mana saja. Dengan kepiawaiannya membahagiakan orang-orang. Meski begitu, dulu aku sih suka menduga, sayang. Kalau di depan sana dia bakal jadi seperti kebanyakan politikus. Walau rasanya sulit dibayangkan. Karena dia yang muncul ke permukaan adalah dia yang saleh. Dia yang sayang emaknya. Dia yang garis keturunannya adalah penggede-penggede zaman baheula....

Ritual Menyembah Februari

  Tak ada yang tak enak. Sebelum mencobanya tak akan pernah tahu. Tak akan pernah merasakannya. Apakah itu enak atau tidak. Apakah itu menyenangkan atau tidak. Apakah itu mengandung tangis atau bahagia. Hanya perlu berani. Berani maju ke depan. Berani mencoba. Berani mengambil risiko. Berani menghadapi konsekuensi. Terlebih berani terluka. Segala hal selalu begitu. Apa pun itu. Mau tahu bulat atau susu bulat. Mau gitar bengkung atau bodi seksi. Mau air keruh atau bening. Tak ada jaminan sebelum dicoba. Tak akan pernah tahu sebelum dibuktikan. Tak akan pernah terbukti sebelum terluka. Maju saja langkahkan kaki. Berdiri sembari genggamlah nyali. Bisa melakukannya. Berani menerima apa pun rasanya. Rela menerima apa pun hasilnya. Tak perlu pedulikan apa pun. Tak ada motor tanpa nyali. Tak ada mobil tanpa kenekatan. Tak ada pesawat yang diterbangkan seorang pengecut. Hanya yang berani yang akan maju. Hanya yang berani yang akan terus berjalan. Hanya yang berani yang akan terus terba...

Di Jalan 65

  Perjalanan demi perjalanan. Mimpi demi mimpi. Langkah demi langkah. Sudah sejauh ini dan segalanya menjadi sedekat ini. Banyak lubang di sana. Banyak tikungan berliku. Banyak jalan semakin licin dan curam. Mimpi demi mimpi semakin jauh terlihat di atas sana. Mengapung, berderet, menampakkan dirinya sebagai mega-mega yang subur. Mega-mega yang siap ditanami cita-cita dan harapan. Mega-mega yang siap mengubah doa-doa menjadi kenyataan yang selalu mekar. Tak peduli musim sedang beranjak ke mana tapi kenyataan akan selalu mekar dengan indah, dengan cantik, dengan memukau. Banyak doa memang sering berguguran. Karena dihantam angin kencang. Karena dilanda kekeringan. Terutama karena dikepung keragu-raguan. Namun doa-doa tak berguguran sia-sia. Mereka yang gugur memang mati, tapi setelah itu mereka menjadi pupuk yang menumbuhkan seribu doa-doa. Sepuluh ribu doa-doa. Seratus ribu doa-doa. Hingga bermiliaran doa-doa dan bahkan mungkin triliunan doa-doa. Triliunan doa-doa akan mekar lagi s...