Postingan

Kematian di Ruang Tamu

Gambar
  Kematianku telah kurencanakan sedari jauh-jauh hari, persisnya sejak dua puluh lima tahun yang lalu setelah kelahiranku. Aku begitu bahagia mengetahui bahwa sebentar lagi, sebentar setelah aku selesai bercerita, kematian telah siap buat menjemputku. Ia tengah menungguku di depan, tapi ia datang kepagian, lupa bahwa ruhku baru dapat ia renggut nanti pada pukul tujuh lebih tiga belas malam. Oleh karena aku merasa tak enak, dan kasihan juga kalau ia kusuruh pulang karena tempatnya lumayan jauh serta akan banyak memakan waktu di perjalanan, lantas sekalian kujamu saja ia. Aku menawarkan padanya buat menunggu di beranda, biar sembari menunggu ia bisa sekaligus menikmati sepoi-sepoi angin sore, dan kalau beruntung, ia bisa menyaksikan indahnya layung menjelang maghrib. Tapi ia mengelak tak mau dengan dalih bahwa, aku malu kalau nanti tetangga melihatku sedang enak-enakan mengaso padahal aku telah begitu terkenal karena tak memiliki belas kasihan. Itu akan merusak reputasiku, tegasnya. ...

Tuan De Jong, Teh dan Ajax Amsterdam

Gambar
  Hidup terasa seperti pengantin baru ketika menjelang mata hendak terpejam. Begitu menggiurkan, menggelora dan penuh cinta. Aku berkelana entah ke Leiden untuk berkuliah mengambil Jurusan Studi Asia dan Asia Tenggara. Di Leiden, aku bertemu sekaligus bercampur dengan segala rupa manusia ciptaan Gusti Allah. Aku punya satu teman akrab, namanya De Jong dari Amsterdam. Sesekali kadang aku diajak buat mengunjungi rumahnya untuk sekadar makan malam atau melampiaskan kejenuhan dengan bermain playstation, atau pergi ke stadion menonton klub kebanggaan kota Amsterdam yaitu Ajax bertanding. Kadang setelah makan malam atau setelah bermain playstation atau setelah menonton bola, seringkali bapaknya De Jong bercerita mengenai betapa inginnya ia pergi ke Indonesia. Sebab katanya dulu, ayahnya sering diceritakan oleh kakeknya yang adalah seorang sersan kopi di daerah Priangan bahwa Indonesia merupakan representasi vulgar surga di bumi. Dulu mungkin memang begitu Tuan, tapi sekarang segala ses...

Ibadah Cilaka

Gambar
  Terlalu banyak cita-citaku yang tak kesampaian, dan sialnya hanya satu yang tetap. Aku ingin menjadi ahli surga dengan hanya mengamalkan ibadah-ibadah yang tak perlu. Sebab begini, terlalu biasa orang-orang menggembleng diri supaya saleh dengan mengamalkan secara paripurna itu rukun islam atau rukun iman. Telah terlalu banyak, jalan itu terlalu padat , terlebih sesak. Banyak orang-orang terjebak pada hanya membaca syahadat, atau mendirikan solat, atau mengeluarkan zakat, atau melakoni puasa, dan ataupun menunaikan ibadah haji. Tak sedikit juga orang-orang yang bisanya hanya mampu percaya, cuma bisa mengimani Allah, rasul-rasul, malaikat-malaikat, kitab-kitab, hari akhir dan pada qadha dan qadar. Ibadahnya hanya sebatas itu, hanya sampai di situ. Ibadah semacam itu kebanyakan membuat orang-orang pada lalai dan abai tak ketulungan. Begitu terang buktinya. Sekarang, secara gamblang, di hadapan mata telanjang kita, segerombolan garong yang berisi orang-orang saleh merampok kita. ...

Upaya Menegur Tuhan

Gambar
    Apa aku terlalu berharap padamu, Tuhan?             Sebagai salah satu dari banyak makhluk yang Kau ciptakan, dan sebagai seorang manusia biasa, kadang aku bingung bagaimana caranya membuat hidup ini setidaknya terasa benar. Orang-orang soleh kerap berkhotbah bahwa biar tenang hidup ini maka selalulah kita mesti beribadah pada-Mu. Sebab tak lain mengapa manusia diciptakan adalah semata-mata untuk beribadah pada-Mu. Kalau aku boleh jujur, sebenarnya ucapan orang-orang soleh itu basi buatku , terlebih begitu membosankan. E ntahlah, bagiku kalau hidup hanya sekadar untuk beribadah tidakah itu justru terlalu mudah buat dikerjakan? Buktinya di dunia ini orang-orang soleh setiap harinya malah semakin bertambah saja daripada berkurang. Masjid-masjid selalu penuh, pesantren-pesantren semakin sesak, dan jangan lupa, ormas-ormas berazaskan islam berjamuran tak karuan.          ...

Mengenang Masa Depan

Gambar
  Mengapa kau mesti meratapi kehidupanmu yang berantakan itu? Hentikan semua itu. Bersihkan, dan jangan meratapinya. Bangun pagi, solat subuh, bereskan tempat tidur, sedikit berolahraga, siram tanaman, lalu mandi. Sikat gigimu, bersihkan seluruh tubuhmu. Sembari menunggu nasi matang berjemurlah dahulu, biar kulitmu sehat, biar tulangmu kuat. Biar hangat juga ke tubuh, kan? Ah ya, rambutmu juga nantinya akan segera kering. Tenggak kopi di tanganmu, dan hisaplah dalam-dalam rokok kretek di tangan kirimu itu. Maka nikmat mana lagi yang akan kau dustakan? Nah sekarang , b arulah kemudian kau berpikir.          Apakah mungkin segalanya terwujud hanya dalam satu tarikan nafas saja? Tarik nafasmu perlahan, tahan dan hembuskan. Segalanya kemudian menjadi nyata. Kau sedang menangis menghadap Ka’bah, disaksikan Tuhan. Ibu dan Bapakmu juga menangis, mereka di sampingmu. Kalian bertiga meminta ampun, kalian bertiga mengucap syukur, kalian bertiga mengecup hajar aswad...

Satu Jengkal Sebelum Subuh

Gambar
  Bagaimana bisa kau di surga sementara selama ini kau ber ada di dalam hatiku?          Jani, aku merindukanmu.   Begitu merindukanmu, sayang. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Ah Janiku, kuharap kau pun begitu. Mungkin itu pula sebabnya kau saban hari mengunjungiku dalam mimpi. Tapi naasnya aku tak memiliki kendali atas mimpi. Aku tak bisa berlama-lama di sana untuk menemanimu, berbincang denganmu, dan meluruhkan kerinduan kita. Andai saja aku bisa Jani, tapi saat ini keadaan tak memungkinkanku untuk melakukannya. Dari jauh, dan hanya dari jauhlah aku bisa mengingatmu, terlebih merindukanmu.         Jani, entah aku bingung mesti bagaimana menjelaskannya padamu. Aku telah berusaha semampuku untuk mewujudkan keinginanmu. Maafkan aku Jani. Segalanya menjadi semakin begitu rumit.   Bangun, tolol! Ini sudah dini hari dan kau masih saja belum membuka matamu apalagi otakmu. Makan dulu sana. Jangan karena ketololanmu itu ...

Mimpi Bulan Terang

Gambar
  Hari-hari semakin melambat, sementara waktu kian begitu kencangnya berlari. Untuk menemukan sesuatu yang berarti dalam diri, selain butuh keberanian untuk jujur pada diri , jangan lupakan bahwa manusia juga memerlukan waktu. Hanya saja waktu, alangkah begitu sulitnya untuk diajak berkompromi. Sial, dan sial. Apa benar kesuksesan akan datang kalau memang telah sampai pada waktunya? Mungkin ya, dan memang belum sekarang. Atau mungkin tidak? Atau mungkin manusia memang mesti berdarah-darah untuk mengupayakannya?       Materi, uang, dan rejeki, punya kedudukan yang begitu mulia pada kekaisaran waktu. Ia memerintah, ia mengatur, ia menghukum dan bahkan ia pun membunuh. Tak ada kuasa pada diri manusia, yang ada hanya naluri untuk mematuhinya. Manusia tak dapat mengendalikannya, ia hanya diberi tiga pilihan yaitu, untuk diam, bekerja , atau mati. Hari demi hari manusia habiskan untuk mengabdi padanya, seakan dunia hanya perihal tentangnya. Tapi mau bagaimana lagi, ke...